Anda di sini

Postingan Blog: Pertanian

  • Kebakaran Indonesia Membawa Semakin Banyak Kabut ke Asia Tenggara

    Gubernur provinsi Riau, Indonesia, mengumumkan status darurat minggu lalu ketika kabut asap tebal menyelimuti sebagian besar wilayah provinsi tersebut, mengakibatkan penutupan sekolah-sekolah dan bandara. Menurut pejabat lokal, lebih dari 22.000 orang telah terkena dampak masalah pernafasan – dan jumlah ini berpotensi bertambah jika angin membawa kabut asap tersebut ke wilayah yang berpopulasi lebih padat seperti Kuala Lumpur atau Singapura.

    Bagikan

  • Pilihan yang Sulit di antara Kelapa Sawit dan Hutan Indonesia

    Artikel ini pertama kali ditampilkan di Jakarta Post

    Kelapa sawit telah mencuri perhatian banyak orang. Di Indonesia, industri ini tengah berkembang, dengan $19,7 miliar ekspor minyak kelapa sawit mentah di tahun 2011. Namun mengembangkan perkebunan kelapa sawit telah mengorbankan hutan dan habitat alami lainnya di wilayah tropis, serta memicu sengketa lahan dengan masyarakat lokal.

    Para peneliti terbaik di dunia turut mempertanyakan kondisi tersebut. Menurut studi terbaru di Nature Climate Change, sejak 1990 hingga 2010, 90 persen lahan yang dikonversikan menjadi perkebunan kelapa sawit di Kalimantan merupakan wilayah hutan.

    Namun demikian, sesungguhnya, tidak ada yang perlu dikorbankan di antara kelapa sawit, hutan, dan masyarakat. Sangatlah memungkinkan untuk menanam lebih banyak bibit – termasuk kelapa sawit – sambil menjaga hutan dan menyejahterakan kehidupan masyarakat lokal.

    Bagikan

  • 2 Instrumen Baru yang dapat Mengurangi Deforestasi dan Mendukung Kelapa Sawit Berkelanjutan di Indonesia

    Apakah kelapa sawit dan hutan dapat hidup saling berdampingan? Ini merupakah isu yang saya dan rekan saya diskusikan beberapa waktu lalu. Saya senang untuk mengatakan bahwa kami baru saja membuat sebuah langkah maju untuk memastikan jawabannya adalah “iya”.

    Dalam pertemuan tahunan ke-10 Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), WRI mengeluarkan dua aplikasi pemetaan online baru yang dibuat untuk membantu industri kelapa sawit tumbuh sekaligus menghindari deforestasi. Instrumen gratis ini memungkinkan produsen kelapa sawit, pembeli, investor, dan badan-badan pemerintah mengidentifikasi dan mengevaluasi dengan mudah lahan-lahan terdegradasi di Indonesia yang cocok digunakan untuk mengembangkan perkebunan kelapa sawit. Dengan mengembangkan perkebunan kelapa sawit di lahan yang terdegradasi atau lahan dengan “cadangan karbon rendah”, pengembang dapat menghindari pembukaan hutan alami yang tersisa untuk memenuhi peningkatan permintaan global kelapa sawit.

    Bagikan

  • Penggunaan Lahan yang Terdegradasi untuk Kelapa Sawit yang Berkelanjutan di Indonesia: Pedoman Praktis

    Artikel ini disusun bersama Anne Rosenbarger, rekan POTICO di Sekala.

    Di Indonesia, para pembuat kebijakan dan pemimpin industri tengah mengembangkan praktik kebijakan untuk mendukung produksi kelapa sawit rendah karbon di “lahan yang terdegradasi”.

    Praktik-praktik kebijakan tersebut memiliki potensi yang memungkinkan pengembangan industri sekaligus menghindari emisi gas rumah kaca yang disebabkan oleh deforestasi. Hal tersebut dapat juga berkontribusi kepada pengurangan kemiskinan jika pengembangan industri mengikuti perencanaan dan praktik pengelolaan yang berkelanjutan, termasuk menghormati kepentingan dan hak-hak masyarakat lokal.

    Bagikan

  • Pendekatan Baru dalam Menyediakan Makanan bagi Dunia

    Postingan blog saat ini baru tersedia dalam bahasa Inggris

    This piece originally appeared in The Solutions Journal

    Can the current food production system feed a growing population in a changing climate while sustaining ecosystems? The answer is an emphatic “no.”

    A new approach is imperative and overdue, one in which the world feeds more people—an estimated 9 billion by 2050—with less ecological impact. To be successful, this new approach must address both how we produce and how we use food.

    Bagikan

  • Memulihkan Hutan Dunia Sambil Membantu yang Miskin

    Postingan blog saat ini baru tersedia dalam bahasa Inggris

    This piece originally appeared in The Guardian.

    Trees are being cut down for farming, but a new study shows that a lot of land already cleared could be used instead.

    "We are one shock away from a full-blown crisis," stated Robert Zoellick, the president of the World Bank, at a recent meeting of the bank and the IMF. He was referring to a critical increase in poverty, resulting from the escalating cost of food. The UN's food price index has risen 37% since March 2010. Basic cereal prices are up 60% over this period. Wheat is up 63%, and maize 83%.

    Bagikan

  • Memiliki Makanan Sekaligus Hutan

    Postingan blog saat ini baru tersedia dalam bahasa Inggris

    Expanding agriculture onto already degraded lands could relieve pressure on the world’s remaining forests.

    Enabling tropical countries to boost their economies and feed global populations while conserving forests and combating climate change is a developmental and environmental nut that has yet to be cracked. On Thursday, The Prince of Wales will gather international leaders from governments, environmental and social NGOs, agribusiness and finance sectors to highlight ways in which agricultural production can expand without causing further deforestation. One of them is revolutionary in its practicality - restoring degraded lands to absorb agricultural expansion.

    Bagikan

Tetap Terhubung

Dapatkan Nawala Kami

Dapatkan tulisan, kegiatan, publikasi, dan materi multimedia terbaru. Silakan berlangganan nawala WRI Indonesia yang terbit setiap bulan.