Anda di sini

3 Bagan Menjelaskan Salah Satu Peluang Paling Terabaikan dalam Menangani Perubahan Iklim dan Kemiskinan

Kebanyakan orang mengaitkan perubahan iklim dengan karbon dioksida, gas rumah kaca (GHG) yang berumur panjang. Namun, para peneliti memperkirakan bahwa hanya separuh pemanasan global yang terjadi di dunia saat ini diakibatkan oleh karbon dioksida (CO2). Sementara sebagian lainnya berasal dari polutan iklim berumur pendek yang tidak begitu dikenal tetapi berpotensi sangat kuat (SLCP) seperti gas metana, karbon hitam, hidrofluorokarbon (HFC) dan ozon troposferik. SLCP sangat berpengaruh terhadap suhu global dan sistem iklim, terutama dalam jangka pendek. Contohnya gas metana yang memiliki dampak pemanasan 86 kali lebih besar dibandingkan karbon dioksida dalam jangka waktu 20 tahun.

Dalam jangka pendek, langkah nyata yang cepat untuk mengurangi SLCP sangat penting untuk memperlambat laju pemanasan global dan menjaga kenaikan suhu tetap di bawah 1,5°C—sebuah ambisi yang disetujui semua negara sebagai bagian dari Persetujuan Paris dan salah satu target penting dalam memastikan terhindarnya masyarakat miskin dan rentan dari bencana iklim. Mengurangi SLCP juga dapat menyelamatkan nyawa serta memberikan berbagai manfaat bagi pembangunan berkelanjutan dan kesejahteraan umat manusia.

Terlepas dari manfaatnya, SLCP belum banyak diperhatikan dalam rencana iklim nasional negara-negara, yang dikenal dengan nama Komitmen Kontribusi Nasional (NDC). Makalah kerja yang diterbitkan oleh WRI/Oxfam hari ini menjelaskan alasan mengapa pengurangan SLCP seharusnya menjadi prioritas agenda aksi iklim dan pembangunan setiap negara, dan bagaimana NDC masing-masing negara dapat menghasilkan langkah yang efektif dan merata.

1) Dampak Polutan Iklim Berumur Pendek bagi Kesehatan dan Pertanian

Meskipun namanya terdengar asing, polutan iklim berumur pendek perlu menjadi perhatian kita semua. Polutan-polutan ini merupakan akibat dari cara kita mengonsumsi energi, makanan, kendaraan, dan pendingin ruangan.

SLCP yang mungkin paling dikenal, gas metana, berasal dari produksi minyak dan gas serta produksi beras dan ternak. Gas metana juga muncul dalam proses peluruhan sampah organik di tempat pembuangan sampah dan fasilitas pengolahan air. Sementara itu, ozon troposferik adalah produk turunan dari polutan udara lainnya, termasuk gas metana. Pembakaran biomassa untuk tungku masak atau pembakaran batu bara untuk tenaga listrik dan pemanas ruangan dapat menghasilkan karbon hitam. Kemudian ada HFC yang merupakan gas yang dikeluarkan dari sistem pendingin udara dan kulkas, di mana kedua produk ini sama-sama sedang populer, seiring dengan meningkatnya suhu dan pendapatan masyarakat di seluruh dunia.

SLCP yang biasanya dihasilkan dari produksi makanan dan kegiatan rumah tangga sehari-hari juga berpotensi merusak. Contohnya ozon troposferik yang berbahaya bagi kesehatan dan mengakibatkan hasil panen menurun serta karbon hitam yang meningkatkan risiko penyakit paru-paru dan jantung. Di tingkat global, para ahli memperkirakan bahwa pengurangan SLCP dapat mencegah setidaknya 52 juta metrik ton kerugian hasil panen per tahun dan sekitar 2,4 juta kematian dini akibat polusi udara di tempat terbuka setiap tahunnya pada tahun 2030.

Dengan demikian, pengurangan SLCP dapat memberikan banyak manfaat pembangunan berkelanjutan, termasuk pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan, peningkatan kesehatan, energi bersih, kesetaraan gender, dan terwujudnya kota berkelanjutan dalam jumlah yang lebih besar. Namun, pemerintah harus memastikan bahwa kebijakan yang diterapkan benar-benar memperhatikan kebutuhan masyarakat. Contohnya, emisi karbon hitam yang dihasilkan dalam kegiatan memasak dan memanaskan hanya bisa dikurangi jika tersedia bahan bakar yang lebih bersih dengan harga yang terjangkau. Akan tetapi, solusi tersebut harus mengalah di tengah isu budaya yang sensitif dan implikasi budaya terkait kegiatan memasak di suatu wilayah dan budaya tertentu agar manfaatnya dapat dirasakan oleh semua orang—terutama membuka peluang bagi wanita dan anak perempuan.

2) Kita Harus Mulai Mengurangi Polutan Iklim Berumur Pendek Sekarang Agar Tingkat Pemanasan Global dapat Ditekan di angka 1,5°C

Pengurangan SLCP juga berperan penting dalam menanggulangi perubahan iklim. SLCP sangat berpengaruh terhadap suhu global dan sistem iklim, terutama dalam jangka pendek. Meskipun berumur pendek, SLCP memiliki dampak yang besar dan saat ini terus diproduksi dari berbagai sumber. Penurunan SLCP yang signifikan dapat mencegah pemanasan sebesar 0,6°C pada pertengahan abad—permulaan yang penting dalam upaya untuk menjaga kenaikan suhu di tingkat 1,5-2°C, batas kenaikan suhu yang menurut para peneliti harus dijaga untuk menghindari dampak terburuk dari perubahan iklim. Nyatanya, jika kita tidak berfokus pada pengurangan SLCP, risiko pemanasan di atas 1,5°C semakin tinggi dan dapat memicu potensi titik kritis–titik berbahaya dalam sistem iklim yang tidak dapat diubah, tidak mungkin dipulihkan dan berpotensi berpengaruh besar terhadap masyarakat paling miskin dan paling rentan di dunia.

Bagaimana penanganan polutan iklim berumur pendek (SLCP) dan gas rumah kaca (GRK) berumur panjang secara cepat dapat memengaruhi peningkatan suhu global di abad ini?

Pada tahun 2020: Kita merasakan pemanasan sekitar 1°C di atas tingkat pra-industri

Pada tahun 2040: Hasil nyata dari tindakan cepat untuk mengurangi SLCP terhadap pembatasan kenaikan suhu global dalam jangka pendek mulai terlihat

Pada tahun 2060: Tanpa penurunan SLCP dan GRK berumur panjang yang signifikan, kemungkinan besar suhu global akan meningkat di atas 2°C pada pertengahan abad

Pada tahun 2080: Tindakan pengurangan SLCP dan GRK berumur panjang sangat penting dalam upaya untuk mencapai target suhu Persetujuan Paris

Pada tahun 2100: Dengan memperhitungkan arah kenaikan suhu dalam jangka pendek dan jangka panjang, terlihat jelas bahwa tindakan pengurangan SLCP sangat penting untuk diambil seiring dengan pengurangan GRK berumur panjang.

Catatan: Peningkatan suhu global relatif pada tingkat pra-industri
Sumber: Shindell dkk. (2017); Shindell (2018); CCAC (2017).

3) Negara-negara Perlu Menyertakan Tindakan Pengurangan Polutan Iklim Berumur Pendek dalam Rencana Aksi Nasional Perubahan Iklim Mereka

Meskipun mengurangi SLCP sangat penting, namun hal tersebut belum diperhatikan dalam NDC yang diajukan dalam putaran pertama sebagai bagian dari Persetujuan Paris tentang perubahan iklim. Banyak negara telah menetapkan target gas rumah kaca dan polusi yang mencakup beberapa SLCP, tetapi hanya sedikit yang mengidentifikasi target, tindakan atau kebijakan SLCP secara khusus.

Pada tahun 2020, negara-negara yang termasuk dalam Persetujuan Paris akan mengajukan NDC yang baru atau yang telah diperbarui. Mereka kini memiliki kesempatan untuk memasukkan dan meningkatkan langkah pengurangan SLCP dalam NDC mereka. Dengan demikian, kebijakan negara akan sejalan dengan tujuan utama Persetujuan Paris dan target suhu yang ditentukan. Inklusi dalam pendanaan dalam NDC terbaru juga dapat meningkatkan inisiatif pengurangan SLCP.

Dengan menangani SLCP, negara juga berkesempatan untuk sekaligus menangani Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) terkait polusi udara, kesehatan, ketahanan pangan dan pengentasan kemiskinan. Jika rencana pengurangan SLCP dihubungkan dengan tujuan pembangunan, solusi yang dihasilkan dapat dipastikan akan bermanfaat bagi masyarakat miskin. Dengan dihubungkan pada pembangunan, isu iklim dan polusi juga terasa lebih relevan dan nyata bagi masyarakat. Jika masyarakat merasa bahwa tindakan pengurangan SLCP akan bermanfaat bagi mereka, mereka akan memberikan dukungan politik bagi para pemimpin yang ingin menunjukkan komitmen yang lebih besar terhadap aksi iklim dan pembangunan.

Bagaimana Negara-Negara dapat Menanggulangi Polutan Iklim Berumur Pendek

Makalah kerja WRI/Oxfam yang baru diterbitkan hari ini menunjukkan berbagai pilihan yang dimiliki negara-negara dalam memasukkan target, kebijakan dan aksi terkait SLCP ke dalam NDC yang baru atau terbarukan, termasuk:

  • Memperluas lingkup dan cakupan NDC mereka agar mencakup semua GRK
  • Memasukkan target pengurangan emisi pada SLCP individu
  • Menyertakan kebijakan dan tindakan khusus terkait SLCP

Aksi nyata untuk mengurangi SLCP membuka peluang besar untuk menuai manfaat iklim dan pembangunan yang dapat langsung dirasakan, mengentaskan kemiskinan serta memastikan bahwa orang-orang yang tidak bertanggung jawab atas perubahan iklim tidak dibiarkan merasakan dampak perubahan iklim yang semakin parah.

Carni Klirs dan Beth Elliott juga berkontribusi pada kiriman blog ini.

Bagikan

Tambahkan komentar baru

Tetap Terhubung

Dapatkan Nawala Kami

Dapatkan tulisan, kegiatan, publikasi, dan materi multimedia terbaru. Silakan berlangganan nawala WRI Indonesia yang terbit setiap bulan.