Anda di sini

5 Peta Menunjukkan Pentingnya Masyarakat Adat dan Masyarakat Setempat bagi Lingkungan

Masyarakat adat dan masyarakat setempat merupakan salah satu penjaga lingkungan terbaik. Mata pencaharian dan kebudayaan mereka bergantung pada hutan, air bersih dan sumber daya alam lainnya, sehingga mereka memiliki motivasi tinggi untuk mengelola lahannya secara berkelanjutan.

Hari ini, LandMark, platform global pertama yang memetakan lahan yang dikuasai oleh masyarakat adat dan masyarakat setempat, merilis data baru mengenai simpanan karbon, hilangnya tutupan pohon, konsesi sumber daya alam, lokasi bendungan dan data lainnya yang menjelaskan lingkungan sekitar lahan-lahan ini. Sekarang, semua orang dapat melihat dan menganalisis kontribusi lingkungan masyarakat adat dan masyarakat setempat serta mengidentifikasi ancaman terhadap lahan tertentu dari mana saja.

Lima peta berikut menunjukkan pentingnya lahan adat dan lahan masyarakat bagi planet ini:

1) Masyarakat adat dan masyarakat setempat menguasai cukup banyak lahan dunia.

Lebih dari 50 persen lahan di dunia merupakan lahan masyarakat yang dikuasai bersama oleh masyarakat adat dan masyarakat setempat lainnya serta hampir seluruhnya dikelola berdasarkan aturan penguasaan adat. Peta di bawah ini menunjukkan lahan adat dengan warna oranye dan lahan masyarakat dengan warna biru di seluruh Amazonia serta membedakan lahan yang memiliki akta atau sertifikat tanah dengan warna yang lebih gelap. Lahan masyarakat dapat ditemukan di semua benua di seluruh dunia kecuali Antartika, dengan jumlah terbanyak berada di Afrika.

Masyarakat Adat dan Masyarakat Setempat Menguasai Cukup Banyak Lahan Dunia.

Akan tetapi, masyarakat adat dan masyarakat lainnya hanya memiliki hak legal atas sebagian kecil lahan yang mereka tempati. Bahkan, lebih sedikit lagi lahan mereka yang teregistrasi dan terdokumentasi oleh pemerintah. Akibatnya, lahan masyarakat dapat diambil oleh pemerintah, korporasi dan kelompok elit penguasa lainnya.

2) Lahan adat yang penguasaannya terjamin sering kali memiliki tingkat deforestasi yang lebih rendah daripada wilayah lainnya.

Cepatnya deforestasi menyumbang 80 persen emisi karbon Bolivia per tahun pada periode 2000-2010. Sementara itu, hilangnya kawasan hutan masih belum melambat. Para petani dan peternak terus membuka hutan, terutama di Provinsi Santa Cruz di Bolivia seperti yang ditunjukkan dalam peta di bawah ini, di mana produksi kedelai sedang meledak.

Masyarakat adat Guarayo di Bolivia memiliki penguasaan terjamin atas beberapa lahan leluhurnya.

Akan tetapi, tingkat deforestasi jauh lebih rendah di lahan adat yang diakui secara resmi. Laporan WRI terbaru menunjukkan bahwa tingkat deforestasi di Bolivia 2,8 kali lebih rendah di lahan adat yang penguasaannya terjamin, yaitu lahan yang secara sah diakui oleh pemerintah dan dilindungi dari ancaman luar dan perebutan klaim, dibandingkan dengan lahan lainnya. Dengan memberikan hak legal kepada kelompok adat atas lahan yang mereka tempati, Bolivia dapat mencegah emisi gas rumah kaca sebesar 8-12 megaton setiap tahunnya. Jumlah ini setara dengan jumlah emisi yang ditimbulkan oleh 1,7 juta kendaraan.

Manfaat ini tidak hanya terasa di Bolivia, namun juga di seluruh Amazon. Lahan hutan yang dikuasai secara adat mencatatkan tingkat deforestasi tahunan rata-rata 2-3 kali lebih rendah dibandingkan lahan lain dari tahun 2000 hingga 2012. Perlindungan lahan ini akan menghasilkan manfaat iklim, lingkungan dan ekonomi senilai miliaran dolar dalam 20 tahun ke depan.

3) Masyarakat adat mengelola sebagian cadangan karbon terbesar di dunia.

Penelitian menunjukkan bahwa lahan adat dan lahan masyarakat menyimpan sekitar 25 persen karbon di atas tanah di dunia. Oleh karena itu, lahan ini berperan penting dalam upaya global untuk menekan perubahan iklim. Sebagai contoh, suku Ikahalan di Filipina melindungi hutan leluhurnya secara turun-temurun. Alat analisis simpanan karbon baru LandMark memperkirakan bahwa pepohonan di wilayah Ikahalan, ditandai dengan garis biru dalam peta di bawah ini, rata-rata menyimpan 96 ton karbon per hektar dengan total hampir 3 juta ton karbon di seluruh wilayah mereka. Total karbon yang tersimpan di dalam lahan mereka setara dengan jumlah emisi gas rumah kaca tahunan dari 2,3 juta kendaraan berpenumpang.

Masyarakat Adat Ikahalan di Filipina Menyimpan Hampir 3 Juta Ton Karbon di Lahan Mereka, Setara dengan Emisi Tahunan dari 2,3 Juta Mobil.

Melalui data ini, LandMark dapat membantu masyarakat seperti Ikahalan mengakses sumber tambahan pendapatan melalui program konservasi hutan seperti REDD+ atau proyek penghitungan dan penyerapan karbon.

4) Bendungan membanjiri lahan adat dan lahan masyarakat.

Di seluruh dunia, proyek bendungan dan pembangkit listrik tenaga air mengakibatkan banjir di lahan-lahan yang dikuasai bersama, termasuk rumah dan pekarangan, perkebunan keluarga, taman pemakaman dan tempat-tempat sakral. Di Amazon, Brasil saja, lebih dari 80 bendungan besar sedang dalam tahap konstruksi.

Lahan Adat di Negara Bagian Mato Grosso dan Rondônia, Brasil Terancam Banjir dengan Adanya Lebih dari 100 Bendungan

Peta di atas menampilkan proyek yang dapat membahayakan sungai, merusak hutan dan menimbulkan permasalahan besar bagi masyarakat adat di negara bagian Mato Grosso dan Rondônia di Brasil. Di dua negara bagian ini, 20 bendungan besar sedang dibangun, 86 bendungan telah beroperasi dan 224 bendungan tambahan sedang diinventarisasi atau direncanakan.

5) Konsesi sumber daya alam semakin mengancam lahan adat dan lahan masyarakat.

Penambangan logam mulia seperti emas, tembaga dan seng merupakan ancaman luas bagi lahan adat, terutama di Amazon. Di Peru saja, pemerintah telah menyetujui 55.000 konsesi pertambangan dan eksplorasi yang mencakup lebih dari 18,5 juta hektar, sekitar 15 persen dari luas keseluruhan negara tersebut. Peta di bawah ini menunjukkan lahan adat Santiago de Chocorvos yang memiliki 95 konsesi di dalamnya. Penambangan ilegal, tidak ditunjukkan di peta, juga tidak terkendali dan mengancam kehidupan masyarakat setempat di seluruh Peru.

Masyarakat adat Santiago de Chocorvos di Peru telah bercocok tanam dan beternak di lahan mereka selama berabad-abad

Keuntungan jangka pendek yang didapatkan dari ekstraksi mineral sering menimbulkan penderitaan jangka panjang bagi masyarakat adat dan masyarakat setempat. Perusahaan-perusahaan membuka hutan dan mencemari saluran air sehingga mengurangi sumber daya yang mendukung mata pencaharian tradisional. Pembuatan akta tanah atas lahan masyarakat dan hak persetujuan atas dasar informasi awal tanpa paksaan (Free, Prior and Informed Consent; PIC) memberikan kemampuan bagi masyarakat untuk memberikan pendapatnya dalam pengambilan keputusan terkait tanah mereka dan memiliki peran penting untuk mencegah hilangnya ekosistem penting secara luas.

Perjuangan untuk Mendapatkan Pengakuan Resmi dan Jaminan Kepenguasaan

Peta adalah alat yang berguna untuk menunjukkan lahan yang dikuasai oleh masyarakat adat dan masyarakat setempat. LandMark menunjukkan dinamika lingkungan di mana lahan-lahan tersebut berada, baik manfaat yang dihasilkan ketika hak atas lahan tersebut terjamin maupun tekanan yang mengancam mata pencaharian pedesaan dan planet ini. Masyarakat-masyarakat tersebut dan pendukungnya dapat menggunakan platform ini untuk membantu melindungi hak atas lahan adat, menegosiasikan pembayaran yang adil untuk pemanfaatan lahan dan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang memengaruhi lahan dan mata pencaharian mereka.

Bagikan

Tambahkan komentar baru

Tetap Terhubung

Dapatkan Nawala Kami

Dapatkan tulisan, kegiatan, publikasi, dan materi multimedia terbaru. Silakan berlangganan nawala WRI Indonesia yang terbit setiap bulan.