Anda di sini

8 Persen Hutan Alami yang Tersisa di Dunia Mengalami Degradasi sejak tahun 2000

Tidak semua hutan diciptakan sama. Beberapa ekosistem hutan yang sangat vital di dunia merupakan wilayah alam liar yang belum tersentuh manusia yang dikenal sebagai “Bentang-alam Hutan Utuh (Intact Forest Landscape (IFL)).” Ekosistem tersebut memainkan peran yang sangat vital dalam menjaga keanekaragaman hayati dan regulasi iklim, serta menyediakan sarana-sarana vital seperti pemurnian air dan udara, siklus nutrisi, dan pencegahan erosi dan banjir.

Namun demikian pada saat yang bersamaan ekosistem tersebut berada dalam ancaman. Analisis terbaru mengungkapkan bahwa sejak tahun 2000, lebih dari 8 persen IFL dunia mengalami degradasi – wilayah seluas 104 juta hektar, atau tiga kali luas Jerman. Hal tersebut menunjukkan bahwa aktivitas manusia mengganggu 20.000 hektar hutan alami setiap harinya selama 13 tahun terakhir.

Greenpeace, University of Maryland, dan Transparent World, berkolaborasi dengan WRI dan WWF-Rusia, melakukan sebuah analisis menggunakan citra satelit untuk menentukan lokasi dan luas IFL yang tersisa di dunia. Saat ini, melalui Global Forest Watch, sebuah wadah pengawasan hutan online, para pengguna dapat melihat secara visual di mana saja wilayah-wilayah yang mengalami degradasi, melihat citra satelit dari wilayah tersebut, dan menilai apa yang menyebabkan degradasi tersebut.

Berikut ini, kami akan mengevaluasi kondisi IFL di dunia – serta apa dampak degradasi mereka terhadap kesehatan planet ini.

Apa yang Mendorong Degradasi IFL?

Banyak jenis aktivitas yang mendorong perubahan di hutan-hutan yang masih utuh, sementara pola perubahan berbeda-beda mengikuti letak geografis. Namun analisis yang kami lakukan mengungkapkan banyak wilayah yang tidak sepenuhnya kehilangan tutupan hutan. Sebaliknya, fragmentasi merupakan bentuk degradasi IFL yang paling sering ditemukan, bertanggung jawab terhadap hampir tiga per-empat total degradasi IFL di seluruh dunia.

Fragmentasi adalah pemecah-belahan IFL – bayangkan memotong kue menjadi dua ketimbang sekalian mengambil seluruhnya. Hal tersebut disebabkan oleh ekspansi penebangan hutan, aktivitas pembangunan dan pertambangan, serta infrastruktur yang mengikutinya seperti pembuatan jalan. Fragmentasi membuka wilayah hutan yang terpencil untuk eksploitasi lebih lanjut, termasuk peningkatan penebangan hutan dan konversi permanen untuk penggunaan lahan lainnya.


<p>Citra satelit mengungkapkan konstruksi jalan yang luas di Hutan Amazon Brazil yang mengakibatkan fragmentasi hutan yang berujung kepada degradasi (hijau muda) IFL (hijau tua). Foto dari Global Forest Watch.</p>

Citra satelit mengungkapkan konstruksi jalan yang luas di Hutan Amazon Brazil yang mengakibatkan fragmentasi hutan yang berujung kepada degradasi (hijau muda) IFL (hijau tua). Foto dari Global Forest Watch.


Fragmentasi IFL merupakan sebuah masalah karena potongan hutan yang lebih kecil dan terisolasi akan kehilangan spesies lebih cepat ketimbang potongan hutan yang lebih besar dan tidak terisolasi. “pulau-pulau” hutan kecil biasanya tidak dapat menopang kehidupan ekosistem dan keanekaragaman hayati seperti sebuah kontingen hutan dapat lakukan, bahkan jika total luas “pulau-pulau” hutan lebih besar dari luas kontingen hutan. Banyak spesies, terutama mamalia besar seperti gajah, singa, dan kijang, tergantung kepada jalur hutan yang luas dan tidak terputus untuk menjaga kehidupan populasi mereka.



Di manakah IFL yang tersisa di dunia berada?

Hampir 95 persen IFL terpusat di wilayah tropis dan belahan bumi utara. Hanya tiga negara – Canada, Rusia, dan Brazil – yang memiliki 65 persen IFL yang tersisa di dunia. Ketiga negara tersebut juga bertanggung jawab terhadap lebih dari setengah degradasi IFL, meskipun penyebab degradasi di setiap negara berbeda-beda – dari kebakaran yang disebabkan manusia dan penebangan liar di Rusia, hingga pembangunan infrastruktur jalan dan konversi pertanian di Brazil.

Di manakah IFL mengalami degradasi?

Degradasi berarti kualitas IFL dan kemampuannya untuk menopang fungsi ekologis yang kritis telah menurun. Analisis kami menemukan hasil yang mengkhawatirkan di seluruh dunia:

  • Meskipun wilayah subtropis memiliki jumlah IFL yang paling sedikit, hampir 30 persen dari total IFL tersebut telah mengalami degradasi dalam 13 tahun terakhir.
  • Degradasi wilayah IFL terbesar ditemukan di hutan di utara Kanada, Rusia, dan Alaska (47 persen), dan wilayah hutan tropis seperti Amazon (25 persen) dan Kongo (9 persen).
  • Kebanyakan IFL terbesar di dunia – yaitu IFL yang melebihi 10 juta hektar – tetap terjaga keutuhannya, penurunan IFL terjadi di wilayah IFL yang kecil dan sedang.
  • Negara dengan tingkat degradasi terbesar jika dibandingkan dengan luas awal sejak tahun 2000 adalah Paraguay, Australia, Bolivia, Myanmar, dan Gabon.
  • Negara dengan total degradasi terbesar sejak tahun 2000 adalah Kanada, Rusia, Brazil, Amerika Serikat, dan Bolivia.
  • Negara dengan tingkat degradasi terendah adalah Jepang, Vanuatu, Nepal, Kuba, dan Kazakhstan.

Sebagai contohnya, Paraguay mengalami degradasi IFL sebesar 78 persen – terbesar di seluruh dunia. Paraguay juga merupakan salah satu negara dengan tingkat kehilangan hutan terbesar di dunia, sebagian besar diakibatkan oleh konversi hutan Chaco kering menjadi produksi kedelai dan peternakan. IFL tersebut terdegradasi karena konversi menjadi pertanian dan fragmentasi karena pembangunan infrastruktur jalan untuk menghubungkan wilayah industry peternakan.


<p>Konversi hutan menjadi pertanian di Chaco mengakibatkan kehilangan tutupan hutan (merah muka), yang mengakibatkan degradasi IFL (hijau muda). Foto dari Global Forest Watch.</p>

Konversi hutan menjadi pertanian di Chaco mengakibatkan kehilangan tutupan hutan (merah muka), yang mengakibatkan degradasi IFL (hijau muda). Foto dari Global Forest Watch.


Dapatkah kita menyatukan kembali potongan-potongan hutan yang terpecah-belah?

Satu-satunya cara untuk menjaga kemampuan IFL dalam menjaga ekosistem adalah dengan mempertahankan “keutuhannya”. Mereka tidak dapat dikembalikan dengan mudah ketika sudah mengalami fragmentasi dan degradasi. Analisis baru ini mempunyai implikasi yang panjang untuk mengurangi deforestasi, mencapai komitmen perubahan iklim, dan melindungi keanekaragaman hayati. WRI merekomendasikan:

  • Pemimpin negara harus memindahkan pembangunan dari IFL. Sebagai tambahan, pejabat pemerintah dapat menghambat kerusakan IFL dengan memprioritaskan proteksi hukum bagi wilayah-wilayah tersebut.
  • Perusahaan dengan komitmen produksi yang berkelanjutan harus menghindari IFL ketika mencari komoditas seperti kayu, kelapa sawit, daging sapi, dan kedelai.
  • Sertifikasi hutan yang berkelanjutan seperti Forest Stewardship Council (FSC) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO)) harus memberikan konsiderasi special untuk memasukkan IFL dalam criteria penilaian dan memastikan penerapan komitmen yang efektif dalam melindungi hutan-hutan yang masih utuh.

PELAJARI LEBIH LANJUT: Lihat data IFL di Global Forest Watch. Untuk informasi lebih lanjut mengenai metodologi, konsep, dan temuan, silakan kunjungi www.intactforest.org.

Bagikan

Tambahkan komentar baru

Tetap Terhubung

Dapatkan Nawala Kami

Dapatkan tulisan, kegiatan, publikasi, dan materi multimedia terbaru. Silakan berlangganan nawala WRI Indonesia yang terbit setiap bulan.