Anda di sini

Akankah Awal Musim Kebakaran Hutan Menghambat Kemajuan Indonesia dalam Mengurangi Penggundulan Hutan?

Indonesia berhasil menurunkan tingkat deforestasi selama dua tahun berturut-turut (2017 dan 2018) setelah mencatat tingkat deforestasi tinggi di tahun-tahun sebelumnya. Tren penurunan ini merupakan kabar baik, terutama di tengah hilangnya 12 juta hektar pohon di hutan tropis di seluruh dunia di tahun 2018, setara dengan luas negara Belgia.

Namun, kebijakan perlindungan hutan Indonesia akan diuji ketika musim kebakaran tahunan di Indonesia dan El Niño yang meningkatkan risiko kebakaran dimulai. Musim kemarau di Indonesia berlangsung antara bulan April dan Oktober, namun biasanya kebakaran paling hebat terjadi di bulan Juli. Berikut adalah beberapa hal yang perlu diketahui saat Indonesia mulai memasuki musim kebakaran di tahun ini:

Bagaimana pengaruh kebakaran terhadap Indonesia di masa lalu?

Frekuensi dan intensitas kebakaran di Indonesia terus meningkat sejak tahun 1990-an. Kebakaran buruk di tahun-tahun sebelumnya yang dianggap sebagai anomali kini sudah menjadi hal yang biasa, seiring dengan penyebaran aktivitas pertanian skala besar di seluruh Indonesia.

Musim kebakaran terburuk dalam 20 tahun terakhir terjadi di tahun 2015. Platform Global Forest Watch Fires (GFW Fires) mendeteksi sekitar 130.000 peringatan kebakaran – lebih dari 500.000 orang membutuhkan bantuan medis akibat kabut asap dan 24 orang lainnya meninggal dunia. Sebagian besar kebakaran tersebut terjadi di lahan gambut yang kaya karbon; sehingga jumlah karbon yang dilepaskan mencapai tiga kali lipat total emisi tahunan Indonesia.

Sebagian besar kebakaran hutan di Indonesia terjadi akibat pembakaran lahan secara ilegal untuk perkebunan karet, kelapa sawit, dan komoditas lainnya. Kebakaran ilegal ini dapat dengan cepat menyebar di luar kendali. Sejak tahun 2015, Indonesia terus berusaha mencegah kebakaran melalui berbagai kebijakan, utamanya untuk menghentikan kebakaran akibat kegiatan pertanian dan melindungi hutan dan lahan gambut.

Akankah terjadi banyak kebakaran hutan di Indonesia tahun ini?

Tahun ini menandai kembalinya fenomena cuaca El Niño. Menurut ahli meteorologi, El Niño tahun ini tidak akan sekuat di tahun 2015. Akan tetapi, pola angin yang melemah dan berbalik di Samudra Pasifik akan meningkatkan tekanan udara di Asia Tenggara sehingga cuaca akan lebih kering dan lebih panas.

Kemarau berkepanjangan dapat mengakibatkan tumbuhan mengering sehingga kebakaran akan menyebar lebih cepat dan lebih luas. Daun-daun di atas pohon akan mengering sehingga api dapat dengan mudah menyebar melalui tutupan pohon, sementara semak belukar yang mengering meningkatkan risiko terbakarnya lapisan gambut di dalam tanah yang memang mudah terbakar.

Peringatan GFW Fires telah mendeteksi lebih dari 7.200 kebakaran di Indonesia sejak awal tahun. Dibandingkan dengan 19.600 kebakaran yang terjadi di paruh pertama tahun 2015, jumlah kebakaran hutan sepanjang tahun 2019 terhitung rendah.

Meskipun situasi ini tampak terkendali, bulan-bulan dengan risiko kebakaran terbesar masih akan datang. Selain itu, mungkin juga menurunnya kebakaran baru-baru ini merupakan hasil investasi pencegahan kebakaran besar menjelang Asian Games 2018, kompetisi olahraga terbesar setelah Olimpiade. Dengan semua ketidakpastian ini, kita harus berhati-hati agar tidak terjadi lonjakan besar dalam beberapa bulan ke depan.

Kebijakan apa yang dimiliki Indonesia untuk mencegah deforestasi lebih lanjut?

Pemerintah Indonesia telah menerbitkan berbagai kebijakan penting setelah kebakaran besar yang terjadi di tahun 2015 untuk menghindari terulangnya peristiwa semacam itu.

Pada bulan September 2018, Presiden Indonesia Joko Widodo menerapkan moratorium atas izin perkebunan kelapa sawit baru dan menginstruksikan review terhadap semua perizinan yang telah dikeluarkan. Larangan ini dimaksudkan untuk meminimalkan ekspansi perkebunan kelapa sawit, yang saat ini telah banyak memasuki habitat hutan.

Indonesia telah menerapkan moratorium sejak 2011 untuk mencegah pembukaan hutan primer dan lahan gambut. Moratorium hutan dan lahan gambut tersebut awalnya hanya berlaku untuk periode dua tahun, dan telah diperpanjang sebanyak tiga kali oleh Joko Widodo. Moratorium ini akan kembali diperpanjang di bulan Juli. Menurut Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Situ Nurbaya Bakar, ada kemungkinan bahwa pemerintah akan menerapkan moratorium ini secara permanen. Jika disetujui oleh presiden, moratorium tersebut dapat secara signifikan menurunkan perubahan hutan primer dan lahan gambut menjadi lahan perkebunan yang rentan akan kebakaran.

Selain kebijakan-kebijakan di atas, ada juga beberapa peraturan yang mendorong pengelolaan lahan gambut yang lebih baik. Lahan gambut sering dikeringkan untuk kegiatan pertanian, dan lahan gambut yang kering sangat mudah terbakar. Upaya pemulihan yang mengembalikan kandungan air pada lahan gambut terdegradasi juga seharusnya bisa membantu mengurangi kebakaran.

Tingkat kebakaran dan deforestasi pada musim kebakaran di tahun 2019 akan menunjukkan seberapa efektif kebijakan-kebijakan yang telah dibuat sejak tahun 2015. Namun masih banyak hal lain yang perlu diperhatikan. Harga minyak sawit mentah terus menurun selama delapan tahun terakhir hingga mencapai titik terendah pada akhir tahun 2018 akibat kelebihan pasokan. Ketika harga meningkat, ekspansi pertanian juga cenderung meningkat. Oleh karena itu, ketika harga minyak kelapa sawit kembali naik serta tekanan ekonomi diperparah oleh panas dan kekeringan yang terjadi akibat El Niño, baru akan terlihat seberapa besar komitmen pemerintah dan industri terkait.

Bagaimana musim kebakaran akan berdampak pada target penurunan emisi Indonesia?

Selain melindungi keanekaragaman hayati di Indonesia, penurunan deforestasi juga penting untuk mencegah keluarnya emisi karbon. Sebagai dampak penurunan deforestasi di tahun 2017 dan 2018, Indonesia menerima pembayaran pertamanya dari REDD+, sebuah program yang mengapresiasi negara-negara berkembang yang berhasil menurunkan tingkat emisi dengan melindungi hutan mereka.

Pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk menurunkan emisi hingga 29% pada tahun 2030. Namun, tujuan ini tidak akan tercapai jika kebakaran hutan dan gambut terus meningkat setiap tahunnya. Lahan gambut menyimpan karbon 20 kali lebih banyak dari lahan lainnya. Akibatnya, emisi harian dari musim kebakaran 2015 melampaui emisi yang dihasilkan dari keseluruhan aktivitas ekonomi A.S. Jika Indonesia ingin mencapai target iklim yang telah ditentukan, tren penurunan deforestasi saat ini harus terus dipertahankan.

Di saat musim kemarau semakin mendekat, GFW akan terus memberikan informasi mengenai kebakaran yang terjadi beserta trennya. Kunjungi GFW Fires untuk mengakses peringatan kebakaran terbaru dan mendapatkan informasi mengenai kebakaran di Indonesia saat berlangsungnya kejadian.

Bagikan

Tambahkan komentar baru

Tetap Terhubung

Dapatkan Nawala Kami

Dapatkan tulisan, kegiatan, publikasi, dan materi multimedia terbaru. Silakan berlangganan nawala WRI Indonesia yang terbit setiap bulan.