Anda di sini

Apa Saja Dampak Bunga Hari Valentine terhadap Lingkungan?

Hari Valentine kembali datang. Perayaan hari kasih sayang ini sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan penemuan modern. Kala itu, Roma pra-Kristen memperingati kematian Santo yang dipenggal oleh Claudius II di Eropa Abad Ketiga – rupanya, sebelum kematiannya sang martir menulis surat terakhir dengan membubuhkan salam 'Valentine-mu'.

Hari kasih sayang ini sebelumnya tidak berarti apa-apa bagi masyarakat di Amerika Utara, hingga akhirnya kartu Hallmark mengeluarkan kartu Valentine khusus di tahun 1910.. Sejak saat itu, pemasaran simbol cinta tersebut terus berkembang. Pada tahun 1939, De Beers menghadirkan berlian sebagai persembahan ungkapan cinta paling mulia; tiga tahun kemudian, 80 persen cincin pertunangan di Amerika Serikat pun bermahkotakan berlian. Implikasi "blood diamonds"pun sempat merebak dan mengundang banyak perhatian, hingga akhirnya tercetus "Kimberly Process" pada tahun 2000 sebagai upaya untuk menghentikan perdagangan berlian.

Emas juga masuk dalam kategori ini. Selama berabad-abad, emas telah berhasil mempertahankan reputasi sosialnya, melalui daya tarik dan kelangkaannya. Dari sekian banyak jumlah emas yang beredar, baik di brankas maupun di kotak perhiasan, diperkirakan total mencapai kisaran 155.244 hingga 2,5 juta ton, dengan estimasi 52.000 ton potensi emas masih tertimbun di dalam tambang. YAkibatnya, potensi degradasi lingkungan sebagai dampak dari kegiatan penambangan emas bisa dibilang cukup parah. Terjadinya erosi tanah, deforestasi, intensitas sumber daya, emisi gas rumah kaca dan polusi sianida mengurangi daya tarik emas.

Di sisi lain, bunga hadir sebagai bentuk ungkapan cinta yang lebih sederhana. Industri florikultur telah lama berkembang menjadi industri global. Bila ditelusuri kembali, hubungan antara bunga mawar dan cinta terinspirasi dari sosok Aphrodite sebagai jelmaan Dewi Cinta dari Yunani atau Venus dari Roma. Industri bunga potong – atau florikultur - berkembang di Inggris pada akhir abad ke-19 dan kini omzetnya mencapai sekitar US$33 miliar. US$33 miliar. Hampir separuh perdagangan bunga dunia saat ini dikuasai oleh Belanda, Amerika Serikat dan Jepang, di mana mayoritas didistribusikan oleh Belanda. Sebenarnya Belanda hanya menyumbang 10 persen dari total volume produksi, tetapi dari segi ekspor global, negara tersebut berkontribusi sebesar 60 persen. Sejak tahun 1990-an, proses produksi bunga potong telah bergeser ke negara-negara dengan kondisi iklim dan upah tenaga kerja rendah sehingga mampu mendukung aktivitas produksi sepanjang tahun. Negara-negara seperti Kolombia, Kenya, Ekuador dan Etiopia tercatat sebagai produsen bunga terbesar di dunia. Meskipun telah diberlakukan aturan demi mengendalikan jalannya industri, besarnya dampak lingkungan yang muncul dari kegiatan industri florikultur tidak dapat dihindari.

Polusi kimia menjadi masalah utama. Industri florikultur merupakan proses produksi dengan siklus pendek yang membutuhkan konsumsi zat agrokimia secara masif, sehingga menimbulkan dampak negatif pada pasokan udara, tanah dan air.

Pada dasarnya, industri florikultur memiliki aturan yang cukup longgar karena bukan termasuk produk pangan.Industri ini bebas dari peraturan terkait residu pestisida, meskipun ternyata kandungan pestisida yang digunakan untuk produksi bunga potong lebih besar dari produksi bahan pangan. Terlebih lagi, sekitar seperlima penggunaan zat kimia dalam industri florikultur di negara berkembang belum teruji atau dilarang di AS. Pada tahun 2015, batas akhir penerapan Protokol Montreal (ditandatangani pada tahun 1987 untuk mencegah penipisan lapisan ozon) untuk mengganti penggunaan bahan kimia florikultura Metil Bromida mulai berlaku di seluruh negara berkembang. Di Amerika Serikat, penggunaan zat ini telah dihapuskan 100 persen sejak 2005. Metil Bromida adalah zat kimia beracun yang berbahaya bagi manusia, efeknya lima kali lebih kuat daripada karbondioksida serta memiliki potensi penipisan ozon sebesar 0.6 (dengan klasifikasi CFC 1).

Penggunaan air dalam industri florikultur juga menimbulkan masalah tersendiri. Saat ini, ekspor air maya melalui perdagangan internasional dari beberapa negara dengan krisis air paling buruk semakin meningkat. Nyatanya, 45 persen ekspor air maya Kenyadigunakan untuk produksi bunga potong. Kontroversi terjadi di sekitar Danau Naivasha, Kenya, di mana lebih dari separuh air yang diambil digunakan untuk memenuhi permintaan industri florikultur. Namun demikian, industri florikultur merupakan sumber mata pencaharian. Di Kenya, industri ini menjadi penghasil devisa negara terbesar kedua dengan pendapatan mencapai $141 juta per tahun. Bagi Kenya, bunga potong memberikan pengembalian ekonomi tertinggi per unit air yang diekspor. Untuk menjaga keseimbangan air, mungkin ke depan Kenya perlu mengimpor tanaman dengan kebutuhan air tinggi, seperti jagung, untuk memastikan ketahanan pangan, atau untuk mengimbangi harga air dengan premi harga bagi konsumen.

Untuk mengatasi dampak tersebut diperlukan regulasi. Di Etiopia, keprihatinan serius terhadap kondisi lingkungan telah disampaikan, di mana luas lahan untuk area budidaya bunga terus meningkat dari kurang dari 100 hektar di tahun 1990-an ke 1.200 hektar pada tahun 2008 (lebih dari 990 hektar atau 82 persen untuk budidaya mawar). Akibat kenaikan ini, penghasilan dari sektor florikultur ikut meningkat, hingga mencapai lebih dari $131 juta pada tahun 2009. Perolehan nilai ekspor dari industri florikultur diperkirakan akan terus meningkat hingga US$ 550 juta pada tahun 2016. Walaupun pedoman standar dari pemerintah dan kelompok terkait pelaksanaan kegiatan industri ini telah dibuat, namun proporsi tingkat penerapannya masih terbilang rendah. Fairtrade dan bunga bersertifikat berkelanjutan adalah standar aturan yang telah mulai diterapkan para pelaku industri florikultur, namun di luar itu masih banyak yang harus dilakukan.

Pasar industri florikultur terbilang rapuh. Para pendukung industri florikultur berpendapat bahwa industri florikultur mampu mempekerjakan ribuan orang dan membebaskan masyarakat miskin dari ketergantungan terhadap bantuan pihak luar. Namun sebenarnya industri ini rentan terhadap faktor eksternal, seperti kurs mata uang, harga minyak, perubahan iklim dan situasi ekonomi di pasar sasaran.

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, lonjakan permintaan bunga potong terjadi pada hari Valentine. Saat ini, populasi global bergerak ke angka 9,6 miliar di tahun 2050, sehingga ada kekurangan 70 persen dari hasil pertanian yang diproduksi saat ini dengan perkiraan kebutuhan pangan keseluruhan populasi nantinya. Karena itu, kita perlu mempertimbangkan apakah air, bahan kimia, lahan, penggunaan pesawat udara dan jejak karbon industri florikultur sebaiknya digunakan untuk kebutuhan lain. Sebagai contoh, lebih dari 2.000 hektar lahan pertanian di Kenya digunakan untuk budidaya bunga potong. Luas area ini akan terus bertambah di masa mendatang, mengingat negara-negara lain seperti China juga mulai berinvestasi di industri florikultur.

Cina muncul sebagai salah satu produsen dan pengekspor produk florikultur terbesar di Asia. Menurut statistik resmi, Menurut statistik resmi, perkiraan nilai produksi bunga dan tanaman di Tiongkok meningkat 150 persen dari €6 miliar pada tahun 2009 menjadi €15 miliar di tahun 2013. Dari angka tersebut, industri florikultur Tiongkok diperkirakan memiliki nilai produksi sebesar €1,5 miliar – di mana 42 persen berasal dari bunga lili dan 24 persen dari bunga mawar. Dengan perhitungan ini, 90 persen dari harga eceran setangkai mawar merupakan tambahan biaya yang dikenakan ketika bunga-bunga tersebut tiba di Amerika Serikat atau Eropa.

Ke depan, Cina berencana untuk menjadi pengekspor bunga terbesar di Asia dan kedua terbesar di dunia setelah Belanda. Terlepas dari apakah mawar-mawar itu ditanam di rumah-rumah kaca di Yunnan atau di tempat lain, yang perlu kita pikirkan adalah dampak pemanfaatan lahan. Secara global, diperkirakan sekitar 2 miliar hektar lahan terdegradasi, dua kali lebih luas dari Cina, dan memiliki potensi untuk direstorasi. Momen kasih sayang kali ini mungkin bisa menjadi kesempatan bagi kita untuk berpikir ulang mengenai harga yang harus dibayar demi sebuah simbol cinta yang merupakan hasil rekayasa budaya. Saat melihat duri pada mawar Anda – ingatlah besarnya air maya, bahan kimia, tanah dan tenaga kerja yang disia-siakan sebuah negara sekadar untuk memenuhi bukti cinta Anda.

Bagikan

Tambahkan komentar baru

Tetap Terhubung

Dapatkan Nawala Kami

Dapatkan tulisan, kegiatan, publikasi, dan materi multimedia terbaru. Silakan berlangganan nawala WRI Indonesia yang terbit setiap bulan.