Anda di sini

Berdasarkan Laporan IPCC terbaru, Dunia Berada di Jalur untuk Melebihi “Persediaan Karbon” dalam 12 Tahun

Para ilmuwan menghabiskan waktu cukup lama untuk menghitung jumlah karbon dioksida yang dihasilkan bumi seraya tetap menjaga kenaikan suhu jauh di bawah 2°C sambil tetap berupaya untuk membatasi kenaikan suhu di bawah 1,5°C. Jumlah ini merupakan “batas pemakaian karbon” yang kita miliki.

Laporan terbaru Panel Antar-pemerintah tentang Perubahan Iklim (Intergovernmental Panel on Climate Change - IPCC) mengumpulkan tulisan-tulisan terbaru mengenai batas pemakaian karbon. Kesimpulannya? Saat ini, kita sedang dalam perjalanan mencapai batas pemakaian karbon yang tersedia dalam satu dekade ke depan.

Berapa batas pemakaian karbon kita jika kenaikan suhu ingin dibatasi di bawah 1,5°C?

Agar kita memiliki setengah saja kesempatan untuk menjaga kenaikan suhu di bawah 1,5 °C, bumi masih dapat mengeluarkan 770 gigaton karbon dioksida (GtCO2). Agar kita dapat memiliki kesempatan yang lebih tinggi (67 persen), batas pemakaian karbon ini harus turun hingga 570 GtCO2.

Meskipun negara-negara berhasil memenuhi target pengurangan emisi mereka, kita tetap akan mencapai batas pemakaian karbon yang tersisa agar dapat menjaga kenaikan suhu di bawah 1,5°C pada tahun 2030.

Bahkan dengan skenario yang sangat optimis, dimana tingkat emisi karbon dioksida saat ini dapat dipertahankan, kita akan tetap mencapai batas pemakaian karbon pada tahun 2030 (di tingkat yang diperlukan untuk menjaga kenaikan suhu di bawah 1,5°C). Hal ini jelas menunjukkan pentingnya mencapai puncak emisi global sebelum tahun 2030 agar kita memiliki kesempatan yang lebih baik untuk menghindari dampak iklim terburuk.

Agar kita memiliki kesempatan yang lebih baik untuk menjaga kenaikan suhu di bawah 1,5°C dalam jangka panjang, bumi harus mencapai emisi nol-bersih dalam waktu 25 tahun.

Bagaimana dengan 2°C?

Batas pemakaian karbon untuk menjaga kenaikan suhu di bawah angka 2°C diperkirakan lebih tinggi, dengan perhitungan: 1690 GtCO2 untuk peluang sebesar 50 persen atau 1320 GtCO2 untuk peluang sebesar 67 persen.

Bahkan dengan skenario yang sangat optimis, yakni jika tingkat emisi karbon dioksida saat ini dapat dipertahankan, kita akan tetap mencapai batas pemakaian karbon pada tahun 2049 (di tingkat yang diperlukan untuk menjaga kenaikan suhu di bawah 2°C).

Apa peran penyerapan karbon dalam upaya untuk mencapai target 1,5°C?

Laporan ini juga menunjukkan bahwa jika kita mencapai batas pemakaian karbon, untuk mencapai target 1,5˚C diperlukan penyerapan karbon, sebuah proses dimana kita mengambil karbon dari atmosfer dan menyimpannya. Hampir semua model yang digunakan dalam laporan IPCC bergantung pada penyerapan karbon dalam tingkat tertentu.

Ada beberapa cara berbeda yang dapat dilakukan dalam upaya penyerapan karbon, seperti bio-energi melalui penangkapan dan penyimpanan karbon (BECCS), penanaman hutan kembali serta penangkapan dan penyimpanan udara secara langsung (DACS). Yang lebih penting lagi, model-model skenario yang memperlihatkan bahwa kenaikan suhu harus melampaui 1,5˚C sebelum turun kembali, sangat bergantung pada penyerapan karbon.

Kemampuan pelepasan karbon pada tingkat yang diperlukan oleh model-model iklim ini masih belum terbukti. Mengingat berbagai risiko dan ketidakpastian yang dihadapi, kita harus berhati-hati dan memastikan keamanan dalam menggunakan berbagai pendekatan penghapusan karbon ini di tingkat yang lebih besar. Mengingat kecepatan dan tingkat pelepasan yang terbatas, masih banyak pertanyaan mengenai seberapa jauh kita dapat mengandalkan strategi ini untuk mencapai target 1,5˚C, terlebih lagi melalui jalur-jalur yang mengharuskan kita untuk lebih dulu melampaui batas 1,5˚C.

Mengapa batas pemakaian karbon yang tersisa lebih besar dari estimasi Laporan Penilaian Kelima IPCC?

Banyak tulisan yang telah diterbitkan sejak dirilisnya Laporan Penilaian Kelima pada tahun 2014. Hal ini mendorong IPCC untuk mencantumkan batas pemakaian karbon yang lebih besar dalam laporannya mengenai target 1,5°C. Perbedaan antara hasil pengamatan catatan sejarah kenaikan suhu terbaru dan pengamatan yang digunakan dalam sistem modeling Bumi pada Laporan Penilaian Kelima IPCC mengenai pemanasan dan emisi kumulatif telah disesuaikan pada estimasi-estimasi terbaru. (Beberapa perkiraan lain menunjukkan bahwa sudah tidak ada lagi perbedaan dengan diperbaikinya perbandingan ini.)

Hasil pengamatan terakhir atas emisi dan kenaikan suhu yang telah terjadi sebelumnya sudah diikutsertakan dalam estimasi yang dibuat akhir-akhir ini. Menggunakan hasil pengamatan tersebut, estimasi-estimasi ini dapat mengukur jarak antara kenaikan suhu yang telah terjadi hingga saat ini dengan batas kenaikan suhu untuk mencapai tingkat 1,5°C untuk menghitung berapa banyak emisi yang dapat kita keluarkan.

Meskipun jaraknya dengan batas pemakaian karbon yang diberikan dalam model-model sebelumnya relatif kecil, hasil perhitungan berapa banyak emisi yang dapat kita keluarkan akan sangat berbeda mengingat batas pemakaian karbon untuk mencapai target 1,5°C ini sangat kecil. Karena itu, asumsi yang dipakai dan ketidakpastian yang dihadapi akan sangat mempengaruhi penentuan batas pemakaian karbon menuju target 1,5°C.

Apa saja perbedaan dan ketidakpastian utama dalam penghitungan batas pemakaian karbon?

Estimasi batas pemakaian karbon yang tersisa para ilmuwan cukup beragam. Ada beberapa perbedaan utama, seperti pilihan model yang digunakan, pilihan metode, asumsi mengenai catatan emisi dan kenaikan suhu yang telah terjadi hingga saat ini sampai penghitungan target kelebihan kenaikan suhu. Selain itu, beberapa perhitungan ini hanya mencakup CO2, sementara ada beberapa yang turut menyertakan semua gas rumah kaca dan aerosol. Perkiraan batas pemakaian karbon yang tidak menyertakan gas non-CO2 tentu saja akan melampaui perkiraan yang menyertakan gas non-CO2.

Berbicara tentang penghitungan batas pemakaian karbon, tentu ada banyak ketidakpastian, termasuk reaksi iklim bumi terhadap emisi karbon, peran emisi gas non-CO2, umpan balik iklim dan masih banyak lagi. Bahkan, IPCC menyatakan bahwa ketidakpastian dalam penghitungan batas pemakaian iklim ini menyumbang ±400 GtCO2 batas pemakaian karbon, sementara ketidakpastian catatan tingkat kenaikan suhu menyumbang ±250 GtCO2. Hasilnya, jangka waktu yang dibutuhkan untuk menurunkan emisi karbon dioksida hingga mencapai level nol-bersih juga beragam, antara ±15–20 tahun.

Ketidakpastian lain yang tidak kalah penting adalah timbal balik iklim atau rentetan dampak yang akan diakibatkan oleh kenaikan suhu yang lebih tinggi. Contohnya, jika batas pemakaian karbon tidak dipenuhi hingga tahun 2100, maka batas ini akan menurun sekitar 100 GtCO2 akibat adanya potensi pelepasan gas metana yang berasal dari lahan basah dan lapisan permafrost yang mencair.

Menjaga Batas Pemakaian Karbon yang Ada

Kita telah menghabiskan sebagian besar batas pemakaian karbon kita, bahkan hingga di tingkat yang mengkhawatirkan akhir-akhir ini. Laporan IPCC secara jelas menunjukkan bahwa jika hal ini terus berlanjut, kita akan mencapai peningkatan suhu bumi sebesar 1,5°C hanya dalam satu dekade saja—bahkan jika negara-negara berhasil memenuhi komitmen iklim yang telah diberikan. Jika hal ini terjadi, bumi akan menghadapi gelombang panas ekstrem, kenaikan permukaan air laut, curah hujan ekstrem dan dampak iklim lainnya. IPCC secara jelas menyatakan bahwa kita tidak dapat lagi mengeluarkan karbon secara intensif jika kita ingin menghindari dampak iklim terburuk. Sebaliknya, kita harus segera membuat perubahan untuk mengurangi emisi kita.

Bagikan

Tambahkan komentar baru

Tetap Terhubung

Dapatkan Nawala Kami

Dapatkan tulisan, kegiatan, publikasi, dan materi multimedia terbaru. Silakan berlangganan nawala WRI Indonesia yang terbit setiap bulan.