Anda di sini

Dengan Data Transportasi, Kota-Kota Ini Menjadi Lebih Inklusif dan Berkelanjutan

Kota-kota di seluruh penjuru dunia telah berikrar untuk mengatasi perubahan iklim, termasuk melalui perencanaan moda transportasi yang berkelanjutan. Namun seperti yang pernah dijelaskan sebelumnya, banyak kota memiliki permasalahan kekurangan data dan informasi penting untuk memantau perkembangannya. Dengan data, kota-kota tersebut dapat melihat contoh-contoh pola dan kebutuhan transportasi dalam menyusun rencana aksi mitigasi untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) – sebuah langkah penting untuk mencapai tujuan yang ditetapkan dalam Persetujuan Paris.

Berbagai manfaat tambahan dan tak terduga dari pemantauan informasi tersebut telah dirasakan oleh beberapa kota. Selain mendukung aksi mereka untuk mengatasi perubahan iklim, data ini juga membantu mereka merencanakan layanan transportasi yang lebih inklusif secara sosial. Sebagai hasilnya, mereka dapat membangun transportasi umum yang lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat seraya terus berupaya meningkatkan pilihan akses mobilitas rendah karbon, seperti dengan menumpang angkutan umum, bersepeda dan berjalan kaki.

Berikut adalah empat area perkotaan yang berupaya menganalisis efektivitas alternatif transportasi umum dan memanfaatkan informasi tersebut untuk memperbaiki kehidupan masyarakat.

Semarang, Indonesia

Sejak Trans Semarang, sebuah sistem Transit Bus Cepat di Semarang, Indonesia, beroperasi pada tahun 2009, emisi gas rumah kaca di kota tersebut telah berkurang lebih dari 14.000 ton CO2e. Trans Semarang, yang merupakan bagian dari strategi pengurangan emisi untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan angkutan umum yang lebih kecil, terbilang sangat sukses. Pengembangan baru pun telah direncanakan; termasuk penambahan jenis feeder dan enam koridor baru untuk menambah dua koridor yang ada saat ini.

<p>Salah satu peserta kompetisi meme di Semarang memperlihatkan seorang wanita yang memutuskan untuk tidak naik BRT, karena jarak seberang antara bus dan halte terlalu jauh. Kredit: GIZ</p>

Salah satu peserta kompetisi meme di Semarang memperlihatkan seorang wanita yang memutuskan untuk tidak naik BRT, karena jarak seberang antara bus dan halte terlalu jauh. Kredit: GIZ

Kota ini juga mengolah data rute perjalanan yang diambil dan diakses oleh pria dan wanita sehingga Trans Semarang lebih responsif terhadap kebutuhan masing-masing gender. Trans Semarang dilengkapi dengan penerangan halte yang lebih baik, tambahan tempat duduk dan akses khusus wanita, lansia, dan penyandang cacat, sehingga mendorong lebih banyak orang beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum. Hingga saat ini, pengumpulan data masih terus berlangsung; bekerja sama dengan IGES, kota ini menganalisis manfaat lanjutan Trans Semarang, termasuk dampak pengurangan emisi GRK yang dihasilkan akibat peralihan moda transportasi ke angkutan umum.

Langkah-langkah yang dijalankan kota Semarang menunjukkan bagaimana sebuah kota dapat memanfaatkan data transportasi dan gender menuju kota yang lebih berkelanjutan dan mudah diakses.

Wina, Austria

Wina, Austria, mencatat sejarah panjang dalam menghimpun data terkait mobilitas dan menganalisis data tersebut berdasarkan gender dan keberagaman. Menurut Rencana Mobilitas Perkotaannya, kota ini berencana untuk memperpanjang pengumpulan data hingga 2025 agar dapat menyertakan sistem pembagian data ke dalam bentuk basis data yang terdesentralisasi “dengan mempertimbangkan aspek keberagaman dan pengarusutamaan gender, sehingga analisis berdasarkan karakteristik seperti usia, tingkat pendidikan dan jenis kelamin dapat dilakukan”. Data yang telah dikumpulkan berhasil menunjang perbaikan mobilitas pejalan kaki di kota ini, di antaranya dengan memasang lampu jalan untuk mengatasi masalah keamanan dan menyediakan ramp untuk mempermudah akses bagi wanita, lansia, penyandang cacat dan mereka yang bepergian membawa anak-anak.

<p>Tangga bebas hambatan di Wina meningkatkan akses pejalan kaki. Josef Lex/Flickr</p>

Tangga bebas hambatan di Wina meningkatkan akses pejalan kaki. Josef Lex/Flickr

Quito, Ekuador

Quito, Ekuador, juga memanfaatkan data untuk merancang tata kota dan meningkatkan respons terhadap kebutuhan warga. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2011, ditemukan bahwa 68 persen penduduk wanita di kota ini mengalami kekerasan seksual di ruang publik. Sejalan dengan pendekatan baru terkait gender yang diterapkan dalam perencanaan transportasi, Quito merombak hampir semua tempat pemberhentian kereta untuk memenuhi kriteria baru terkait masalah keselamatan dan keamanan. Saat ini, 43 dari 44 pemberhentian memiliki pintu kaca yang menyediakan area transit dan ruang tunggu yang aman bagi penumpang. Perbaikan transportasi seperti ini hanya mungkin terwujud lewat pengumpulan dan analisis data yang lebih baik.

São Paulo, Brasil

Karena kebanyakan kota dirancang untuk akses kendaraan pribadi, keselamatan berkendara untuk pengendara sepeda dan pejalan kaki menjadi masalah serius yang menghambat banyak orang (khususnya wanita, anak-anak, lansia, dan penyandang cacat) dalam menggunakan moda transportasi aktif seperti ini. Sebuah survei pada tahun 2016 di São Paulo menunjukkan 76 persen wanita menyatakan bahwa keselamatan berkendara adalah salah satu alasan utama mereka tidak bersepeda. Dari total pesepeda wanita, 60 persen di antaranya menyatakan hanya merasa aman atau sangat aman saat bersepeda pada infrastruktur khusus sepeda. Selama periode tahun 2014 dan 2015, kota ini membangun 238 kilometer jalur sepeda baru dan mencatatkan peningkatan drastis terhadap jumlah pesepeda wanita dan total pengendara sepeda. Peningkatan penggunaan transportasi aktif ini membantu kota seperti São Paulo dalam mengurangi emisi gas rumah kaca bersih.

Pola Mobilitas yang Berbeda

Penelitian di negara berkembang dan negara maju menunjukkan bahwa pria dan wanita memiliki pola mobilitas yang berbeda. Pria cenderung lebih sering mengendarai kendaraan pribadi dengan jarak yang lebih jauh dibandingkan wanita. Pria cenderung bepergian untuk urusan pekerjaan, sedangkan wanita cenderung berpindah dari tempat ke tempat atau melakukan beberapa perjalanan untuk beberapa kegiatan, seperti mengasuh atau urusan rumah tangga. Pada umumnya, wanita lebih sering berjalan kaki dan menggunakan transportasi umum dibandingkan pria. Menurut rekan kerja kami, Jyot Chadha, wanita juga cenderung lebih sering melakukan perjalanan di luar jam sibuk dibandingkan pria untuk mengatasi sekaligus menghindari pelecehan dan kekerasan. Selain itu, wanita biasanya menghabiskan lebih banyak waktu dan uang saat bepergian, karena mereka lebih sering bepergian dengan tanggungan (anak dan orang tua) dibandingkan pria.

Meskipun jumlahnya masih sedikit, kota yang mengumpulkan data terkait gender dan transportasi menunjukkan bahwa data yang akurat merupakan komponen penting menuju sebuah perubahan. Seperti yang digambarkan beberapa contoh di atas, kota-kota yang mempertimbangkan kebutuhan dan pola mobilitas penduduk yang berbeda-beda terbukti mampu meningkatkan rancangan sistem transit, meningkatkan jumlah penumpang dan mewujudkan masa depan berkelanjutan rendah emisi bagi negara mereka.

Bagikan

Tambahkan komentar baru

Tetap Terhubung

Dapatkan Nawala Kami

Dapatkan tulisan, kegiatan, publikasi, dan materi multimedia terbaru. Silakan berlangganan nawala WRI Indonesia yang terbit setiap bulan.