Anda di sini

Mari Dukung Global Forest Watch

Hanya sedikit sekali yang kita ketahui tentang apa yang terjadi di hutan kita.

Para pelaku usaha pada saat ini tidak memiliki cara untuk menentukan apakah atau seberapa banyak kedelai, minyak kelapa sawit, atau kayu-kertas yang mereka gunakan berkontribusi terhadap deforestasi. Sehingga, perusahaan seperti Unilever dan Nestle, yang telah berkomitmen untuk menghentikan deforestasi di rantai pasokannya, tidak dapat mengukur perkembangan terhadap target penting ini.

Warga negara yang peduli – baik masyarakat adat Cree di Quebec, komunitas tradisional di Papua Nugini, maupun asosiasi tetangga di Portland, Oregon – tidak memiliki akses informasi terkini terkait dimana hutan ditebangi, ditanami, dan direstorasi di sekitar komunitas mereka. Ketidaktersediaan akses ini merupakan kesenjangan pengetahuan yang besar, mengingat bahwa hutan menyediakan ruang bagi rekreasi dan penting untuk menunjang persediaan air, mengatur iklim, dan menyediakan bahan dasar seperti obat-obatan, makanan, dan tempat tinggal.

Dan pejabat tinggi pemerintah tidak memiliki data terkini yang dibutuhkan untuk membuat keputusan yang tepat tentang perencanaan penggunaan lahan dan wilayah lindung – apalagi mendeteksi deforestasi ilegal dengan cepat dan menegakkan hukum.

Kesenjangan informasi ini merupakan alasan kunci mengapa dunia kehilangan hutan seluas 50 kali lapangan sepak bola setiap menitnya setiap hari. Walaupun demikian, kesenjangan tersebut akan segera menyempit secara signifikan.

Hari ini, kami meluncurkan Global Forest Watch (GFW), sebuah sistem online dan gratis yang bertujuan untuk memberi informasi tentang apa yang terjadi dengan hutan dimanapun. Dengan menggunakan data satelit, data terbuka, dan crowdsourcing, GFW menjamin informasi yang tepat waktu dan bisa diandalkan mengenai hutan bagi siapapun yang memiliki akses terhadap koneksi internet.

Platform GFW diciptakan dari sebuah kemitraan yang terdiri atas 40 organisasi yang dikumpulkan oleh World Resources Institute. Para mitra inti mencakup Google, Universitas Maryland, Esri, Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa, Center for Global Development dan Imazon, dengan pendanaan utama dari pemerintah Norwegia, A.S dan Inggris, Global Environment Facility, dan Tilia Fund.


Silakan lihat bagaimana GFW mengubah dunia informasi dan tata kelola hutan:

Sebuah Revolusi Teknologi

Perkembangan luar biasa di bidang teknologi telah memungkinkan terciptanya GFW. Sebagai contoh, daya komputasi awan Google Earth Engine yang dikombinasikan dengan algoritme baru yang canggih yang dikembangkan oleh Universitas Maryland telah memungkinkan kemitraan GFW untuk menganalisis ratusan ribu citra satelit NASA dengan cepat, murah, dan otomatis. Analisis yang dulunya membutuhkan waktu selama 15 tahun dengan menggunakan komputer, sekarang bisa diproses dalam hitungan jam dengan menggunakan Google cloud. NASA dan Survei Geologis A.S. juga memainkan peran penting dalam upaya ini dengan membuat citra baku tersedia secara gratis.

Memperluas konektivitas internet dan akses terhadap ponsel yang murah menciptakan peluang untuk menyediakan data bagi miliaran orang. Namun, GFW melangkah lebih jauh dengan menghasilkan informasi yang bersumber dari orang-orang yang berada di lapangan. Siapapun bisa berbagi informasi, foto, dan video tentang hutan dengan dunia dengan mengunggahnya ke GFW.

Alat Baru untuk Mempromosikan Pengelolaan Hutan yang Lebih Baik

Meskipun demikian, hal yang lebih penting dari teknologi adalah peningkatan upaya pemerintah, masyarakat, dan sekelompok perusahaan besar untuk mengelola hutan secara lebih baik.

Brazil adalah yang pertama kali bergerak mengambil tindakan berdasarkan informasi untuk melindungi hutan. Lembaga antariksa Brazil mempelopori sistem pemantauan hutan hampir seketika untuk hutan Amazon di Brazil melalui program DETER dan PRODES. LSM Brazil bernama Imazon juga telah mengembangkan sistem independen yang berpengaruh. Informasi yang kerap diperbarui ini telah membantu negara tersebut menumpas penebangan liar. Meskipun ada sedikit peningkatan pada tahun 2013, laju pembukaan lahan di hutan Amazon Brazil telah berkurang sebanyak 70 persen sejak tahun 2004. GFW berupaya untuk menjadikan pengalaman Brazil sebagai dasar untuk menciptakan sistem peringatan hutan hampir seketika bagi komunitas di seluruh dunia.

Indonesia juga baru-baru ini mengambil langkah untuk melindungi hutan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendeklarasikan dan kemudian memperpanjang moratorium hutan nasional, yang menghentikan izin pembukaan kawasan hutan baru di seluruh wilayah seukuran Jepang. Presiden Yudhoyono juga menciptakan badan nasional baru, Badan Nasional Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan dan Lahan Gambut (Badan REDD+), yang dikepalai oleh pejabat senior terhormat dengan tanggung jawab untuk memimpin koordinasi nasional untuk mengurangi hilangnya hutan dan degradasi.

Komunitas lokal – seperti Surui di Brazil dan federasi masyarakat adat seperti COICA di Amazon – sudah lama bertarung memperjuangkan hak pengelolaan hutan mereka. Mereka sekarang memanfaatkan teknologi untuk mendukung pertarungan ini. Misalnya, komunitas Surui menggunakan Google Map untuk membantu mengawasi penebang liar dan memperkirakan stok karbon di hutan mereka. GFW sekarang membantu mengembangkan potensi tersebut ke ratusan komunitas lainnya.

Baru-baru ini, beberapa perusahaan besar juga telah mengadopsi kebijakan yang signifikan untuk mengurangi kerusakan terhadap hutan akibat produksi komoditas pertanian. Unilever, Nestlé, Tesco, Marks and Spencer’s, dan lainnya telah berkomitmen untuk mengakhiri deforestasi dalam rantai pasokan mereka.

Sama halnya bagi beberapa perusahan besar yang memasok komoditas. Wilmar yang berbasis di Singapura, yang bertanggung jawab akan 45 persen perdagangan kelapa sawit global, pada bulan Desember mengumumkan serangkaian perubahan besar pada prosedur pengadaan kelapa sawit mereka agar bisa lebih baik dalam melindungi hutan, pekerja, dan komunitas. Beberapa bulan ke depan, perusahaan raksasa kayu dan kertas Indonesia APP akan membuat komitmen serupa. Konglomerat berbasis di Indonesia lainnya, APRIL, juga berkomitmen untuk memperbaiki pengelolaan hutan pada bulan Januari tahun ini.

GFW menciptakan peluang agar komitmen perusahaan tersebut bisa diukur secara independen, dibagikan, dan didiskusikan secara terbuka. Pemerintah dapat memanfaatkan informasi baru tersebut untuk mengkaji efektivitas upaya mereka. Perusahaan dapat menangguhkan pembelian dari pemasok yang diduga membuka hutan. Masyarakat dan LSM dapat lebih mudah memonitor hutan di sekitar mereka dan meminta pertanggung jawaban pemerintah dan perusahaan atas tindakan mereka.

Mempertahankan Hutan bagi Masa Depan

Namun tentu saja, ada beberapa tantangan yang masih harus dihadapi. Kami masih membutuhkan informasi yang lebih baik mengenai kepemilikan lahan, izin pemanfaatan hutan, wilayah-wilayah perkebunan, dan lain-lain. Kemitraan GFW akan bekerja selama beberapa tahun ke depan untuk semakin memperkaya informasi dan manfaatnya dan mempermudah pemahaman akan penyebab hilangnya hutan. Kami juga ingin meminta pendapat Anda mengenai bagaimana memperbaiki sarana yang kami miliki.

Saat ini ketika Global Forest Watch sudah diluncurkan, kami berharap bahwa warga dari berbagai negara akan menggunakan sistem tersebut untuk menuntut keterbukaan, akuntabilitas, dan transparansi yang lebih besar. Mereka yang berperilaku buruk akan memiliki hanya sedikit ruang untuk bersembunyi. Mereka yang mengelola hutan dengan baik akan menonjol dan dipuji oleh semua orang.

Kunjungi laman peluncuran GFW kami untuk informasi dan matter.

Bagikan

Tambahkan komentar baru

Tetap Terhubung

Dapatkan Nawala Kami

Dapatkan tulisan, kegiatan, publikasi, dan materi multimedia terbaru. Silakan berlangganan nawala WRI Indonesia yang terbit setiap bulan.