Anda di sini

Hutan: Sang Cinderella dari Solusi Perubahan Iklim

Di Hari Bumi, kita perlu mengingat kembali manfaat hutan bagi kita – termasuk perannya dalam stabilisasi iklim – serta kurangnya apresiasi kita terhadap hutan. Di bulan November lalu pada “Hari Hutan” yang diselenggarakan di tengah negosiasi iklim PBB di Bonn, Giacomo Grassi, seorang ilmuwan dari Pusat Penelitian Gabungan Komisi Eropa yang mempelajari hutan dan perubahan iklim, memberikan perumpaan yang tepat bagi masalah ini: hutan bagai sang Cinderella.

Seperti yang kita tahu, dongeng ini bercerita tentang Cinderella, seorang pengurus rumah yang diperlakukan tidak adil oleh ibu dan dua kakak tiri jahat yang tinggal bersamanya. Sesuai namanya, di rumah Cinderella harus membersihkan abu dari perapian — sama dengan hutan yang membersihkan perapian Bumi dengan menyerap emisi karbon yang dilepaskan ke atmosfer akibat pembakaran bahan bakar fosil. Meskipun perhatian dan investasi yang diberikan cukup besar, perkembangan dalam mewujudkan proses industri untuk menghilangkan karbon dari udara masih lamban. Oleh karena itu, perlu diingat bahwa hutan adalah satu-satunya media penyerap dan penyimpan karbon (CCS) paling aman, alami, hemat biaya dan akurat yang tersedia saat ini.

Membersihkan perapian bukanlah satu-satunya tugas Cinderella; ia juga harus mengambil air dari sumur, mengumpulkan makanan dan bahan bakar, serta melakukan banyak tugas rumah tangga lainnya. Sama seperti yang dilakukan hutan bagi bumi, mulai dari menyediakan air bersih dari daerah aliran sungai setempat untuk minum, irigasi dan pembangkit listrik tenaga air, hingga meningkatkan curah hujan di berbagai benua di dunia. Selain itu, rata-rata lebih dari seperlima penduduk daerah menggantungkan penghasilannya pada hutan, sehingga semakin banyak yang memahami peran penting hutan dalam siklus hidrologi dan energi global Peran ini sangat penting dalam mempertahankan produksi pertanian, melebihi peran lain yang diembannya dalam siklus karbon dunia.

Meneruskan perumpaan tersebut, Pangeran Tampan diperankan oleh aksi iklim dunia dan dalam versi Giacomo, pesta dansanya adalah Persetujuan Paris. Sama seperti kisah pangeran yang mencari cinta sejatinya, negara-negara juga mencari mitra dalam mewujudkan sasaran Persetujuan Paris. Persetujuan tersebut secara khusus menyebutkan hutan dalam Pasal 5. Selain hutan, tidak ada sektor lain yang difokuskan seperti ini, sama seperti Cinderella yang menghadiri pesta dansa, berdansa dengan pangeran dan meyakinkan pangeran bahwa ia adalah kekasih sejatinya.

Lalu siapa yang menjadi kedua saudara tiri? Mungkin beberapa sektor lain yang mencari perhatian sang Pangeran Tampan demi kepentingan pribadi. Misalnya, sektor energi dan transportasi yang kadang menunjukkan diri sebagai harapan terbaik dalam upaya pengurangan emisi. (Saya cukup kecewa melihat komitmen iklim berbagai kota yang jarang sekali melibatkan sektor-sektor lain di luar dua sektor industri tersebut dengan inisiatif-inisiatif seperti penanaman pohon di perkotaan apalagi memperhatikan hutan-hutan di sekitar atau yang jauh dari kota.) Satu dekade yang lalu, layaknya saudara-saudara tiri Cinderella, rekan-rekan di sektor pertanian sempat cemburu dengan perhatian dan pendanaan yang lebih dulu dikucurkan bagi hutan sebagai solusi perubahan iklim.

Hingga saat ini, kemitraan antara aksi iklim global dengan hutan masih belum terwujud. Seperti Cinderella yang meninggalkan sepatu kacanya di pesta dansa, aksi penyelamatan hutan terhambat oleh kurangnya kucuran dana: negara-negara makmur tidak mampu memenuhi jaminan pembiayaan berbasis kinerja yang signifikan bagi negara-negara berkembang sebagai bentuk penghargaan atas keberhasilan mereka dalam upaya memerangi deforestasi dan degradasi hutan (dikenal dengan “REDD+”). (Lihat situs web Hari Bumi untuk penjelasan singkat mengenai permasalahan dan peluang yang ada.) Pendanaan bukan satu-satunya faktor bermasalah dalam upaya perlindungan hutan. Langkah-langkah untuk mengakui hak adat, meningkatkan penegakan hukum dan menghimpun kemauan politik untuk menantang kepentingan pribadi yang melekat dengan kegiatan deforestasi yang selama ini berjalan juga perlu menjadi bagian dari solusi pelestarian hutan.

Jika disandingkan, tiga penilaian baru-baru ini menunjukkan betapa sulitnya bagi sang Pangeran Tampan untuk menemukan Cinderella usai pesta dansa:

  • Griscom dkk memperkirakan bahwa pengurangan emisi dari “solusi iklim alamiah” secara keseluruhan – di mana pelestarian hutan merupakan langkah yang paling hemat biaya – merupakan 37 persen dari kebutuhan aksi iklim untuk mencapai target Persetujuan Paris dalam menjaga pemanasan global di bawah 2°C hingga tahun 2030.
  • Meski demikian, Charlotte Streck dkk dalam penilaiannya atas perkembangan pemenuhan tujuan Deklarasi New York terkait Hutan menemukan bahwa dana mitigasi bagi negara-negara terkait yang digunakan untuk hutan hanya sedikit melebihi satu persen.
  • Sementara itu, penilaian Global Forest Watch dan University of Maryland mengenai kehilangan tutupan pohon di tahun 2016 mencatatkan peningkatan hingga 51 persen dari tahun sebelumnya, dengan tingkat kehilangan tutupan pohon tertinggi di Brazil dan Indonesia.

Yang tidak kalah penting adalah siapakah pemeran ibu peri dalam perumpamaan ini? Ibu peri tidak hanya memberikan kendaraan untuk mengantar Cinderella ke pesta dansa (sebuah kereta kencana dari labu yang ditarik oleh kuda jelmaan tikus-tikus putih), namun juga membantu Cinderella menumbuhkan rasa percaya diri untuk menghadiri pesta dansa tersebut. Dalam kisah Cinderella versi drama musikal televisi karya Rogers dan Hammerstein, ibu peri menyanyikan lirik berikut untuk Cinderella dalam lagu berjudul “Impossible” yang berarti mustahil:

  • Mustahil! Sebuah labu kuning biasa bisa menjadi sebuah kereta kencana

  • Mustahil! Seorang gadis desa biasa menikahi seorang pangeran....

  • ...Hal mustahil! Terjadi setiap hari.

...yang menyimpulkan bahwa keajaiban mungkin saja terjadi, sehingga Cinderella merasa layak untuk bersanding dengan seorang Pangeran. (Saya menyampaikan hal ini di Bonn tahun lalu, yang dapat dilihat di sini.)

Jika musikal ini dibuat kembali, saya ingin mencoba peran ibu peri. Saya melihat peran ini sama seperti misi saya untuk menjadi advokat bagi hutan dalam Sektor Iklim (Sang Pangeran Tampan), serta meyakinkan rekan sejawat dalam Sektor Hutan (Cinderella) bahwa pernikahan ini mungkin terjadi.

Dan jika berhasil, kita semua akan hidup bahagia untuk selama-lamanya.

Bagikan

Tambahkan komentar baru

Tetap Terhubung

Dapatkan Nawala Kami

Dapatkan tulisan, kegiatan, publikasi, dan materi multimedia terbaru. Silakan berlangganan nawala WRI Indonesia yang terbit setiap bulan.