Anda di sini

Konservasi Laut adalah Strategi Mitigasi Perubahan Iklim Yang Belum Dimanfaatkan

Setiap tahunnya, kontribusi laut terhadap ekonomi global mencapai US$1,5 triliun. Laut juga menjadi sumber penghidupan bagi 10-12 persen populasi dunia. Namun, ada satu lagi alasan mengapa ekosistem laut harus dilindungi–peran pentingnya dalam menjaga perubahan iklim.

Momen Penting bagi Laut dan Aksi Iklim

Hari Laut Sedunia tahun ini jatuh tepat satu tahun setelah konferensi laut pertama yang diselenggarakan oleh PBB. Tahun ini merupakan tahun yang penting bagi aksi laut. Di awal tahun, 53 negara anggota Persemakmuran mengadopsi Piagam Biru Persemakmuran mengenai Aksi Laut, yaitu rencana perlindungan terumbu karang, reboisasi hutan bakau dan pengurangan polusi plastik, di samping aksi-aksi lain. Konservasi laut akan menjadi topik utama dalam pertemuan G7 yang akan datang. Kenya akan menggelar Konferensi Ekonomi Biru perdana pada bulan November. Sementara itu, sebuah negosiasi penting mengenai perjanjian baru PBB terkait konservasi laut lepas akan dimulai pada September mendatang.

Tahun ini juga menandai titik balik aksi iklim internasional. Pembahasan mengenai kemajuan yang telah diraih di bawah Perjanjian Paris untuk perubahan iklim yang pertama kalinya, dikenal sebagai Dialog Talanoa, kini sedang berlangsung. Dialog tersebut diharapkan akan membuka berbagai peluang bagi sejumlah negara untuk meningkatkan aksi iklim mereka. Di akhir tahun ini, negara-negara juga diharapkan akan menyetujui pedoman implementasi Perjanjian Paris.

Ekosistem laut dan pesisir menyediakan solusi alami yang belum dimanfaatkan untuk perubahan iklim. Potensi ini harus diikutsertakan dalam pembahasan agenda-agenda tersebut.

<p> Hutan bakau, padang lamun dan rumput laut (seperti yang ditunjukkan pada gambar) dapat menyimpan karbon 10 kali lebih efektif daripada beberapa jenis hutan lainnya. Foto oleh oliver.dodd/Flickr
</p>

Hutan bakau, padang lamun dan rumput laut (seperti yang ditunjukkan pada gambar) dapat menyimpan karbon 10 kali lebih efektif daripada beberapa jenis hutan lainnya. Foto oleh oliver.dodd/Flickr

Laut Sebagai Solusi Iklim

Ekosistem “karbon biru”, seperti mangrove, padang lamun dan rumput laut 10 kali lebih efektif dalam menyerap karbon dioksida per kawasan/tahun daripada hutan boreal, subtropis atau tropis. Ekosistem ini juga hampir dua kali lebih efektif dalam menyimpan karbon di dalam tanah dan biomassa mereka. Selain itu, mereka juga memiliki peran penting dalam melindungi infrastruktur dan masyarakat pesisir dari dampak iklim seperti peristiwa cuaca ekstrem.

  • Mangrove tumbuh di 123 negara dan wilayah dan diperkirakan mencapai lebih dari 150.000 kilometer persegi di seluruh dunia. Mangrove melindungi masyarakat pesisir dari angin dan ombak melalui perannya sebagai garda terdepan dalam menghadapi badai dan kenaikan permukaan air laut.
  • Apabila dunia dapat mengurangi kehilangan lahan basah pesisir tahunan setengah kali saja, emisi akan berkurang sebesar 0,23 gigaton, setara dengan total emisi tahunan Spanyol di 2013.
  • Mengembalikan lahan basah pesisir ke tingkat yang sama dengan tahun 1990 akan menambah serapan karbon tahunan sebesar 160 megaton per tahun. Angka ini dapat mengimbangi pembakaran 77,4 juta ton batu bara.

<p> Kawasan Perlindungan Laut dapat mendukung pelestarian keanekaragaman hayati. Foto oleh NOAA</p>

Kawasan Perlindungan Laut dapat mendukung pelestarian keanekaragaman hayati. Foto oleh NOAA

Komitmen Iklim Nasional: Sebuah Kesempatan untuk Meningkatkan Aksi Iklim dan Laut

Sejalan dengan tujuan Persetujuan Paris, negara-negara telah berkomitmen untuk meningkatkan aksi iklim. Sayangnya, dalam komitmen yang dikenal dengan nama Komitmen Kontribusi Nasional (NDC) ini, ekosistem laut dan pesisir masih kurang terwakili.

Ada beberapa pilihan kebijakan yang dapat diterapkan untuk memasukkan ekosistem karbon biru ke dalam NDC, termasuk:

  • Membuat atau melindungi ekosistem karbon biru (termasuk melalui Kawasan Perlindungan Laut ). Kebijakan ini meliputi pembentukan zona penyangga untuk mengurangi dampak penggunaan lahan di sekitarnya dan membiarkan perpindahan bakau ke daratan untuk mengatasi kenaikan permukaan air laut.
  • Mereboisasi atau merehabilitasi ekosistem karbon biru yang terdegradasi.
  • Mendorong gagasan untuk membuat atau melindungi ekosistem karbon biru di lahan pribadi, termasuk melalui pemberian akses ke pasar karbon.
  • Memastikan bahwa potensi ekosistem karbon biru sebagai solusi mitigasi telah diikutsertakan di dalam pedoman inventarisasi gas rumah kaca nasional.

Menyadari Pentingnya Ekonomi Karbon Biru

Selain perubahan iklim, tentu masih banyak alasan untuk berinvestasi terhadap perlindungan ekosistem laut dan pesisir. Ekosistem pesisir juga dapat meningkatkan ketahanan masyarakat pesisir terhadap bencana alam–termasuk badai (bakau menyerap kekuatan ombak dan angin yang berasal dari badai), banjir, erosi dan kebakaran. Lahan basah mendorong pertumbuhan berbagai spesies ikan yang dapat menunjang perekonomian dan meningkatkan ketahanan pangan. Sementara itu, kawasan perlindungan laut juga dapat melindungi keanekaragaman hayati.

Melawan perubahan iklim hanyalah satu dari banyak manfaat lain yang kita peroleh dari laut. Untuk itu, sudah saatnya kita menyadari betapa pentingnya perlindungan laut sebagai salah satu solusi perubahan iklim.

Bagikan

Tambahkan komentar baru

Tetap Terhubung

Dapatkan Nawala Kami

Dapatkan tulisan, kegiatan, publikasi, dan materi multimedia terbaru. Silakan berlangganan nawala WRI Indonesia yang terbit setiap bulan.