Anda di sini

Memprioritaskan Adaptasi serta Mengatasi Kerugian dan Kerusakan di COP23

Saat perwakilan dari semua negara berkumpul di Bonn, Jerman untuk Konferensi Perwakilan Negara ke-23 (konferensi tentang iklim yang secara informal disebut sebagai COP23), jutaan orang Puerto Rico tengah menunggu pulihnya aliran listrik setelah badai besar Irma dan Maria merusak jaringan listrik mereka. Di Asia Selatan, 41 juta orang berjuang untuk membangun kembali rumahnya yang tersapu oleh banjir yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan 38 juta petani di sub Sahara Afrika mengalami kekurangan makanan setelah kekeringan yang terjadi selama dua tahun berturut-turut.

Pemerintah Fiji (negara pulau kecil pertama yang memimpin pertemuan iklim PBB), tidak akan ragu untuk memprioritaskan bantuan terhadap masyarakat yang rentan dan negara-negara yang mengelola dampak perubahan iklim (tugas mendesak yang ditekankan karena adanya bencana alam terkait perubahan iklim tahun ini). Sebagaimana para pembuat keputusan mengusulkan langkah-langkah untuk aksi mitigasi ambisius yang diserukan dalam Perjanjian Paris, mereka juga akan membuka jalan bagi aksi kerja sama yang lebih besar mengenai adaptasi dan pendekatan untuk mengatasi kerugian dan kerusakan. Berikut ini merupakan hal-hal yang kami harapkan dapat ditemukan di COP23:

Langkah Nyata dan Praktis dalam rangka Membantu Negara dan Masyarakat untuk Beradaptasi

<p>Para petani Kenya bekerja untuk membuat pertanian yang tahan terhadap perubahan iklim (Flickr/Cecilia Shubert)</p>

Para petani Kenya bekerja untuk membuat pertanian yang tahan terhadap perubahan iklim (Flickr/Cecilia Shubert)

Perjanjian Paris mengangkat pentingnya adaptasi, dan mulai saat ini semua negara akan berkontribusi terhadaptujuan global mengenai adaptasi. Dalam rangka menghadapi dampak iklim yang semakin merusak, para perwakilan negara harus membuat progres dalam melaksanakan ketentuan terkait adaptasi Perjanjian Paris. Kegiatan ini mencakup penyusunan rincian bagaimana negara-negara akan menyampaikan prioritas adaptasi dan tindakan mereka yang akan memungkinkan Para Pihak untuk mengakui upaya negara-negara rentan untuk beradaptasi, mengevaluasi progres kolektif, dan mengidentifikasi kebutuhan yang masih berlangsung. Para negosiator juga akan mempertimbangkan rekomendasi untuk menilai efektivitas dan kecukupan tindakan adaptasi dan dukungan di mana langkah ini sangat penting dalam membantu Para Pihak untuk mengukur progres menuju tujuan adaptasi global).

Diskusi yang ada juga akan berfokus pada memobilisasi lebih banyak dukungan (termasuk dana) untuk adaptasi, dan Para Pihak dapat memutuskan apakah Dana Adaptasi, yang ditetapkan berdasarkan Protokol Kyoto akan secara eksplisit ditautkan dengan Perjanjian Paris.

Saat negara-negara merundingkan rincian untuk pelaksanaan Perjanjian Paris, mereka juga akan tetap membangun ketahanan terhadap perubahan iklim di dalam negaranya masing-masing. Banyak negara yang sudah mengedepankan kebijakan dan program adaptasi yang inovatif untuk melindungi warga, ekonomi, dan ekosistemnya dari dampak perubahan iklim, contohnya 54 kepala negara bagian Afrika meluncurkan Inisiatif Adaptasi Afrika (AAI) pada tahun 2015 lalu untuk membangun ketahanan di seluruh benua. AAI mempercepat aksi adaptasi dan aliran dana dengan cara mempromosikan praktik yang baik, membangun kapasitas dan membantu negara-negara mengakses dana iklim. Sebagai contoh, di Mali, pemerintah dan mitranya membantu masyarakat yang rentan untuk beradaptasi terhadap suhu yang meningkat, musim tanam yang tidak tentu dan kekeringan yang lebih sering melalui peningkatan peramalan cuaca, teknik pengumpulan air dan diversifikasi pola pemanfaatan lahan.

Upaya-upaya ini menunjukkan kepada Para Pihak di COP23 mengenai pelajaran penting dan nyata yang akan menjadi signifikan saat mereka berunding untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan Perjanjian Paris mengenai adaptasi.

Perhatian yang Meningkat untuk Mengatasi Kerugian dan Kerusakan

Seperti yang dialami oleh masyarakat di Kepulauan Karibia dan Pesisir Atlantik pada tahun ini, kebijakan dan program adaptasi terbaik dapat saja tidak mencukupi. Kita tidak selalu bisa menemukan solusi yang tahan terhadap perubahan iklim untuk setiap bencana alam yang terjadi. Di Barbuda, Badai Irma yang memecahkan rekor, menghancurkan 95 persen bangunan dan menyebabkan 60 persen warganya kehilangan tempat tinggal. Kerugian dan kerusakan ini dapat membuat pulau-pulau kecil yang rentan kembali seperti pada kondisi berpuluh-puluh tahun yang lalu dan merusak hasil pembangunan kota yang telah lama diperjuangkan.

Negara-negara lainnya juga menghadapi dampak perubahan iklim yang kurang terlihat tetapi sama buruknya secara perlahan-lahan, seperti gletser yang meleleh dan suhu yang lebih tinggi. Sebagai contoh, naiknya tinggi permukaan air laut dapat menyebabkan seluruh dataran rendah Kiribati tenggelam pada 2050 dan mencemari sumber air tawar yang ada dengan air asin (pada dasarnya membuat negara pulau kecil ini tidak bisa ditinggali). Kerugian dapat meluas jauh melebihi output ekonomi. Apa yang akan terjadi pada kedaulatan nasional dan warisan budaya Kiribati? Ke mana warganya akan pergi?

<p>Kiribati saat matahari tenggelam atau dini hari. (Flickr/jopolopy)</p>

Kiribati saat matahari tenggelam atau dini hari. (Flickr/jopolopy)

Masyarakat di seluruh dunia sedang melakukan hal terbaik yang dapat mereka lakukan untuk menangani kerugian dan kerusakan tersebut. Pemerintah Kiribati telah mulai menghadapi keputusan yang sulit berkaitan dengan kerugian dan kerusakan, seperti contohnya perencanaan relokasi. Masyarakat Alaska yang tinggal di permafrost yang meleleh juga telah mengembangkan rencana relokasi masyarakat dan sedang mencari bantuan finansial untuk pindah ke lokasi yang lebih stabil. Beberapa petani Amerika Latin dan Afrika beralih dari produksi kopi karena biji kopi sangat sensitif terhadap perubahan suhu yang terkecil sekalipun. Sekarang mereka menanam tanaman budi daya yang lebih toleran terhadap panas, seperti misalnya kakao. Di tempat lain, sejumlah negara membeli kebijakan asuransi (walaupun bukan solusi utama) yang dapat membantu masyarakat terkena dampak untuk mengelola risiko iklim. Platform asuransi regional telah ada di Kepulauan Karibia, Afrika, dan Pasifik. Inisiatif G7 tentang Asuransi Risiko Iklim juga tengah meningkatkan akses terhadap asuransi dengan cara berusaha menjangkau 400 juta masyarakat yang paling rentan di negara-negara berkembang pada tahun 2020 mendatang.

Di Bonn, para perwakilan negara akan terus berjuang untuk mengatasi kerugian dan kerusakan. Komite Eksekutif dari Warsaw International Mechanism on Loss and Damage (WIM) harus membuat progres mengenai rencana kerja bergulir lima tahun yang baru-baru ini disetujui dan menyoroti dan mengusulkan langkah-langkah maju mengenai isu-isu penting seperti misalnya kerugian non-ekonomi, kegiatan awal yang berjalan perlahan-lahan, kerugian dan kerusakan permanen, terpaksa pindahnya manusia dari tempat tinggalnya, dan pengelolaan risiko yang komprehensif. Di COP 23 Para Pihak akan memiliki kesempatan untuk meninjau rencana kerja tersebut dan mereka harus memberikan petunjuk mengenai semakin mendesaknya pekerjaan WIM dan mendorong Komite Eksekutif WIM untuk meneruskan mandatnya tanpa ditunda.

COP23 akan menjadi momen bagi negara-negara untuk mengenali tantangan yang ditimbulkan oleh dampak parah dari perubahan iklim. Para Pihak dapat dan harus memanfaatkan kesempatan ini untuk membantu negara dan masyarakat (terutama yang paling rentan) mengelola dampak ini.

Bagikan

Tambahkan komentar baru

Tetap Terhubung

Dapatkan Nawala Kami

Dapatkan tulisan, kegiatan, publikasi, dan materi multimedia terbaru. Silakan berlangganan nawala WRI Indonesia yang terbit setiap bulan.