Anda di sini

Negara-negara ASEAN Harus Mengambil Tindakan Bersama untuk Menghadapi Perubahan Iklim

Sembilan dari sepuluh anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) telah meratifikasi Perjanjian Paris, dan Myanmar diperkirakan akan mengikuti dalam waktu dekat. Meskipun masing-masing negara memiliki Komitmen Kontribusi Nasional (NDC), kolaborasi antara negara-negara ini sangat penting untuk mencapai target NDC dan mengatasi tantangan perubahan iklim global di wilayah yang ditinggali oleh seperempat populasi dunia.

Laporan terbaru dari Lembaga Hubungan Internasional Norwegia (NUPI) ‘Impact of Climate Change on ASEAN International Affairs,’ adalah salah satu laporan pertama yang berfokus pada dampak perubahan iklim terhadap hubungan internasional ASEAN. Ditulis bersama-sama oleh wadah pemikir dan lembaga internasional di seluruh ASEAN (termasuk World Resources Institute Indonesia), laporan ini menyoroti kawasan yang perlu menjadi perhatian negara-negara anggota.

Secara garis besar, laporan ini meliputi temuan-temuan berikut:

1. Perubahan iklim dapat mengakibatkan krisis kemanusiaan, migrasi, dan/atau peningkatan kebutuhan impor kebutuhan dasar yang dapat mempengaruhi hubungan antar negara.

Menurut Indeks Risiko Iklim Global, empat dari sepuluh negara yang paling terpengaruh oleh perubahan iklim berada di Asia Tenggara, yakni Myanmar, Filipina, Thailand dan Vietnam. Di negara-negara ini dan negara lainnya, perubahan iklim berpotensi memiliki dampak berikut terhadap hubungan internasional ASEAN:

  • Kenaikan permukaan laut diperkirakan akan mengakibatkan kerusakan paling besar di Indonesia, di mana dampak rob (banjir dari laut) diperkirakan akan mempengaruhi 5,9 juta orang setiap tahunnya mulai tahun 2100. Kenaikan permukaan laut dapat mengancam kota-kota di pesisir pantai, menyebabkan penyusutan wilayah daratan dan memperburuk konflik di wilayah perairan.
  • Kejadian cuaca ekstrem juga diperkirakan semakin memburuk. Peristiwa seperti Topan Haiyan di Filipina telah memakan banyak korban jiwa dan mengakibatkan peningkatan migrasi lintas batas negara.
  • Asap dari kebakaran yang melintasi batas negara mempengaruhi kualitas udara dan kesehatan manusia di perbatasan sehingga menyebabkan ketegangan antar negara. Meskipun dapat menyebabkan keretakan hubungan diplomatik, permasalah ini juga membuka kesempatan kerja sama antar negara.
  • Ketahanan pangan juga terancam mengingat sebagian besar tenaga kerja di Asia Tenggara bekerja di sektor pertanian, kehutanan dan perikanan yang sangat rentan terhadap perubahan iklim. Hasil panen beras dan Produk Domestik Bruto (PDB) di negara-negara ASEAN diperkirakan akan menurun masing-masing sebesar 50 persen dan 6,7 persen pada tahun 2100.

Semua kondisi ini berpotensi memiliki dampak signifikan terhadap migrasi. Kenaikan permukaan laut akan meningkatkan evakuasi dari wilayah dataran rendah yang akan meningkatkan kepadatan populasi di wilayah lain. Faktor-faktor perubahan iklim lain yang akan mempengaruhi migrasi adalah perubahan aliran sungai, kurangnya air untuk pertanian dan meningkatnya suhu di daerah pedesaan.

<p>Pembangkit listrik tenaga batu bara Quezon di Mauban, Quezon, Filipina. Foto oleh Lawrence Ruiz (Epi Fabonan III)/Wikimedia</p>

Pembangkit listrik tenaga batu bara Quezon di Mauban, Quezon, Filipina. Foto oleh Lawrence Ruiz (Epi Fabonan III)/Wikimedia

2. Mengurangi emisi gas rumah kaca membutuhkan koordinasi dan kerja sama internasional, termasuk di sektor energi.

Mitigasi perubahan iklim membutuhkan peralihan energi secara global yang mempengaruhi hubungan antar negara. Batu bara diperkirakan akan menjadi sumber energi terbesar di negara-negara ASEAN dari tahun 2040, yang sangat bertentangan dengan Komitmen Kontribusi Nasional (NDC). Kegagalan untuk beralih dari bahan bakar fosil, terutama batu bara, dapat merusak reputasi negara-negara ASEAN di kancah internasional dan dapat menggagalkan pemenuhan target Perjanjian Paris. Penurunan subsidi bahan bakar fosil dan peningkatan porsi energi terbarukan dalam bauran energi dapat membantu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan memenuhi target NDC.

Peralihan energi membuka kesempatan peningkatan kerja sama antara negara-negara ASEAN. Sejak tahun 1997, konsep integrasi kelistrikan dengan energi terbarukan yang lebih intensif telah dibuat dan dituangkan sebagai ASEAN Power Grid (APG). Sebelas saluran listrik untuk digunakan bersama oleh enam pasang negara ASEAN telah dibangun. Selain itu, integrasi lintas batas negara lebih lanjut telah direncanakan.

Bagaimana ASEAN Dapat Mempercepat Tindakan Iklim

ASEAN telah memprioritaskan isu perubahan iklim sejak ASEAN Summit tahun 2007 di Singapura. Akan tetapi, pembahasan perubahan iklim di pertemuan regional belum dilakukan secara konsisten. Sebagai contoh, tidak ada pembahasan perubahan iklim dalam agenda ASEAN Summit terakhir yang baru selesai di Manila. Negara-negara ASEAN harus mengangkat isu tersebut dan mengambil tindakan nyata untuk mencapai target NDC mereka sebagai bukti komitmen kepada mitigasi perubahan iklim.

Berikut ini adalah rekomendasi yang diberikan dalam laporan untuk membantu ASEAN mengambil tindakan yang lebih tegas terkait kebijakan iklim:

  • Merumuskan Komitmen Kontribusi Regional (RDC) bagi ASEAN untuk mendorong NDC yang lebih ambisius dari negara-negara anggota ASEAN.
  • Memastikan penetapan inisiatif untuk mengurangi emisi gas rumah kaca yang sangat rinci dan ambisius untuk diterapkan saat ini dan di masa depan dalam ASEAN Plan of Action for Energy Cooperation (APAEC).
  • Menyajikan dan membagikan analisis yang relevan untuk menggambarkan rentannya Asia Tenggara terhadap perubahan iklim.
  • Memfasilitasi perdagangan listrik regional melalui ekspansi ASEAN Power Grid sehingga kurangnya ketersediaan energi terbarukan dapat ditangani dengan lebih baik.

Perubahan iklim yang tidak dibatasi oleh batas geopolitik harus dipecahkan dengan pendekatan transnasional. Kerja sama erat antara negara-negara ASEAN sangat diperlukan mengingat geografi dan ekonomi ASEAN saling mempengaruhi dan sangat rentan terhadap pengaruh dampak perubahan iklim. Kurangnya komitmen negara-negara anggota terhadap tindakan iklim (dan kerja sama) dapat mengancam masa depan wilayah ini.

Bagikan

Tambahkan komentar baru

Tetap Terhubung

Dapatkan Nawala Kami

Dapatkan tulisan, kegiatan, publikasi, dan materi multimedia terbaru. Silakan berlangganan nawala WRI Indonesia yang terbit setiap bulan.