Anda di sini

Pelestarian Hutan Dapat Mengurangi Emisi Karbon Setara dengan Emisi Semua Mobil di Bumi

Analisis terbaru dari The Nature Conservancy, WRI dan lain-lain memperkirakan bahwa menghentikan deforestasi, mengembalikan hutan dan memperbaiki praktik kehutanan merupakan cara paling efektif dari segi biaya untuk mengurangi 7 miliar metrik ton karbon dioksida per tahun, setara dengan emisi dari 1,5 miliar mobil—lebih dari semua mobil yang ada di dunia saat ini!

Nyatanya, hutan merupakan kunci bagi 6 dari 20 solusi iklim alami yang diidentifikasi dalam kajian tersebut, yang bersama-sama dapat mengurangi 11,3 miliar metrik ton emisi gas rumah kaca per tahun. Jumlah tersebut setara dengan pemberhentian konsumsi minyak dunia dan sudah mencapai satu per tiga target untuk menekan pemanasan global hingga 2°C di atas tingkat pra industrial, ambang batas untuk menghindari dampak perubahan iklim yang merusak, pada tahun 2030.

Menghentikan Deforestasi Sangat Menguntungkan

Jika deforestasi dapat dihindari, pengurangan emisi lebih dari 40 persen dari total pengurangan emisi dengan solusi biaya rendah dapat tercapai. Dalam kajian tersebut, biaya rendah berarti pengurangan satu ton emisi karbon dioksida dengan biaya kurang dari US$100 per tahun. Melindungi hutan juga memiliki potensi tertinggi untuk memitigasi perubahan iklim berdasarkan kawasan lahan. Brasil dan Indonesia bersama-sama menghasilkan lebih dari 50 persen emisi karbon akibat kehilangan tutupan pohon di wilayah tropis sehingga memiliki potensi mitigasi terbesar dari deforestasi terhindarkan.

<p>Emisi karbon dari deforestasi tropis, 2001-2013.</p>

Emisi karbon dari deforestasi tropis, 2001-2013.

Kehilangan tutupan pohon global mencapai rekor tertinggi di tahun 2016, terutama karena negara-negara tropis kesulitan membatasi emisi dari deforestasi. Di negara-negara tropis dengan emisi tertinggi, produksi daging sapi, hasil pertanian seperti kedelai dan industri perkebunan kelapa sawit menjadi pendorong utama hilangnya tutupan pohon.

Meskipun ada kemunduran, dengan kebijakan REDD+ Perjanjian Paris (Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan) dan penyertaan sektor pertanahan dalam 83 persen rencana pengurangan emisi negara-negara tropis yang dikenal sebagai komitmen kontribusi nasional (nationally determined contributions; NDC), dampak ini dapat diputarbalikkan. Sebagai contoh, memperkuat dan memperluas Moratorium Hutan Indonesia dapat membantu menghindari 427 juta metrik ton emisi negara terkait deforestasi pada tahun 2030. Jika semua negara mencapai NDCnya untuk perubahan penggunaan lahan pada tahun 2030, keseluruhan hutan dunia dapat menyimpan gas rumah kaca lebih banyak dari yang dihasilkan oleh Rusia saat ini..

Mencapai Kompromi

Solusi iklim terkait hutan sangat penting, tetapi juga harus diseimbangkan dengan kebutuhan produksi pangan yang lebih besar seiring meningkatnya populasi dan pendapatan. Seperti deforestasi terhindarkan, reforestasi juga memiliki potensi mitigasi iklim yang besar, terutama dalam jangka panjang.

<p>Potensi pengurangan emisi dari 20 solusi iklim alami.</p>

Potensi pengurangan emisi dari 20 solusi iklim alami.

Menurut kajian tersebut, 42 persen dari total pengurangan emisi yang dapat dicapai melalui reforestasi bergantung pada pengurangan padang rumput, termasuk melalui reforestasi di semua padang rumput di ekoregion berhutan. Skenario ini mungkin sulit untuk direalisasikan sepenuhnya mengingat kebutuhan pangan yang terus meningkat, termasuk peningkatan kebutuhan daging sapi yang diperkirakan mencapai 95 persen antara tahun 2006 dan 2050. Oleh karena itu, kita perlu mencari cara untuk meningkatkan produktivitas padang rumput untuk memusatkan produksi pangan di beberapa lahan dalam jumlah yang lebih kecil untuk membebaskan lahan bagi upaya restorasi. Brasil, contohnya, menargetkan restorasi 22 juta hektar lahan hingga tahun 2030, termasuk meningkatkan produktivitas di 5 juta hektar padang rumput terdegradasi pada tahun 2020. Restorasi merupakan suatu kompromi yang baik. Produk hutan dari hutan yang direstorasi, seperti kacang-kacangan, buah-buahan dan daging, membantu ketahanan pangan, sementara pepohonan menyerap karbon dioksida. Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa berinvestasi pada restorasi menguntungkan secara bisnis.

Kita juga dapat mengurangi kebutuhan akan padang rumput dengan mengubah pola makan kita dan mengurangi pembuangan dan sampah makanan. Mengurangi setengah konsumsi daging dan produk susu dapat mengurangi setengah jejak karbon kita yang berasal dari makanan. Jika seluruh populasi tidak lagi mengonsumsi daging sapi hampir 300 juta hektar padang rumput-hampir seluas India-dapat dibebaskan. Selain itu, tekanan hutan dari pertanian juga dapat dikurangi. Mengurangi pembuangan dan sampah makanan juga dapat membebaskan ratusan dari jutaan hektar padang rumput yang ada.

Kosta Rika telah membuktikan keberhasilan pendekatan ini. Pada tahun 1980-an, Kosta Rika menghapuskan subsidi bagi industri daging sapi, sehingga beternak di lahan marginal menjadi kurang menguntungkan sejalan dengan jatuhnya harga daging sapi dunia. Ternak sapi nasional menurun sebanyak satu per tiga sehingga mengurangi tekanan pada padang rumput. Sementara itu, ekonomi Kosta Rika mulai lebih berfokus pada area urban dan pariwisata. Tutupan hutan meningkat dari 41 persen pada tahun 1980-an menjadi 48 persen pada tahun 2005.

Upaya ini Dapat Dimulai dari Lahan Gambut dan Lahan Basah

Salah satu cara paling efektif untuk menghindari emisi dari hutan dan konversi lahan adalah menjaga dan mengembalikan lahan gambut. Lahan basah adalah jenis tanah yang paling kaya karbon dan menawarkan 14 persen dari solusi iklim alami rendah biaya yang ada, yaitu solusi dengan manfaat terbesar dari luas lahan terkecil. WRI memperkirakan bahwa setiap hektar gambut tropis yang dikeringkan untuk pengembangan perkebunan mengeluarkan 55 metrik ton karbon dioksida setiap tahunnya, hampir setara dengan pembakaran lebih dari 6.000 galon bensin. Indonesia memiliki potensi tertinggi untuk mendapatkan manfaat mitigasi dari restorasi lahan gambut dan konversi terhindarkan. Melindungi lahan basah juga meningkatkan ketahanan iklim. Bakau melindungi garis pantai dari badai dan peningkatan air laut, sementara lahan basah berfungsi sebagai penahan banjir di tengah curah hujan yang ekstrem yang diperkirakan akan meningkat seiring dengan peningkatan iklim.

Menggunakan Solusi Iklim Alami

Semakin banyak organisasi penelitian yang berkampanye untuk meningkatkan kesadaran akan dan penerapan strategi iklim alami. Pergerakan lebih luas yang mengikutsertakan pemerintah, sektor swasta dan warga sipil pemangku kepentingan dapat menerapkan solusi tersebut dengan lebih cepat dan dalam skala yang lebih besar.

Bagikan

Tambahkan komentar baru

Tetap Terhubung

Dapatkan Nawala Kami

Dapatkan laporan, informasi acara, publikasi, dan berbagai bahan multimedia kami. Silakan mendaftar untuk membaca nawala WRI Digest yang terbit setiap dua minggu dan berbagai nawala lainnya.