Anda di sini

Pentingnya Penerbangan Bijak dalam Menghadapi Perubahan Iklim

Artikel ini sebelumnya diterbitkan di The Jakarta Post pada 16 Mei 2019.

Industri penerbangan Indonesia tengah berkembang pesat. Pada 2017, jumlah penumpang pesawat di Indonesia diperkirakan mencapai 110 juta, dengan pasar sebesar US$1,3 miliar. Meskipun dibayangi masalah keselamatan dan biaya penerbangan yang tinggi, industri penerbangan sepertinya akan terus berkembang pesat. Menurut Asosiasi Pengangkutan Udara Internasional, jumlah penumpang pesawat domestik di Indonesia diperkirakan akan mencapai 355 juta orang pada 2036.

Seperti alat transportasi lainnya, penerbangan mengharuskan terjadinya pembakaran bahan bakar fosil. Sebagian besar penerbangan tidak hanya menghasilkan karbon dioksida, namun juga gas rumah kaca lainnya seperti uap air dan nitrogen oksida, yang ikut berkontribusi terhadap pemanasan global. Sementara, semakin banyak masyarakat Indonesia menggunakan transportasi udara saat ini. Apa yang dapat dilakukan untuk membatasi dampak lingkungan dari industri penerbangan di skala nasional?

Bagi kita yang sering terbang, sebagian besar jejak karbon kita dihasilkan dari perjalanan pesawat. Menurut perhitungan WRI Indonesia baru-baru ini, rata-rata 80 persen dari emisi karbon individu tahunan kami berasal dari perjalanan udara untuk pekerjaan.

Bayangkan saja: satu tiket pesawat ekonomi pulang pergi dari Jakarta ke Manokwari di Papua Barat bisa menghasilkan sekitar 0,7 ton karbon dioksida. Mengingat jejak karbon tahunan rata-rata orang Indonesia hanya mencapai 2,03 ton, angka ini mencapai lebih dari sepertiganya.

Jika Anda menggunakan kelas bisnis, jejak karbon Anda jauh lebih tinggi karena kursi kelas bisnis memakan lebih banyak ruang, sehingga jumlah bahan bakar yang digunakan per penumpang lebih tinggi. Menurut studi Bank Dunia tahun 2013, jejak karbon penerbangan kelas bisnis dan kelas satu mencapai tiga kali dan sembilan kali lipat penerbangan kelas ekonomi.

Studi tersebut menunjukkan memilih penerbangan hemat karbon dapat mengurangi jejak karbon bagi mereka yang sering bepergian. Penerbangan langsung, contohnya, lebih hemat karbon dibandingkan penerbangan lanjutan karena pembakaran paling besar terjadi ketika lepas landas.

Kita juga dapat memilih penerbangan yang menggunakan pesawat generasi baru, seperti 787-9s, A350-900s dan A319s yang dilengkapi sharklet yang lebih hemat karbon dan biaya.

Tentu saja, kita punya pilihan untuk menghindari penerbangan, apalagi ketika metode komunikasi virtual sudah mencukupi sehingga pertemuan di luar kota tidak perlu dilakukan atau ketika ada pilihan sarana transportasi lain yang lebih hemat karbon.

Kita juga perlu mempertimbangkan untuk mengimbangi emisi karbon yang dihasilkan dengan berbagai cara, seperti mendukung program penanaman pohon dan energi bersih.

WRI Indonesia baru-baru ini menghitung emisi karbon tahunan yang kami keluarkan. Emisi ini berasal dari berbagai sumber, mulai dari listrik kantor hingga mobilitas karyawan baik jarak dekat maupun jauh. Jejak karbon yang kami keluarkan di tahun 2018 dari penerbangan saja mencapai 245 ton. Untuk mengimbangi emisi ini, kami setidaknya perlu menanam 550 pohon mangga yang masing-masing dapat menyerap 0,4 ton karbon dioksida per tahun ketika matang.

Individu dan organisasi juga dapat membayar perusahaan pengimbangan emisi karbon yang terpercaya. Meskipun skema biaya pengimbangan emisi yang ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan ini sangat beragam, umumnya diperlukan sekitar US$2,30 untuk setiap ton pengimbangan karbon dioksida.

Banyak yang berargumen bahwa pengimbangan karbon hanya menghapus rasa bersalah sehingga mereka yang sering bepergian merasa tidak perlu mengurangi emisi mereka dalam jangka panjang. Namun, upaya ini masih lebih baik daripada tidak sama sekali.

Secara keseluruhan, industri penerbangan terus berkembang menjadi lebih ramah lingkungan, meskipun prosesnya sangat lambat. Perjanjian internasional yang dibuat oleh Organisasi Penerbangan Sipil Internasional mengatur bahwa pada tahun 2021, maskapai penerbangan yang melayani penerbangan internasional harus mengimbangi setiap emisi tambahan di bawah Skema Pengimbangan dan Pengurangan Karbon untuk Penerbangan Internasional.

Masih banyak yang dapat dilakukan maskapai penerbangan untuk mengurangi jejak karbon selain peremajaan armada. Dalam laporan kinerja lingkungannya, Garuda Indonesia menguraikan strateginya untuk mencapai operasional pesawat di darat dan udara yang lebih efisien untuk menghemat bahan bakar dan mengurangi emisi.

Sementara itu, AirAsia di dalam laporan tahunannya membahas berbagai cara untuk meminimalkan muatan pesawat guna mengurangi konsumsi bahan bakar, misalnya dengan mengganti buku panduan dan dokumen penerbangan yang berat dengan tablet, dan menggunakan cat yang lebih tipis di badan pesawat.

Didukung dengan insentif dan pengamanan untuk inovasi dari pemerintah, perusahaan dan maskapai penerbangan Indonesia memiliki tanggung jawab bersama untuk menciptakan sektor penerbangan yang lebih ramah lingkungan. Bagaimanapun juga, setiap keputusan yang kita ambil sangatlah menentukan.

Bagikan

Tambahkan komentar baru

Tetap Terhubung

Dapatkan Nawala Kami

Dapatkan tulisan, kegiatan, publikasi, dan materi multimedia terbaru. Silakan berlangganan nawala WRI Indonesia yang terbit setiap bulan.