Anda di sini

Perubahan Iklim Dapat Mengakibatkan Kemiskinan Bagi 100 Juta Orang pada 2030. 4 Cara Kita Dapat Meningkatkan Adaptasi

Bulan lalu, sengatan gelombang panas menewaskan setidaknya 60 orang di Karachi, Pakistan. Sementara di Afrika Timur, banjir bandang yang parah menyebabkan ratusan ribu orang mengungsi, dan dalam beberapa hari pertama musim badai tahun ini, depresi tropis di lepas pantai Meksiko berkembang menjadi badai Kategori 4 dalam semalam. Dalam 12 tahun ke depan, 100 juta orang hidup dapat jatuh ke dalam kemiskinan ekstrem sebagai dampak perubahan iklim.

Selain terus berupaya membatasi kenaikan suhu global, kita juga perlu meningkatkan aksi adaptasi secepatnya.

Lebih dari 1.000 pembuat kebijakan, pimpinan bisnis, para ahli dan praktisi akan berkumpul membahas isu ini pada konferensi dua tahunan bertajuk [Adaptation Futures](href="https://adaptationfutures2018.capetown/) yang berlangsung minggu depan di Cape Town, sebuah kota yang tengah menghadapi krisis air akibat perubahan iklim. Solusi apa yang akan mereka berikan? Berikut adalah empat perubahan yang perlu harus diwujudkan dunia, terutama masyarakat miskin dan rentan, dalam persiapan untuk menghadapi dampak iklim yang terus meningkat di masa mendatang.

1. Mengintegrasikan adaptasi di seluruh sektor.

Banyak negara telah meningkatkan langkah-langkah adaptasi yang inovatif: pengungsian angin topan di seluruh Bangladesh, rehabilitasi hutan bakau di Fiji dan sistem peringatan dini hujan lebat di Rio de Janeiro. Sayangnya, belum ada perkembangan yang berarti.

Dalam rangka menunjang ketahanan jutaan orang terhadap dampak pemanasan global, negara-negara harus mengedepankan adaptasi. Upaya tersebut dapat meningkatkan pembangunan, memaksimalkan sumber daya dan menghindari investasi dengan efek samping yang buruk. Pelabuhan terbesar Eropa, Rotterdam, menjadi contoh dengan mengadopsi pendekatan adaptasi perubahan iklim terpadu yang berhasil melindungi warganya dari banjir, sekaligus menjaga kelangsungan bisnis dari kenaikan permukaan air laut dan meningkatkan ruang publik, terutama di area-area berpenghasilan rendah. Kota ini membangun tanggul, taman bermain umum yang berfungsi ganda sebagai tempat penampungan curah hujan dan koridor biru-hijau (blue-green) untuk saluran air, danau buatan serta taman berumput yang dapat menyimpan kelebihan air saat permukaan air laut dan sungai naik. Hanya dalam waktu satu tahun, kota ini juga memasang lebih dari 185.000 kilometer persegi atap hijau penuh tumbuhan yang dapat membantu penyerapan air hujan.

<p>Kawasan hijau di Rotterdam adalah bagian dari strategi adaptasi. Foto oleh Luis Suarez/Flickr</p>

Kawasan hijau di Rotterdam adalah bagian dari strategi adaptasi. Foto oleh Luis Suarez/Flickr

Kesuksesan Rotterdam dalam menerapkan sederet upaya adaptasi tersebut bergantung pada investasi para pejabat terhadap upaya adaptasi dan pengambilan keputusan yang tepat guna mengedepankan ketahanan iklim di seluruh pembangunan perkotaan. Kesuksesan ini juga membantu mengundang minat kota-kota rentan iklim di seluruh dunia untuk berbisnis dengan lembaga-lembaga konsultan Belanda.

Sementara itu, ribuan kilometer jauhnya dari Rotterdam, Zambia juga telah mengintegrasikan perencanaan adaptasi ke dalam Rencana Pembangunan Nasional Keenamnya untuk menjaga pertumbuhan ekonomi, mengentaskan kemiskinan dan mendorong investasi skala besar terkait adaptasi. Rencana ini menjadi peta jalan bagi para pembuat kebijakan di sejumlah sektor yang sangat rentan terhadap perubahan iklim seperti pertanian, air, kesehatan, energi dan perumahan, dalam menilai dan mengelola risiko perubahan iklim. Selain itu, rencana ini juga mendorong pemerintah Zambia untuk memasukkan adaptasi ke dalam anggaran nasional, suatu langkah penting untuk menekankan ketahanan di seluruh perencanaan nasional.

2. Menerapkan adaptasi transformatif

Dampak iklim yang semakin parah mulai menguji batas kemampuan kita beradaptasi melalui penyesuaian praktik pertanian, pengelolaan air dan sistem ekonomi atau sosial penting lainnya secara bertahap. Di beberapa wilayah, dampak iklim ini akan memaksa masyarakat untuk membuat perubahan mendasar atas cara produksi makanan, pengelolaan lahan dan pemilihan tempat tinggal, guna menjaga kelangsungan pembangunan dan mengurangi risiko konflik yang terus meningkat.

<p>Seorang petani di Departemen Nariño, Kolombia. Foto oleh CIAT/Flickr</p>

Seorang petani di Departemen Nariño, Kolombia. Foto oleh CIAT/Flickr

Sebut saja 120 juta petani ang menggantungkan hidupnya pada komoditas kopi. Saat ini, mereka menghadapi masa depan yang tidak pasti. Saat suhu meningkat, biji yang dihasilkan oleh tanaman kopi yang rentan terhadap panas akan berkurang, sementara hama seperti [jamur kopi](http://www.bbc.com/future/story/20171106-the-disease-that-could-change-how-we-drink-coffee) yang dapat dengan mudah melahap seluruh perkebunan tumbuh subur. agaimana pemerintah dapat membantu petani beralih ke tanaman yang sesuai dengan kondisi iklim baru? Bagaimana mereka bisa mendapatkan sumber daya yang diperlukan? Perencanaan jangka panjang dapat membantu negara-negara penghasil kopi untuk meminimalkan gangguan, membagi biaya untuk mengubah sistem produksi dan memastikan bahwa pihak yang paling miskin dan rentan memiliki suara dalam pengambilan keputusan yang memengaruhi penghidupan mereka.

3. Mengedepankan Solusi.

Tidak hanya meningkatkan kesadaran terkait risiko iklim, kita juga harus bekerja lebih keras dalam mencari jalan keluar. Banyak masyarakat yang telah beradaptasi dengan dampak perubahan iklim. Sayangnya, kisah mereka tidak selalu terdengar ataupun terlihat. Sebagai contoh, di Brasil, para peneliti mampu, meningkatkan produksi kopi hingga 20 persen dengan memindahkan lahan produksi lebih dekat dengan hutan di mana spesies pohon asli berada, sehingga tanaman dapat terlindungi dari sinar matahari dan suhu tinggi. Namun, solusi semacam itu belum dicoba pada skala besar.

4. Memfasilitasi kerja sama Selatan-Selatan dan pertukaran ilmu pengetahuan.

Negara-negara berkembang yang berada di garis depan dalam upaya adaptasi perubahan iklim memimpin upaya menuju solusi ketahanan. Sejak Januari 2017, Least Developed Countries Universities Consortium on Climate Change (LUCCC) telah membantu 48 negara tertinggal beradaptasi terhadap perubahan iklim lewat pertukaran ilmu antara universitas dan lembaga pelatihan. Inisiatif Adaptasi Afrika (AAI) memberikan contoh lain upaya yang efektif dan terkoordinasi dalam mempercepat aksi adaptasi skala besar. Dipimpin oleh negara-negara Afrika, AAI berhasil membantu pemerintah mengembangkan dan menerapkan Rencana Adaptasi Nasional (NAP), mengakses pendanaan iklim dan memperkuat layanan informasi iklim. Diperlukan lebih banyak lagi usaha-usaha seperti ini.

Manfaatkan Kesempatan

Semua Pihak Perjanjian Paris telah menetapkan sasaran global terkait aksi adaptasi, dan 140 negara memuat target ketahanan dalam Komitmen Kontribusi Nasional (NDCs). Hampir 1.000 wilayah, kota dan perkampungan telah melakukan lebih dari 1.500 kegiatan adaptasi. Saat para ahli meninjau perkembangan aksi adaptasi pada Adaptation Futures, mereka dapat memanfaatkan momentum politik yang sedang memuncak untuk mengambil langkah-langkah adaptasi dan mempercepat pembangunan tahan-iklim di seluruh dunia.

Bagikan

Tambahkan komentar baru

Tetap Terhubung

Dapatkan Nawala Kami

Dapatkan tulisan, kegiatan, publikasi, dan materi multimedia terbaru. Silakan berlangganan nawala WRI Indonesia yang terbit setiap bulan.