Anda di sini

Tanpa Perubahan Pola Makan, Emisi yang Dihasilkan dari Sektor Pertanian Saja dapat Mengakibatkan Kenaikan Suhu Global di Atas 1,5°C

Sistem pangan dunia berdampak sangat besar terhadap lingkungan dan dampak tersebut terus meningkat. Hampir seperempat dari seluruh emisi gas rumah kaca yang mengakibatkan pemanasan bumi berasal dari produksi pangan dan perubahan penggunaan lahan sehubungan dengannya. Lalu seiring meningkatnya penghasilan, semakin banyak orang pindah ke kota dan konsumsi daging dan olahan susu—bahan pangan yang memiliki dampak iklim begitu besar—pun ikut meningkat.

Populasi dunia diperkirakan akan mencapai 10 miliar pada tahun 2050. Dengan proyeksi meningkatnya populasi dan meningkatnya konsumsi daging, sektor pertanian bertanggung jawab atas mayoritas batas pengeluaran emisi untuk menjaga kenaikan suhu global di bawah 2°C. Dengan tingkat emisi pertanian tersebut, mustahil untuk menjaga pemanasan global di bawah 1,5°C.

Visualisasi di bawah ini menunjukkan tren konsumsi daging sejak tahun 1961 hingga saat ini, dan perkiraan tren hingga tahun 2050 jika pola ini terus berlanjut.

Di antara tahun 2010 dan 2050, konsumsi daging dan olahan susu dunia meningkat hingga hampir 70 persen, di mana konsumsi daging meningkat lebih dari 80 persen.

Dampak Iklim yang Timbul dari Makanan yang Kita Konsumsi

Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), sebuah kelompok beranggotakan ilmuwan iklim terbaik dunia, mengungkapkan bahaya yang ditimbulkan jika kita melampaui ambang batas kenaikan suhu 1,5°C dan 2°C dalam laporan yang mereka terbitkan pekan lalu. Hubungan antara produksi pangan dan perubahan iklim layaknya jalan dua arah: Dengan membatasi kenaikan suhu di angka 2°C, permukaan laut akan naik hingga hampir setengah meter, pola curah hujan akan berubah, hasil panen di wilayah tropis akan berkurang dan tangkapan laut akan menurun. Dengan kenaikan suhu di angka 1,5°C pun dunia akan tetap menghadapi dampak iklim serius, namun dalam skala yang jauh lebih rendah dibandingkan kenaikan suhu di angka 2°C.

Membatasi peningkatan konsumsi daging global—khususnya daging sapi, domba, dan kambing—menjadi isu penting dalam mengendalikan pemanasan global. Daging hewan pemamah biak membutuhkan sumber daya paling besar di antara semua jenis makanan yang kita konsumsi. Produksi daging sapi, misalnya, membutuhkan lahan 20 kali lebih besar dan menghasilkan emisi 20 kali lebih banyak dibandingkan dengan produksi kacang-kacangan, untuk tiap gram protein. Sejumlah peneliti menunjukkan bahwa selain berdampak positif bagi perbaikan sektor pertanian dan pengurangan limbah pangan di masa depan, perubahan pola makan konsumen berpenghasilan lebih tinggi ke bahan pangan nabati juga penting bagi pencapaian target iklim.

<p>Makanan yang kaya nabati. Photo by Chris Ralston/Unsplash</p>

Makanan yang kaya nabati. Photo by Chris Ralston/Unsplash

Bagaimana Cara Mendorong Pergeseran Menuju Pola Makan Ramah Lingkungan?

Berita baiknya, pergerakan untuk membantu peralihan pola makan konsumen menuju pola makan yang lebih kaya nabati sudah mulai berkembang. Dari pelatihan juru masak, burger campuran daging/jamur hingga alternatif daging berbahan dasar tumbuhan telah dikembangkan. Bahkan, sejumlah tempat makan berinovasi dengan meningkatkan proporsi tumbuhan dalam menu makanan yang mereka tawarkan.

Apa itu Cool Food Pledge?

Lewat Cool Food Pledge, para anggota dapat melacak dampak iklim yang ditimbulkan dari makanan yang mereka sajikan, menyusun rencana untuk menjual makanan enak dengan jejak iklim yang lebih kecil dan mempromosikan pencapaian mereka sebagai pemimpin pergerakan pola makan yang lebih berkelanjutan.

Pelajari lebih lanjut di www.wri.org/cool-food-pledge.

Cool Food Pledge adalah salah satu inisiatif terbaru yang dikembangkan oleh WRI bekerja sama dengan Badan UN Environment, Carbon Neutral Cities Alliance, Health Care Without Harm, Practice Greenhealth dan Climate Focus. Platform global baru ini akan membantu sederet perusahaan, restoran, universitas, rumah sakit dan fasilitas lainnya menyajikan makanan enak sekaligus mengurangi 25 persen emisi yang disebabkan oleh makanan pada tahun 2030—tingkat ambisi yang sejalan dengan target membatasi kenaikan global di angka 1,5-2°C.

Dalam Global Climate Action Summit yang berlangsung di California, sebuah kelompok beranggotakan 10 penyedia makanan yang menyajikan lebih dari 60 juta hidangan setiap tahunnya menyatakan komitmen mereka. Selama beberapa tahun ke depan, Cool Food Pledge menargetkan untuk menerapkan misi mereka pada miliaran hidangan.

Berbagai langkah akan dilakukan oleh peserta Cool Food Pledge, mulai dari meningkatkan rasa dan presentasi hidangan kaya nabati, mendesain ulang menu dan tempat-tempat makan untuk mempromosikan pilihan makanan yang ramah iklim hingga menggunakan bahasa yang membangkitkan selera makan untuk menarik perhatian mayoritas konsumen dan target konsumen lainnya.

Max Burgers telah menetapkan target bahwa, pada tahun 2022, setengah dari seluruh hidangan yang mereka jual di 120 cabang mereka di seluruh dunia tidak lagi menggunakan daging sapi sebagai bahan dasar. Perusahaan tersebut memperkirakan pencapaian target ini akan membantu mengurangi emisi gas rumah kaca sebanyak 30 persen.

Sementara itu, UCSF Health, dengan konsep “Roots dan Shoots”, terus meningkatkan penggunaan tumbuhan dalam hidangan mereka. Para pengunjung, pasien dan para staf dapat memilih lima menu berbahan dasar tumbuhan ditemani separuh roti lapis dengan harga yang lebih terjangkau. Dengan konsep yang sama, perusahaan ini menawarkan burger campuran daging dan jamur ke dalam menu standar untuk pasien, penjualan makan ritel dan katering.

Sodexo, sebagai pendukung Cool Food Pledge membantu mempromosikan kegiatan Cool Food Pledge lewat sejumlah tempat makan yang mereka layani. Baru-baru ini, Sodexo meluncurkan 200 resep baru berbahan dasar tumbuhan dan kaya nabati, termasuk hidangan seperti burger bumbu madras dengan komposisi daging dan jamur 75/25 dan pilihan menu lain yang sepenuhnya berbahan dasar tumbuhan seperti osso buco wortel dan kembang kol kung pao.

<p> Perubahan pola makan ke bahan pangan nabati dapat mengurangi dampak lingkungan yang ditimbulkan dari sektor pertanian. Foto oleh Oksana Kiyan/Flickr</p>

Perubahan pola makan ke bahan pangan nabati dapat mengurangi dampak lingkungan yang ditimbulkan dari sektor pertanian. Foto oleh Oksana Kiyan/Flickr

Menyelaraskan Makanan dengan Target Iklim

Dari sisi ilmu pengetahuan sudah jelas bahwa dunia sedang melangkah menuju tingkat pemanasan yang berbahaya dan seluruh sektor harus ambil bagian untuk menghentikannya. Sejumlah inisiatif penting untuk mengurangi emisi yang ditimbulkan produksi pangan telah lahir. Namun, menurut data yang ada, perubahan ini harus diperluas—hingga mencakup miliaran hidangan—dengan tingkat ambisi yang setara dengan cakupan tantangan iklim yang dihadapi. Semua pihak, mulai dari konsumen hingga juru masak, pimpinan perusahaan hingga pembuat kebijakan, memiliki peran dalam perubahan pola makan menuju masa depan pangan yang berkelanjutan.

Bagikan

Tambahkan komentar baru

Tetap Terhubung

Dapatkan Nawala Kami

Dapatkan tulisan, kegiatan, publikasi, dan materi multimedia terbaru. Silakan berlangganan nawala WRI Indonesia yang terbit setiap bulan.