Anda di sini

T&J: Bagaimana Masa Depan Bangunan Hijau?

Sesi Tanya Jawab dengan Presiden dan CEO WRI Andrew Steer ini sebelumnya pernah dimuat di World Green Building Council.

Bagaimana kalau semua gedung kita anggap sebagai peluang bagi pembangunan berkelanjutan?

Karena memang begitu adanya. Gedung mengonsumsi banyak air dan listrik—sepertiga energi global dikonsumsi di dalam gedung—serta bahan-bahan bangunan.

Kini semakin banyak kontraktor dan pemerintah kota yang menyadari betapa besar manfaat yang dapat diambil. Karena itu, gerakan bangunan hijau terus berkembang. Di Amerika Serikat, persentase gedung perkantoran komersial yang bersertifikat LEED atau Energy Star meningkat ke angka 38 persen pada tahun 2017 dibandingkan kurang dari 5 persen pada tahun 2005.

Namun demikian, perubahan bertahap dari satu gedung ke gedung lainnya tidak cukup untuk menangkap potensi luar biasa dari konsep bangunan hijau. Andrew Steer, presiden dan CEO World Resources Institute, adalah narasumber utama pada pembukaan rapat pleno World Green Building Council Congress. World Green Building Council (WGBC) menanyakan cara untuk mengatalisasi gerakan bangunan hijau di seluruh dunia.

WGBC: Bagaimana Anda melihat peran industri bangunan hijau dalam menghadapi tantangan terkait ekonomi global dan sumber daya alam?

Pada 2050, luas lantai gedung secara global diperkirakan akan berlipat ganda hingga melebihi angka 415 miliar meter persegi dan kebutuhan energi gedung-gedung tersebut kemungkinan akan turut meningkat hingga 50 persen. Sebagai aset jangka panjang dengan usia penggunaan rata-rata 50-100 tahun, cara kita membangun gedung hari ini akan berdampak dalam jangka panjang, melebihi keputusan lainnya, terutama di beberapa wilayah dengan pertumbuhan tinggi seperti India, Cina dan Afrika.

Sayangnya, aksi iklim untuk sektor bangunan terbilang lamban. Pada praktiknya, konsumsi energi rata-rata per orang di sektor bangunan global tidak berubah sejak tahun 1990. Padahal, peningkatan energi gedung berpotensi menjadi sumber pengurangan emisi rendah biaya terbesar dengan manfaat kesetaraan yang signifikan melalui penurunan tingkat kekurangan energi. Tiga perempat NDC belum mengikutsertakan bangunan dan dua pertiga negara masih belum memiliki aturan energi bangunan wajib, yang merupakan metode paling mudah dalam mengurangi gas rumah kaca (GHG).

Untuk menekan kenaikan suhu global di tingkat 2°C saja membutuhkan kemauan yang sangat besar. Skenario 2-Derajat IEA membutuhkan penurunan emisi C02 terkait bangunan hingga 85 persen pada tahun 2060 dari tingkat emisi CO2 saat ini. Artinya, semua gedung baru harus bebas karbon pada tahun 2030 dan semua gedung, baik baru maupun lama harus bebas karbon pada tahun 2050.

Apa tantangan terbesar bagi industri bangunan hijau untuk mengubah iklim pembangunan secara global?

Berbeda dengan sektor lain, teknologi dan teknik desain gedung bebas karbon telah tersedia dengan harga yang bersaing: mulai dari prinsip desain pasif, peralatan dan penyimpanan hemat energi, material dengan karbon negatif sampai produksi energi bersih di dalam dan luar lokasi. Jelas perubahan bertahap dari satu izin ke izin lainnya tidak lagi cukup. Kita harus membuat perubahan yang lebih besar untuk mengubah ekspektasi pasar—terutama di beberapa wilayah dengan pertumbuhan tinggi—mengenai kriteria aset bangunan yang dapat diterima. Hal ini memerlukan pendekatan dekarbonisasi berbasis sistem yang:

  1. Mengintegrasikan rancangan bangunan, peralatan bangunan, kapasitas listrik, kendali, energi terbarukan dan area penyimpanan ke dalam desain konstruksi dan renovasi yang baru.
  2. Mengintegrasikan penggunaan energi panas maupun listrik bangunan-bangunan di masyarakat atau area mereka.
  3. Menghubungkan bangunan dengan jaringan listrik.

Sebagai tindak lanjut, mohon Anda sebutkan tiga contoh keberhasilan inovasi bangunan hijau dalam mengatasi masalah karbon.

Cina tengah mengalami urbanisasi besar-besaran yang dapat meningkatkan penggunaan energi bangunan hingga 40 persen dalam 15 tahun ke depan. Sekarang, pertanyaannya adalah: Bagaimana mereka yang bertanggung jawab atas pembangunan gedung—sebut saja kota, kampung dan pengembang—dapat memenuhi sasaran agresif yang dicanangkan oleh pemerintah nasional? Distrik Changning di Shanghai yang baru-baru ini menerapkan platform pemantauan energi yang kini dapat melacak 160 dari total 165 gedung umum di distrik tersebut merupakan salah satu contoh sukses. Berkat proyek tersebut, 32 gedung telah dirancang ulang untuk menghemat energi sebesar rata-rata 20 persen. Untuk mendorong renovasi 133 bangunan lainnya, distrik tersebut mungkin akan menerapkan sistem pemeringkatan yang dikelola oleh pihak ketiga untuk menilai kinerja energi gedung-gedung tersebut, sebuah strategi yang terbukti efektif di daerah lain. Distrik tersebut juga menyediakan subsidi sebesar 23 juta Yuan (US$3.34 juta) bagi manajer pengelola gedung untuk membangun gedung yang lebih efisien. Inisiatif ini memperpendek periode pengembalian bagi sektor swasta, sehingga mereka terdorong untuk memberikan tambahan investasi sebesar 140 juta Yuan ($20.33 juta).

WRI Ross Center merupakan mitra koordinator Building Efficiency Accelerator (BEA), sebuah kemitraan publik dan swasta untuk Sustainable Energy for All dengan 30 mitra yurisdiksi dan lebih dari 35 mitra teknis. BEA mendukung sasaran untuk melipatgandakan upaya peningkatan efisiensi energi di seluruh dunia pada 2030. Dalam konteks ini, kemitraan FSCI dan BEA menggabungkan keahlian BEA dalam sektor bangunan dengan keahlian FSCI dalam model bisnis dalam mendampingi kota-kota tersebut merancang ulang perkotaan mulai dari pengembangan ide hingga implementasi.

Financing Sustainable Cities Initiative baru-baru ini melakukan studi kasus untuk mempelajari 16 program retrofit perkotaan dan proyek pemetaan elemen-elemen yang terlibat dalam model bisnis yang sukses. Kami menemukan beberapa kota menggunakan sederet mekanisme, termasuk pungutan tarif energi, obligasi pemerintah kota dan pinjaman lunak. Terlebih lagi, kami menemukan bahwa beberapa kota yang berhasil juga menggunakan sebagian anggaran publik, seperti biaya pemeliharaan fasilitas, dalam model bisnis mereka. Pada sebuah lokakarya yang diselenggarakan baru-baru ini di Mexico City dan Medellin, Kolombia, kami menemukan berbagai pendekatan berbeda yang diterapkan sejumlah kota, termasuk tuan rumah sendiri, yang menggunakan biaya iklim yang telah ditentukan untuk membiayai putaran pertama retrofit mereka sambil mencari opsi pembiayaan lain untuk menargetkan renovasi gedung perkotaan dalam jumlah yang lebih besar.

Andrew Steer akan menyampaikan presentasi 'Building a Better Tomorrow' pada pembukaan rapat pleno yang berlangsung pada Rabu, 6 Juni, pada Building Lasting Change 2018 dengan WorldGBC Congress Canada. Untuk informasi lebih lanjut dan pendaftaran, kunjungi www.cagbc.org/blc2018

Bagikan

Tambahkan komentar baru

Tetap Terhubung

Dapatkan Nawala Kami

Dapatkan tulisan, kegiatan, publikasi, dan materi multimedia terbaru. Silakan berlangganan nawala WRI Indonesia yang terbit setiap bulan.