Anda di sini

Rethinking Urban Planning in a Changing Climate

Updated:

Seberapa serius dampak perubahan iklim terhadap lingkungan perkotaan? Bagaimana cara membangun kota yang tahan perubahan iklim? Ayo belajar dari para ahli tentang tantangan perubahan iklim terhadap kota tinggal kita.

Pembicara:

  • Oswar Mungkasa, Deputi Gubernur DKI Jakarta Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup
  • Nirarta Samadhi, Direktur WRI Indonesia
  • Andy Simarmata, Ikatan Ahli Perencana Indonesia

The Indonesian Young Thought Leaders on Environment 2017 juga akan diperkenalkan setelah sesi presentasi. Kirim esaimu sekarang untuk kesempatan magang di kantor WRI di Indonesia dan Washington DC. Pelajari lebih lanjut di sini.

data

Bagikan

Recap

Pada hari Jumat, 27 Januari 2017, WRI Indonesia bekerja sama dengan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) mengadakan sebuah talk show bertajuk “Rethinking Urban Planning in a Changing Climate” di @america, Pacific Place Mall. Acara ini dihadiri lebih dari 200 orang yang berasal dari berbagai latar belakang, seperti mahasiswa, pekerja profesional di sektor privat, sektor pemerintahan, dan juga jurnalis.

Topik ini diangkat untuk mendekatkan diskusi tentang perubahan iklim di tingkat kota, yang berkontribusi pada 70 persen emisi gas rumah kaca global. Seiring dengan perkembangan kota yang dinamis, kota semakin rentan terkena dampak perubahan iklim, seperti kenaikan permukaan air laut, banjir, badai yang lebih sering dan lebih parah, serta musim panas dan dingin yang lebih ekstrem. Perubahan iklim tersebut tentunya akan berdampak pada penurunan kualitas kehidupan perkotaan, sehingga perlu bagi kota untuk mengintegrasikan perencanaan kota dengan perubahan iklim.

Talk show ini mengundang empat pakar dalam isu perubahan iklim dan perencanaan tata ruang kota. Pertama, Dr. Nirarta Samadhi, Direktur WRI Indonesia memaparkan keadaan iklim di bumi dan dampaknya bagi perkotaan. Diskusi dilanjutkan dengan paparan oleh Dr. Oswar Mungkasa, Deputi Gubernur DKI Jakarta Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup mengenai inisiatif yang sedang berjalan di kota Jakarta untuk menghadapi perubahan iklim. Salah satu dari program andalannya adalah pengadaan taman-taman kota serta Jakarta Smart City yang juga turut melibatkan masyarakat dalam pelaksanaannya.

Andy Simarmata, perwakilan dari Ikatan Perencanaan Indonesia juga menekankan bahwa perubahan iklim merupakan isu lintas sektor sehingga kota perlu memiliki ketahanan iklim. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kota secara sistematis harus mengembangkan ruang yang meminimalisir kehilangan dan kerugian dari dampak perubahan iklim serta memungkinkan masyarakat untuk hidup dengan pengeluaran emisi karbon yang rendah. Pembicara terakhir, Oke Fifi Abriany dari Gerakan Hutan Itu Indonesia juga turut menjelaskan inisiatif yang dapat melindungi hutan sehingga bermanfaat untuk perkotaan.

Setelah pemaparan masing-masing pembicara, sesi tanya jawab dengan peserta pun dimulai. Kesimpulan dari diskusi ini adalah bahwa perubahan iklim sedang terjadi dan perubahan perilaku dapat dimulai dari diri sendiri dari hal yang paling sederhana, seperti penghematan konsumsi air untuk keperluan lain selain minum. Selain itu, sosialisasi pada warga kota juga harus dituangkan dalam bahasa yang sederhana dan relevan dengan kehidupan sehari-hari penduduk kota, khususnya penduduk kota dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah.

Acara talkshow ini ditutup dengan peluncuran “Indonesian Young Thought Leaders on Environment”, sebuah program bimbingan yang diselenggarakan oleh WRI Indonesia dan FPCI. Program ini diawali dengan sebuah kompetisi esai dan pemenangnya berkesempatan magang di WRI Indonesia dan kantor WRI global di Washington, D.C, Amerika Serikat.

Tetap Terhubung

Dapatkan Nawala Kami

Dapatkan laporan, informasi acara, publikasi, dan berbagai bahan multimedia kami. Silakan mendaftar untuk membaca nawala WRI Digest yang terbit setiap dua minggu dan berbagai nawala lainnya.