Anda di sini

Kebakaran, Pekebun, dan Krisis Iklim

Ditulis oleh Thontowi Suhada, Peneliti Komoditas Berkelanjutan.

Di Indonesia, kebakaran lahan dan hutan seringkali dikaitkan dengan pembukaan lahan baru, khususnya yang diperuntukkan bagi perkebunan. Salah satu narasi yang paling sering muncul adalah bahwa kebakaran merupakan ulah para pekebun yang membuka lahan untuk memperluas kebunnya agar dapat ditanami kelapa sawit atau komoditas lain.

Tidak dapat dipungkiri, pembakaran lahan memang masih kerap terjadi hingga saat ini. Namun kita juga perlu melihat bahwa ada pula pekebun yang bertanggung jawab dan peduli terhadap kelestarian lingkungan. Tulisan ini akan membahas kisah para pekebun dari dua kabupaten di Riau yang sedang berusaha berbenah dan mulai melakukan perubahan.

Pekebun di Rokan Hulu Belajar Padamkan Kebakaran

Panas terik matahari sangat terasa siang itu, namun pekebun yang ikut serta dalam pelatihan pemadaman kebakaran justru terlihat bersemangat. Pelatihan ini adalah rangkaian dari pelatihan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) serta Praktek Budidaya Terbaik untuk pekebun sawit swadaya yang tengah kami dampingi di Rokan Hulu, sebuah kabupaten di Riau yang berbatasan langsung dengan Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Siang itu kami beruntung bisa menghadirkan BPBD, Badan Penanggulangan Bencana Daerah untuk dapat berbagi tentang praktek pencegahan dan pemadaman kebakaran.

Dalam pelatihan lapangan ini pekebun kembali diingatkan akan bahaya api, terutama di musim kemarau, dan pentingnya peran masyarakat untuk mencegah terjadinya kebakaran. BPBD memperkenalkan penggunakan alat pemadam kebakaran, baik untuk menanggulangi api skala kecil di gudang misalnya, atau pun skala besar seperti kebakaran lahan. Mereka pun langsung mencoba mengoperasikan alat-alat tersebut dalam sebuah simulasi kebakaran.

Pelatihan Pengendalian Api untuk Pekebun Sawit bersama BPBD, Kredit foto: Shofia

Pekebun di Siak Siap Siaga Padamkan Api

Bila pekebun di Rokan Hulu baru mulai berbenah melalui pelatihan dan praktek lapangan, pekebun di Kabupaten Siak, Riau, telah lebih dulu melangkah. Di Desa Kotoringin, di bawah Koperasi Beringin Jaya, puluhan pekebun sawit juga bekerja sebagai Manggala Agni, brigade pengendalian kebakaran hutan. Selain itu banyak pula pekebun yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Api (MPA), kelompok masyarakat yang peduli sekaligus menjadi mitra Manggala Agni dalam pengendalian kebakaran.

Manggala Agni di Siak sedang beraksi memadamkan api. Kredit foto: Thontowi Suhada

Tak jarang bila musim kemarau dan muncul laporan titik api, mereka meninggalkan pekerjaan mereka di kebun sawit untuk bahu-membahu memadamkan api. Secara berkala, mereka juga berpatroli ke beberapa lokasi rawan kebakaran di Siak. Saat tulisan ini dibuat, Pak Amril, seorang pekebun sawit yang juga merupakan anggota Manggala Agni tengah berjuang memadamkan api yang diperkirakan seluas 6 hektar di Desa Suka Mulya, kecamatan Dayun, Siak. Pemadaman ini dapat berlangsung berhari-hari bahkan berminggu-minggu lamanya.

Sebagai daerah dengan wilayah gambut yang cukup luas, Siak menjadi daerah yang rawan akan kebakaran gambut. Gambut yang terbakar akan sulit untuk dipadamkan sehingga dapat memperparah asap yang berbahaya bagi kesehatan. Oleh karena itu, peran masyarakat, khususnya pekebun sawit sangat diperlukan untuk menjaga lahan dan mencegah terjadinya kebakaran. Pencegahan kebakaran di gambut umumnya dilakukan dengan pembasahan lahan melalui pembuatan sekat kanal. Hal ini juga telah dilakukan oleh pekebun di Koperasi Beringin Jaya dengan membangun puluhan sekat parit maupun kanal yang nantinya akan mampu kembali membasahi lahan gambut.


Pembuatan sekat kanal untuk pembasahan gambut

Memutus Lingkaran Setan antara Kebakaran dan Krisis Iklim

Tahun ini kebakaran hebat kembali terjadi di berbagai tempat di seluruh dunia, dari hutan hujan Amazon di Brasil, Pulau Bribie Australia, California Amerika Serikat, Pulau Canary di Spanyol, Hutan Siberia di Rusia, dan tak terkecuali Indonesia. Krisis iklim dan kebakaran hutan adalah sebuah reinforcing loop, sebuah keadaan ketika dua atau lebih kejadian memiliki hubungan yang saling menguatkan. Ketika kebakaran terjadi, gas karbon-dioksida akan terlepas ke atmosfer, meningkatkan suhu global dan cuaca ekstrem, yang akan kembali meningkatkan kemungkinan munculnya kebakaran. Hubungan ini akan semakin kuat seiring waktu dan pada suatu titik akan menjadi tidak lagi dapat dikendalikan.

Menerjemahkan solusi permasalahan tingkat global dalam bentuk kerja-kerja di tingkat tapak adalah keseharian di WRI Indonesia. Permasalahan global seperti lingkaran setan antara krisis iklim dan kebakaran ini perlu diputus. Perubahan-perubahan kecil seperti di Rokan Hulu dan Siak adalah contoh-contoh peran pekebun yang menjadi sangat signifikan dalam memutus rantai ini. Menjadi katalisator perubahan-perubahan ini seringkali kami wujudkan dalam kerja-kerja yang sangat granural dan personal: berinteraksi langsung dengan pekebun, mendengarkan permasalahan mereka, dan berdiskusi bersama untuk menemukan kekuatan-kekuatan yang dapat di arahkan untuk menyelesaikan solusi. Perubuhan-perubahan yang terjadi seringkali diawali dari ruang interaksi kami di kebun-kebun sawit, di bawah rindang pohon durian, atau di warung-warung kopi. Namun dari proses-proses ini lah kami bisa memahami bagaimana akar rumput memahami gaung-gaung yang ada di langit. Dari proses ini lah peran WRI sebagai katalis diwujudkan.

Sudah saatnya kita mulai berbenah, bahkan seperti kata Greta, aktivis lingkungan muda asal Swedia yang menggagas Friday for Future, “mulai untuk panik selayaknya rumah kita sedang terbakar, karena memang rumah kita sedang terbakar.”

Fires, forest

Bagikan

Tambahkan komentar baru

Tetap Terhubung

Dapatkan Nawala Kami

Dapatkan tulisan, kegiatan, publikasi, dan materi multimedia terbaru. Silakan berlangganan nawala WRI Indonesia yang terbit setiap bulan.