Anda di sini

Akhir Tahun dan Musim Penghujan: Waktu Terbaik untuk Bermain Monopoli

Oleh Wiraditma Prananta, Peneliti Wahana Riset Indonesia

Hampir semua orang mengenal permainan papan klasik monopoli. Permainan ini juga dapat membawa kita bernostalgia dengan masa kecil saat berkumpul, bergurau, bercerita, bahkan tidak sedikit menuai keributan akibat tidak terima di kala harus membayar sewa rumah atau hotel saat melintas di “lahan” milik teman. Permainan ini pun berakhir ketika hanya ada satu orang yang menjadi tuan tanah beserta rumah atau hotel yang telah dibangun dan berhasil mengumpulkan banyak “uang sewa” dari pihak lainnya, sementara yang lain? Bangkrut.

Sejatinya, monopoli memiliki pesan bahwa pemain yang dapat memanfaatkan dan mengembangkan sumber dayanya hingga mencapai puncak kejayaan dan menimbulkan kesenjangan ekonomi yang lebar, maka dialah yang menjadi pemenang. Padahal, jika mengingat kembali proses awal permainan ini, pemain memulai dengan pecahan uang yang yang sama persis yang berarti semua memiliki modal yang sama.

Tulisan ini bukan ingin membahas bagaimana sang pemain monopoli dapat bertransformasi menjadi penguasa tunggal. Ada hal yang lebih menarik, ketika permainan ini ternyata dapat ditemui dalam kehidupan nyata. Ya, nyata! Tetapi bukan seperti Pokemon Go! yang bertransformasi dari permainan Nintendo menjadi permainan augmented reality. Hal ini nyata bahwa memang dalam kehidupan sehari-hari, monopoli memang ada! Ada yang kaya, memiliki lahan dan uang banyak namun ada pula yang menggantungkan kehidupannya pada pemilik lahan dan modal.

Contoh peristiwa monopoli versi nyata ini saya temukan di desa-desa yang ada di sepanjang Sungai Subayang, Kampar Kiri, Riau. Bersama rekan peneliti Wahana Riset Indonesia, Dwiki dan Astri, pada awal Desember 2017 kami menuju Desa Gajah Bertalut untuk keperluan pengumpulan data lapangan dan membantu proses penulisan buku profil desa. Sesaat sebelum perjalanan, saya sudah membayangkan untuk menikmati satu setengah jam perjalanan menyusuri Sungai Subayang yang jernih dan dikelilingi hijaunya pepohonan hutan Sumatera.

<p>Beberapa Pemuda dari Arah Hulu Menarik Kayu dengan Sampan. Foto oleh Wiraditma Prananta</p>

Beberapa Pemuda dari Arah Hulu Menarik Kayu dengan Sampan. Foto oleh Wiraditma Prananta

Namun, kenyamanan saya mulai terusik ketika saya berpapasan dengan beberapa orang bersampan yang menarik gelondongan kayu yang akan dibawa menuju Pelabuhan Gema tempat kami bertolak tadi. Belum lagi, saat dua hari terakhir saya berada di Gajah Bertalut, hujan besar mengguyur di saat malam hari yang membuat sungai meluap. Esok paginya ketika hujan berhenti, seorang pemuda mengajak saya pergi ke tepi sungai melihat mereka mengamankan 12 potongan kayu yang hanyut. Menurut pemuda tersebut kayu ini berasal dari Desa Pangkalan Serai di wilayah hulu sungai.

Hal pertama yang terlintas di pikiran saya mengenai kayu-kayu tersebut adalah hasil tebangan masyarakat di wilayah yang seharusnya menjadi wilayah konservasi. Namun, setelah saya melihat semua kayu-kayu yang hanyut, ternyata semuanya terdapat tanda “MS”. Ketika saya bertanya kepada pemuda yang sedang sibuk mengikat kayu, mereka menjelaskan bahwa kayu ini dimiliki oleh seorang tengkulak (bahasa lokal: tauke) yang sering dikenal sebagai “Pak Imut”. Saya pun penasaran dengan pernyataan itu dan kembali menelusuri bagaimana bapak tersebut dapat menjadi tauke kayu. Pemuda tersebut menjelaskan bahwa biasanya tauke memberi upah serta bekal kepada pemuda-pemuda di desa untuk masuk ke hutan dan menebang pohon. Lalu, kayu-kayu yang sudah ditebang tersebut ditandai dan dibawa ke pinggir sungai untuk menunggu musim penghujan tiba dan kayu dihanyutkan ke Pelabuhan Gema.

<p>Kayu dengan Tanda MS. Foto oleh Wiraditma Prananta</p>

Kayu dengan Tanda MS. Foto oleh Wiraditma Prananta

Saat musim hujan, tauke akan menunggu di sekitar pelabuhan dan mengumpulkan kayu-kayu yang telah mereka beri tanda untuk selanjutnya dibawa dengan menggunakan truk, entah kemana. Namun, bila kayu tersebut “tersangkut” di desa-desa sebelum Gema, maka sang tauke harus memberikan tip kepada masyarakat – seperti yang dilakukan pemuda-pemuda Gajah Bertalut ini – yang telah mengamankan dan mengikat kayu-kayunya.

<p>Panen Kayu: Proses pengangkatan kayu yang telah tiba di Gema dengan menggunakan truk. Tim peneliti sempat mendapatkan ancaman dari seseorang di atas truk yang mengatakan akan menghancurkan kamera saat sedang mengambil foto. Foto oleh Wiraditma Prananta.</p>

Panen Kayu: Proses pengangkatan kayu yang telah tiba di Gema dengan menggunakan truk. Tim peneliti sempat mendapatkan ancaman dari seseorang di atas truk yang mengatakan akan menghancurkan kamera saat sedang mengambil foto. Foto oleh Wiraditma Prananta.

Fenomena ini cukup menarik ketika para pemuda penebang pohon ternyata tidak mendapat keuntungan yang besar dari proses yang sebenarnya adalah tindakan ilegal ini. Dalam perspektif mereka, menebang ataupun mengambil hasil hutan lain semata-mata hanya untuk memenuhi kebutuhan primer maupun tersier (seperti rokok). Memang, berdasarkan pengamatan rekanku Astri, masyarakat di Gajah Bertalut (dan juga dapat terjadi di sekitarnya) tidak memiliki budaya menabung.

Hal inilah yang menjadi celah ‘pemilik modal’ untuk menguasai sumber daya. Dengan memberi upah dan modal untuk memotong kayu sang tauke lalu dapat menguasai kepemilikan kayu dan menjualnya entah kemana. Bagaikan permainan monopoli, ternyata sang tauke-lah yang pada akhirnya menjadi penguasa sumber daya. Sedangkan yang lain hanya menggantungkan hidupnya dari sang tauke dalam siklus dibiayai untuk masuk hutan dan menebang pohon lalu hasilnya biarlah sang pemodal yang memanen.

Bagikan

Tambahkan komentar baru

Tetap Terhubung

Dapatkan Nawala Kami

Dapatkan tulisan, kegiatan, publikasi, dan materi multimedia terbaru. Silakan berlangganan nawala WRI Indonesia yang terbit setiap bulan.