Anda di sini

Budaya Ekstraksi di Kelurahan Mangun Jaya, Sumatera Selatan.

Oleh Hendrika Tiarma Wulandari Samosir, peneliti Wahana Riset Indonesia.

Kehidupan masyarakat sangat dipengaruhi oleh akses seseorang terhadap sumber daya alam yang ada di wilayah tersebut. Menurut informan yang saya temui di wilayah Kelurahan Mangun Jaya, Kecamatan Babat Toman, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, dahulu wilayah ini merupakan kawasan hutan. Kayu, rotan dan madu menjadi komoditas yang sering dimanfaatkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Bahkan pemburuan terhadap satwa liar seperti macan, singa, beruang, rusa dan trenggiling sering dilakukan dalam rangka meningkatkan taraf perekonomian seseorang. Selain hutan, masyarakat juga memanfaatkan sumber daya yang berasal dari Sungai Musi seperti ikan patin, ikan baung, ikan lais, ikan salam serta ikan-ikan kecil lainnya. Budaya mengambil kekayaan alam tanpa melakukan budidaya merupakan kegiatan yang biasa dilakukan.

Kambing Dikandangi

Ketika dalam perjalanan dari Sekayu menuju Mangun Jaya, mobil yang kami tumpangi sering dikagetkan dengan kegiatan kawanan hewan ternak di jalan raya. Mulai dari kambing yang menyebrang hingga yang adu tanduk di tengah jalan. Lucu memang, karena kami harus menunggu selesainya atraksi kambing yang jarang kami lihat di jalan-jalan antar provinsi di Pulau Jawa.

Sesampainya di salah satu rumah warga di Kelurahan Mangun Jaya, saya melihat tanaman mangga di depan rumah yang diberi pagar. Keingintahuan ini saya lontarkan kepada Ibu pemilik rumah melalui pertanyaan, “Ibu, pohon mangganya kenapa dipagarin?”, dengan santai si Ibu menjawab “Ya kalau gak dipagar, dimakan sapi sama kambing, mbak. Ya saya sadar diri, abis idak galak juga negur yang punya”. Kejadian ini mengingatkan saya pada atraksi kambing di tengah jalan tadi. Selain hewan yang membahayakan pengguna jalan, ternyata hewan ternak yang berkeliaran bebas juga merusak tanaman di pekarangan rumah, dari sisi kebersihan, banyak kotoran hewan yang berserakan di jalan desa ini. Hal yang lebih mengagetkan saya adalah masyarakat sudah terbiasa dengan fenomena meliarkan hewan ternak ini.

Pertanyaan yang kemudian muncul dari kepala saya adalah mengapa masyarakat tidak mau atau mungkin tidak bisa mengandangi hewan ternaknya. Dari sisi ekonomi, membangun kandang membutuhkan biaya yang cukup mahal, masyarakat harus menyiapkan modal agar kandang dapat dibangun. Lembaga-lembaga simpan pinjam atau koperasi tidak dimiliki kelurahan ini. Seringkali warga yang membutuhkan modal harus meminjam kepada lembaga simpan pinjam informal dengan bunga yang cukup besar sedangkan meminjam dari bank tidak menjadi pilihan warga karena persyaratan rumit yang ditawarkan. Kebiasaan mengambil sumber daya alam melalui ekstraksi tidak dibarengi dengan tumbuhnya kesadaran untuk melakukan budidaya hewan ternak. Hewan ternak yang tidak dibudidayakan selain membahayakan pengemudi di jalan raya dan mengotori lingkungan, harga jual ternak tidak akan setinggi hewan ternak yang dibudidaya.

Selain budidaya ternak, budidaya tanaman tidak terlalu terlihat di wilayah ini. Sayuran dan buah mereka dapatkan di pasar. Kebanyakan pemasok buah dan sayuran berasal dari desa-desa transmigran di sekitar Kabupaten Musi Banyuasin. Kesadaran budidaya yang rendah menyebabkan kebutuhan sehari-hari yang bisa didapatkan dari kebun secara mandiri tidak terjadi di wilayah ini. Kebergantungan terhadap kekayaan alam yang cukup tinggi, menyebabkan masyarakat lupa memikirkan bagaimana nasib hutan di Mangun Jaya pada masa mendatang. Saat ini hutan di Mangun Jaya sudah berganti menjadi perkebunan karet dan sawit. Perusahaan-perusahaan besar menjepit lahan garapan masyarakat, menyedot pasokan irigasi sawah dengan kanal-kanal besar. Hutan menjadi gundul, ikan di Sungai Musi mulai sulit didapatkan, sawah-sawah mengering. Peristiwa ini menimbulkan tren baru di wilayah ini, yaitu tren pengeboran minyak yang kembali diperkuat dengan budaya ekstraksi sebagian besar masyarakat Mangun Jaya.

Minyak, Mujur, Ajur

Tren minyak ini muncul seiring dengan kebutuhan masyarakat yang meningkat, seperti kebutuhan pokok pangan dan sekolah bagi anak. Sawah yang gagal panen di wilayah ini tidak lagi mampu menjawab permintaan akan kebutuhan pangan di Mangun Jaya. Masyarakat harus membeli beras dari wilayah lain dengan harga yang lebih mahal. Sekolah di Mangun Jaya mengharuskan anak untuk membayar biaya SPP, buku dan seragam yang dianggap orang tua cukup tinggi sedangkan hasil perkebunan karet yang tidak seberapa, hal ini juga diperparah dengan turunnya harga jual karet. Selain harga karet yang terus menurun, lahan-lahan yang biasa mereka pergunakan untuk menanam karet mulai berganti dengan tanaman sawit perusahaan.

Pada proses pengeboran minyak terdapat beberapa pelaku ekonomi di dalamnya seperti (a) pemodal; (b) pengebor minyak/pengelot; (c) penyuling minyak; (c) pembawa minyak/ tekmon; dan (e) toke.

Pemodal berusaha mengumpulkan uang untuk melakukan pengeboran di suatu titik. Begitu besarnya modal yang dibutuhkan mengharuskan warga membentuk kelompok-kelompok kecil pemodal. Uniknya masyarakat hanya mengandalkan keberuntungan dalam menentukan titik dimana lubang bor akan ditancapkan, “Ya kalau tidak mujur nasibnya, ya ga akan dapat”. Layaknya dua sisi mata uang, yang beruntung akan mendapatkan keuntungan besar secara cepat sedangkan yang kurang beruntung akan merugi atau bahkan harus menanggung malu keluar dari desa karena berhutang.

Asap-asap pekat hitam membumbung tinggi menjadi tanda bahwa terdapat penyulingn minyak di wilayah tersebut.

Penyulingan minyak di Mangun Jaya. Foto oleh Hendrika Tiarma Wulandari Samosir.

Proses penyulingan membutuhkan waktu yang cukup lama, sekitar sepuluh hingga dua belas jam. Yang biasanya keluar terlebih dahulu adalah bensin, kemudian solar, dan yang terakhir adalah minyak tanah. Risiko tinggi harus dihadapi masyarakat yang bekerja di tempat penyulingan, bahkan tak jarang kecelakaan kerja menyebabkan kelumpuhan terjadi. Setiap hasil minyak ini disalurkan ke toke, seseorang yang memiliki kekuatan ekonomi dan bahkan terkadang memiliki akses terhadap pembentukan suatu kebijakan, yang bertugas menampung seluruh hasil sulingan minyak yang ada. Harga yang dipatok oleh toke mengikuti harga minyak dunia pada saat itu. Hasil dari pengebor minyak akan dibawa menggunakan mobil-mobil L300 yang disebut masyarakat lokal sebagai tekmon.

Tekmon. Foto oleh Hendrika Tiarma Wulandari Samosir.

Pengelolaan sumber daya minyak menawarkan keuntungan besar dan cepat yang mendorong masyarakat bergelut dibidang yang berisiko tinggi. Cerita keberhasilan seseorang dalam mengebor minyak akan menyebar dengan cepat di desa, secara psikologis juga akan menimbulkan rasa ingin mengadu keberuntungan.

Namun, ada hal yang membuat saya sedih ketika melihat desa ini, minyak tumpah disekitar tempat pengeboran membuat rumput dan tanaman menghitam dan setelah itu hanya ditinggalkan. Pengeboran dilakukan tidak hanya di lahan-lahan kosong namun juga di lahan-lahan perkebunan yang sangat merusak vegetasi di sekitarnya. Entah apa yang akan terjadi beberapa puluh tahun mendatang di wilayah ini, apabila pengeboran tradisional ini masih terus dilakukan.

Tempat penampungan minyak di Kel. Mangun Jaya yang ditinggalkan para pengebor tradisional. Foto oleh Hendrika Tiarma Wulandari Samosir.

Kebiasaan masyarakat di wilayah ini masih didominasi oleh budaya ekstraksi yang mengambil sumber daya alam secara langsung tanpa mengolahnya terlebih dahulu, ya memang keuntungan besar bisa diperoleh dengan waktu yang singkat namun juga perlu diingat budaya ini juga berpengaruh pada lekas habisnya kekayaan alam di wilayah Mangun Jaya.

Bagikan

Tambahkan komentar baru

Tetap Terhubung

Dapatkan Nawala Kami

Dapatkan tulisan, kegiatan, publikasi, dan materi multimedia terbaru. Silakan berlangganan nawala WRI Indonesia yang terbit setiap bulan.