Anda di sini

Peranan Perempuan di Desa Tandun

Oleh Hendrika Samosir, Peneliti Muda WRI Indonesia.

Peranan seseorang dalam kehidupan sehari-hari dibagi menjadi empat peranan besar yaitu (a) expected roles, peranan yang ideal menurut pandangan masyarakat; (b) actual roles, peranan yang disesuaikan dan sebenarnya dijalankan di kehidupan sehari-hari; (c) ascribed roles, peranan yang diperoleh secara langsung tanpa membutuhkan usaha; dan (d) achieved roles, peranan yang diperoleh berdasarkan keputusan sendiri (Narwoko dalam Angelia E. Manembu, 2017)

Berdasarkan Profil Desa Tandun 2018, jumlah penduduk mencapai 7.178 jiwa dengan komposisi laki-laki 3671 jiwa dan perempuan 3507 jiwa. Dari jumlah ini tidak dapat dipungkiri peranan perempuan akan mempengaruhi sendi sosial, ekonomi dan politik di Desa Tandun, Rokan Hulu, Riau. Melalui tulisan ini, saya akan mencoba menceritakan beberapa potret peranan perempuan di Desa Tandun berdasarkan interaksi sehari-hari yang saya alami.

<p>Diskusi dengan Istri- Istri Pemilik Kebun Sawit captured by: Thontowi Suhada/WRI Indonesia</p>

Diskusi dengan Istri- Istri Pemilik Kebun Sawit captured by: Thontowi Suhada/WRI Indonesia

“Bu harga pupuk sawit sekarang satu sak-nya berapa?” “Wah saya gatau, bentar saya telepon suami saya…”

“Istri saya ga saya perbolehkan ke ladang bu..." “Jauh nanti capek...” “Biar dia urus anak-anak di rumah saja”

“Kalo urusan kebun mah urusan bapak-bapak mbak...”

Dari interaksi saya di Desa Tandun, Kabupaten Rokan Hulu, Riau, saya melihat beberapa peranan perempuan yang dianggap ideal oleh masyarakat atau expected roles. Peranan perempuan ini dibenarkan beberapa ibu dan bapak saat diskusi singkat, bahwa perempuan diharapkan berada di rumah untuk mengurus anak dan dapur. Akan tetapi, perkembangan zaman serta peningkatan kebutuhan ternyata menuntut pelibatan perempuan di lini-lini pemanfaatan sumber daya alam seperti pengelolaan sawit dan pasir di Desa Tandun. Perubahan peranan sosial perempuan sangat bergantung pada situasi dan kondisi yang dihadapi dan karakter masing-masing individu, walaupun pada prosesnya, pelibatan perempuan di luar rumah dianggap sebagai kegiatan tidak biasa dan terkadang tidak mudah diterima oleh masyarakat.

<p>Perempuan yang sedang membantu suaminya membersihkan kebun, captured by: Hendrika Tiarma</p>

Perempuan yang sedang membantu suaminya membersihkan kebun, captured by: Hendrika Tiarma

Sebagai contoh, ketika menuju perkebunan sawit, saya melihat keterlibatan seorang perempuan membersihkan kebun dengan suaminya. Di kesempatan lain, istri Pak W, salah satu petani sawit yang juga adalah pemilik lahan, melakukan berbagai kegiatan di kebun sawit, meskipun pekerjaan yang dilakukan tidak terlalu berat, seperti menyiapkan makanan untuk para pemanen, mengambil brondolan sawit, dan memanen daun pakis muda untuk dimasak. Istri Pak W menyampaikan bahwa baru dua tahun belakangan ini beliau diperbolehkan untuk ikut ke kebun karena usia Pak W yang menua. Selain itu dahulu pandangan perempuan yang pergi berkebun dianggap tidak wajar berbeda dengan sekarang.

<p>Pak W, Carolina Astri dan Ibu di Kebun Sawit, captured by: Hendrika Tiarma</p>

Pak W, Carolina Astri dan Ibu di Kebun Sawit, captured by: Hendrika Tiarma

<p>Ibu A sedang memegang alat dodos atau alat panen berbahan fiber dengan panjang kurang lebih 2 meter Captured by: Hendrika Tiarma</p>

Ibu A sedang memegang alat dodos atau alat panen berbahan fiber dengan panjang kurang lebih 2 meter Captured by: Hendrika Tiarma

Peranan perempuan di luar wilayah domestik keluarga juga dilakukan oleh Ibu A. Berbeda dengan istri Pak W yang merupakan pemilik lahan, Ibu A hanya bekerja sebagai penjaga kebun sawit, sehingga mewajibkan Ibu A untuk melakukan pekerjaan berat, seperti memanen buah sawit dan meracun rumput yang mengharuskan Ibu A memikul tangki dengan berat 18 kg. Selain di kebun sawit, perempuan Desa Tandun juga sering ditemui bekerja di tambang pasir tradisional, melakukan kegiatan pengambilan pasir di sungai, langsir dan menaikan pasir ke truk. Kegiatan-kegiatan ini biasanya dilakukan oleh perempuan Suku Nias. Hal ini diperkuat dengan ucapan seorang pemuda terkait dengan penilaian terhadap perempuan di Desa Tandun, yaitu:

“Kalo mau makan enak, nikah sama orang Jawa”

“Kalo mau ga kerja, nikah sama orang Sumatera (Batak atau Nias)”

“Kalo mau ribut, nikah sama orang sini mbak”

Penilaian ini menjelaskan bahwa perempuan dari Suku Batak dan Suku Nias merupakan tipe pekerja yang biasa melakukan pekerjaan di ruang publik sedangkan perempuan Suku Jawa dan suku setempat sering melakukan pekerjaan di wilayah domestik rumah tangga.

<p>Perempuan di Tambang Pasir Tradisional, captured by: Hendrika Tiarma</p>

Perempuan di Tambang Pasir Tradisional, captured by: Hendrika Tiarma

Kisah-kisah di atas menunjukkan bahwa selain menjalankan peranan bawaan atau ascribed roles seperti menjadi anak, ibu, atau nenek, perempuan juga memiliki peranan pilihan atau achieved roles yang diputuskan oleh pribadi seseorang. Kehidupan sosial yang dinamis memberikan ruang bagi perempuan untuk memilih apa yang terbaik untuk kehidupan dan keluarganya. Peranan ini merupakan pilihan berani bagi seorang perempuan mengingat tenaga dan waktu harus dikorbankan untuk pemenuhan kebutuhan.

Bagikan

Tambahkan komentar baru

Tetap Terhubung

Dapatkan Nawala Kami

Dapatkan tulisan, kegiatan, publikasi, dan materi multimedia terbaru. Silakan berlangganan nawala WRI Indonesia yang terbit setiap bulan.