Anda di sini

Kelapa Sawit Rendah Karbon untuk Indonesia?

Kemitraan Amerika Serikat-Indonesia yang akan datang merupakan sebuah kesempatan untuk mengatasi deforestasi.

Dalam kunjungannya bulan Juni nanti, Presiden Barack Obama dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono diharapkan akan memformalkan “Kemitraan Komprehensif” yang baru di antara Amerika Serikat dan Indonesia, dua negara penyumbang gas emisi rumah kaca terbesar di dunia. Sementara rincian kemitraan ini belum dikeluarkan, satu hal yang pasti: sebuah kemitraan komprehensif yang sungguh-sungguh di antara kedua negara ini merupakan kesempatan yang belum pernah ada sebelumnya untuk membahas tantangan iklim global melalui pengurangan emisi yang bersumber dari deforestasi.

Indonesia telah mengumumkan bahwa strategi kunci untuk “kesejahteraan rendah karbon” adalah penggunaan lahan yang terdegradasi ketimbang hutan atau lahan gambut untuk ekspansi perkebunan kelapa sawit. Penerapan yang efektif dari strategi ini – ditambah dengan dukungan internasional untuk mengatasi deforestasi – dapat membantu menjaga hutan hujan tropis Indonesia yang kaya akan keanekaragaman hayati dan cadangan karbon, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.

Hutan dan Kelapa Sawit: Kebijakan yang Kontradiktif?

Di akhir tahun 2009, Indonesia berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 26 persen pada tahun 2020, atau sebesar 41 persen dengan bantuan asing. Perubahan penggunaan lahan dari deforestasi dan konversi lahan gambut bertanggung jawab terhadap lebih dari 80 persen emisi gas rumah kaca tahunan Indonesia. Indonesia bertekad untuk mencapai sebagian besar target mereka dengan mengurangi emisi gas rumah kaca yang bersumber dari deforestasi dan konversi lahan gambut.

Pada waktu yang bersamaan, menanggapi permintaan lokal dan global yang semakin meningkat, Indonesia bertekad untuk melipatgandakan produksi minyak kelapa sawit mereka saat ini menjadi 40 juta metrik ton setiap tahunnya pada 2020. Menurut beberapa perkiraan, hal tersebut akan membutuhkan 5 juta hektar lahan tambahan untuk perkebunan kelapa sawit (wilayah yang lebih luas dari Swiss).

Rencana ekspansi saat ini meliputi konversi lahan gambut dan hutan. (Foto: WRI)

Kelapa sawit merupakan tanaman yang sangat menguntungkan; dapat digunakan sebagai minyak goreng dan biofuel, serta komposisi di dalam banyak makanan olahan dan kosmetik. Produksi kelapa sawit mendatangkan banyak profit, lapangan kerja, pembangunan infrastruktur, dan pendapatan negara.

Meskipun terjadi peningkatan hasil yang signifikan, ekspansi yang lebih lanjut terhadap penggunaan lahan perlu dilakukan untuk mencapai target-target produksi tersebut. Banyak perkebunan yang telah ditanam di atas lahan yang sebelumnya ditumbuhi hutan. Jika rencana ekspansi dilakukan dengan mengorbankan hutan dan lahan gambut – seperti yang terjadi sebelumnya – Indonesia tidak akan berhasil mencapai target penurunan emisi dan dunia akan terkena dampak hilangnya hutan tropis Indonesia.

Sebuah Solusi: Kelapa Sawit dan Lahan yang Terdegradasi

Sebuah alternatif yang menarik adalah mengembangkan produksi kelapa sawit di lahan yang terdegradasi ketimbang di lahan gambut atau hutan.

Dalam konteks ini, lahan yang terdegradasi mengacu kepada wilayah yang telah kehilangan tutupan bertahun-tahun yang lalu dan saat ini memiliki cadangan karbon dan tingkat keanekaragaman hayati yang rendah, seperti alang-alang dan padang rumput. Menurut analisi ekonomi dari WWF1 dan BAPPENAS2, serta kerja lapangan yang dilakukan oleh WRI dan mitra lokal Sekala, banyak dari wilayah tersebut yang cocok untuk perkebunan kelapa sawit, menghasilkan produksi yang relatif sama dengan perkebunan kelapa sawit yang ditanam di atas lahan yang baru saja dibuka, dan dianggap sebagai lahan yang tidak produktif oleh masyarakat setempat.

[image degraded_forest.jpg align=right width=half Sebuah wilayah yang telah terbuka kini ditumbuhi alang-alang dan pakis, dan mendominasi bentang alam. (Foto: Sekala)]

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa jumlah lahan yang terdegradasi di Indonesia cukup untuk mengakomodasi perkiraan ekspansi kelapa sawit Indonesia hingga melampaui tahun 2020. Pemerintah Indonesia memperkirakan sebuah strategi yang dapat memindahkan produksi kelapa sawit dari wilayah hutan dan lahan gambut dapat mengurangi proyeksi emisi gas rumah kaca sebesar 37 persen tanpa penurunan total keuntungan ekonomi yang signifikan.

Tantangan: Implementasi

Menyadari kesempatan ini, WRI dan Sekala telah bekerja sama untuk memindahkan rencana perkebunan kelapa sawit dari hutan ke lahan yang terdegradasi – sejenis “penukaran lahan” – di Kalimantan Barat, Indonesia (lihat Proyek POTICO). WRI dan mitra kerjanya telah mengidentifikasi empat tantangan kunci dalam penerapan strategi yang efektif dan bertanggung jawab di tingkat nasional dalam menggunakan lahan yang terdegradasi untuk ekspansi perkebunan kelapa sawit:

  • Teknis. Para pembuat kebijakan kekurangan data spasial yang akurat mengenai tutupan lahan dan penggunaan lahan yang diperlukan untuk mengembangkan dan menerapkan strategi pemanfaatan lahan yang terdegradasi secara efektif. Kekurangan ini membatasi kemampuan pemerintah untuk mengidentifikasi lahan yang terdegradasi yang cocok untuk pengembangan kelapa sawit, dan untuk melakukan kegiatan penegakan hukum dan pengawasan kegiatan penggunaan lahan.

  • Hukum. Di banyak wilayah, lahan yang terdegradasi, secara hukum diklasifikasikan sebagai “hutan”, sehingga tidak dapat digunakan untuk pengembangan pertanian, sementara lahan yang ditumbuhi hutan diklasifikasikan secara hukum “non-hutan” sehingga berisiko mengalami konversi.

  • Sosial. Proyek perkebunan kelapa sawit seringkali menghadapi risiko konflik sosial yang tinggi akibat masalah hak tanah. Masalah tersebut menjadi semakin besar di lahan yang terdegradasi karena cenderung memiliki lebih banyak klaim ketimbang wilayah hutan. Secara historis, proyek yang tidak dikelola dengan baik menghasilkan distribusi biaya dan keuntungan yang tidak seimbang, berujung kepada marjinalisasi masyarakat lokal.

  • Finansial. Banyak perizinan yang telah dikeluarkan untuk pengembangan perkebunan di wilayah hutan. Mengubah izin-izin tersebut dan memastikan tata kelola hutan yang berkelanjutan ke depannya akan membutuhkan insentif finansial untuk pemangku kepentingan lokal – perusahaan, masyarakat, dan pemerintah – yang mengharapkan keuntungan dari pengembangan perkebunan. Insentif yang dimaksud dapat berupa bayaran untuk penurunan emisi akibat deforestasi atau keuntungan dari penggunaan hutan yang berdampak kecil bagi lingkungan.

Sebuah Visi untuk Kemitraan Amerika Serikat-Indonesia

Kemitraan komprehensif Amerika Serikat-Indonesia dapat mengatasi tantangan-tantangan tersebut dengan mendukung kegiatan-kegiatan berikut:

  1. Mengembangkan data spasial yang akurat dan terkini untuk membantu Indonesia menerapkan strategi pemanfaatan lahan yang terdegradasi untuk pengembangan kelapa sawit.
  2. Berdasarkan data tersebut, merevisi rencana penggunaan lahan sehingga lahan yang terdegradasi diklasifikasikan sebagai wilayah untuk pertanian, sementara wilayah hutan dan lahan gambut diklasifikasikan untuk konservasi dan tata kelola yang berkelanjutan, melalui sebuah proses yang memasukkan best practices di dalam perencanaan spasial yang partisipatoris.
  3. Mengeluarkan izin ke depannya sesuai dengan perencanaan penggunaan lahan yang telah direvisi, melalui sebuah proses yang memasukkan best practices dalam pendekatan dengan para pemangku kepentingan, termasuk mendapatkan persetujuan yang bebas dan telah diberitahukan sebelumnya kepada masyarakat yang berkepentingan.
  4. Mengembangkan insentif finansial (contohnya melalui sebuah sumber pendanaan, pinjaman dengan bunga ringan, atau mekanisme lainnya) kepada perusahaan, masyarakat, dan pemerintah lokal untuk memindahkan rencana perkebunan dari wilayah hutan ke lahan yang terdegradasi, dan untuk menghasilkan keuntungan dari penggunaan wilayah hutan yang minimal.
  5. Membentuk sistem pengukuran, pelaporan, dan verifikasi (MRV) publik yang memungkinkan Indonesia untuk menegakkan penerapan strategi pemanfaatan lahan yang terdegradasi dan menunjukkan kemajuan menuju pengurangan emisi gas rumah kaca yang bersumber dari perubahan penggunaan lahan.

Dengan mendukung kegiatan-kegiatan tersebut, Kemitraan Komprehensif Amerika Serikat-Indonesia dapat menciptakan kehidupan yang lebih baik di Indonesia melalui ekspansi pertanian yang berkelanjutan sementara menghindari deforestasi mengurangi emisi gas rumah kaca secara global.

Informasi Lebih Lanjut

[image POTICO-logo.png align=left]WRI dan NewPage Meluncurkan Kemitraan untuk Melindungi Hutan di Indonesia


  1. T. Fairhurst dan D. McLaughlin, “Pengembangan Kelapa Sawit Berkelanjutan di Lahan yang Terdegradasi di Kalimantan.” WWF, 2009. ↩︎

  2. BAPPENAS, “Mengurangi Emisi Karbon dari Lahan Gambut di Indonesia.” 2009 ↩︎

Bagikan

Tetap Terhubung

Dapatkan Nawala Kami

Dapatkan tulisan, kegiatan, publikasi, dan materi multimedia terbaru. Silakan berlangganan nawala WRI Indonesia yang terbit setiap bulan.