Anda di sini

2 Instrumen Baru yang dapat Mengurangi Deforestasi dan Mendukung Kelapa Sawit Berkelanjutan di Indonesia

Apakah kelapa sawit dan hutan dapat hidup saling berdampingan? Ini merupakah isu yang saya dan rekan saya diskusikan beberapa waktu lalu. Saya senang untuk mengatakan bahwa kami baru saja membuat sebuah langkah maju untuk memastikan jawabannya adalah “iya”.

Dalam pertemuan tahunan ke-10 Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), WRI mengeluarkan dua aplikasi pemetaan online baru yang dibuat untuk membantu industri kelapa sawit tumbuh sekaligus menghindari deforestasi. Instrumen gratis ini memungkinkan produsen kelapa sawit, pembeli, investor, dan badan-badan pemerintah mengidentifikasi dan mengevaluasi dengan mudah lahan-lahan terdegradasi di Indonesia yang cocok digunakan untuk mengembangkan perkebunan kelapa sawit. Dengan mengembangkan perkebunan kelapa sawit di lahan yang terdegradasi atau lahan dengan “cadangan karbon rendah”, pengembang dapat menghindari pembukaan hutan alami yang tersisa untuk memenuhi peningkatan permintaan global kelapa sawit.

Memperkenalkan “Forest Cover Analyzer” dan “Suitability Mapper”

Aplikasi yang pertama, Forest Cover Analyzer, memungkinkan pengguna untuk menilai tutupan hutan, perubahan tutupan hutan, dan status hukum di Kalimantan, Indonesia. Untuk pertama kalinya, perusahaan dapat melaksanakan penilaian online mereka sendiri untuk mengidentifikasi risiko produksi kelapa sawit berkelanjutan di sebuah wilayah tertentu. Sebagai contohnya, pengguna dapat menentukan apakah sebuah lahan memiliki hutan dengan nilai konservasi tinggi, atau apakah lahan tersebut sulit dikembangkan berdasarkan kriteria dan prinsip RSPO. Dengan menyediakan data yang transparan dan obyektif mengenai perubahan tutupan hutan, Forest Cover Analyzer memberikan insentif untuk menghindari wilayah hutan ketika membuat perkebunan.

Aplikasi kedua, Suitability Mapper, memungkinkan produsen kelapa sawit, investor, dan pembuat rencana tata ruang pemerintah untuk menemukan “lahan-lahan terdegradasi” yang rendah karbon yang secara potensial cocok untuk produksi kelapa sawit yang berkelanjutan. Yang kami maksud dengan “terdegradasi” di sini adalah lahan di mana vegetasi lama – biasanya hutan – telah dibuka bertahun-tahun yang lalu dan hutan tidak tumbuh kembali. “Terdegradasi” dalam artian ini tidak berarti “kualitas tanah yang buruk”, namun lebih karena lahan tersebut memiliki cadangan karbon rendah, sedikit keanekaragaman hayati, dan tidak sedang diolah. Padang rumput alang-alang merupakan contoh wilayah yang terdegradasi di Indonesia.

Suitability Mapper memungkinkan pengguna untuk membuat peta-peta spesifik tentang lahan-lahan terdegradasi yang secara potensial cocok untuk kelapa sawit berkelanjutan dengan menggunakan seperangkat kriteria obyektif, seperti tipe tutupan lahan (contohnya hutan), kedalaman gambut, wilayah konservasi, ketinggian, kemiringan, curah hujan, tipe tanah, keasaman tanah, dan lainnya. WRI dan mitranya di Indonesia, Sekala, mengembangkan aplikasi tersebut agar sesuai dengan standar berkelanjutan internasional – seperti RSPO – serta hukum dan peraturan di Indonesia. WRI dan Sekala merancang aplikasi tersebut dengan masukan dari industri, badan-badan pemerintah, NGO, dan para ahli lainnya. Saat ini, Suitability Mapper hanya mencakup wilayah Kalimantan, Indonesia, namun sedang dilakukan pengembangan untuk memperluasnya ke seluruh Indonesia.

Lihat kilasan video tentang Suitability Mapper dan Forest Cover Analyzer.

Menggunakan Lahan yang Terdegradasi

Suitability Mapper menunjukkan bahwa lebih dari 14 juta hektar lahan di Kalimantan mungkin cocok digunakan untuk produksi kelapa sawit berkelanjutan. Sekarang, tidak semua lahan tersebut harus diubah menjadi perkebunan kelapa sawit; masyarakat lokal mungkin tidak mengizinkan beberapa lahan diubah menjadi kelapa sawit. Namun besarnya potensi lahan yang terdegradasi sangatlah menarik. Sebagai perbandingan, para ahli telah memprediksi sekitar 3-7 juta hektar ekspansi perkebunan kelapa sawit di seluruh Indonesia pada tahun 2020. Ukuran yang sebanding ini menunjukkan bahwa kebutuhkan kelapa sawit dapat dipenuhi tanpa membuka hutan atau mengeringkan lahan gambut lagi.

Tentu saja, bahkan aplikasi pemetaan yang paling berguna tidaklah cukup untuk memastikan bahwa seluruh perkebunan kelapa sawit kedepannya ditanam di lahan terdegradasi yang rendah karbon. Proses perizinan dan perencanaan penggunaan lahan yang baik, penegakkan hukum yang efektif, dan perbaikan praktik pemerintah lainnya juga dibutuhkan. Dan informasi yang transparan dan dapat diandalkan, dapat memberikan kontribusi terhadap usaha-usaha tersebut.

Solusi yang dapat Dikembangkan

Mengembalikan produktifitas lahan yang terdegradasi untuk menampung ekspansi pertanian dapat memecahkan hubungan ekspansi kelapa wasit dengan deforestasi. Strategi tersebut tidak hanya relevan digunakan di Indonesia. Sementara perkebunan kelapa sawit berkembang ke Afrika dan Amerika Latin, menanam perkebunan kelapa sawit di lahan terdegradasi yang rendah karbon memungkinkan industri kelapa sawit tumbuh secara berkelanjutan, dengan produksi yang meningkat, lahan pekerjaan yang baru, dan tanpa deforestasi.

Dan strategi ini tidak hanya relevan untuk kelapa sawit. Lahan yang terdegradasi dapat dimanfaatkan kembali untuk produksi komoditas lainnya, seperti kedelai dan peternakan sapi. Brazil, sebagai contohnya, memiliki jutaan hektar lahan peternakan yang terdegradasi yang, jika dimanfaatkan kembali, dapat meningkatkan produksi sapi Brazil tanpa harus menebang Amazon lagi.

Jadi, dapatkah anda membayangkan masa depan di mana peningkatan permintaan akan kelapa sawit, daging sapi, dan kedelai dipenuhi tanpa membuka hutan tropis, tapi mengembalikan lahan yang terdegradasi menjadi produktif? Saya bisa.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai aplikasi pemetaan yang baru dan menggunakan lahan yang terdegradasi untuk memproduksi kelapa sawit secara berkelanjutan, kunjungi website Project POTICO WRI.

Bagikan

Tetap Terhubung

Dapatkan Nawala Kami

Dapatkan tulisan, kegiatan, publikasi, dan materi multimedia terbaru. Silakan berlangganan nawala WRI Indonesia yang terbit setiap bulan.