Anda di sini

Bersepeda Bisa Membantu Kehidupan di Tengah Pandemi

Di tengah upaya dunia untuk menghentikan penyebaran pandemi COVID-19, lebih dari 3,9 miliar orang mengalami lockdown parsial atau penuh sejak pertengahan April. Banyak kota mengurangi operasional transportasi umum karena penurunan jumlah penumpang dan alasan kesehatan. Langkah-langkah tersebut memang harus dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit ini. Namun, keadaan ini menyulitkan orang-orang yang masih harus bepergian untuk membeli makanan atau mengurus orang-orang tercintanya. Terlebih lagi, saat ini mobilitas sangat penting bagi pekerja-pekerja esensial seperti petugas medis.

Bukti menunjukkan bahwa banyak orang memilih bersepeda sebagai pilihan yang tahan uji dan andal untuk mengisi kebutuhan ini. Lalu lintas jaringan jalur sepeda terus meningkat, termasuk di Cina, Jerman, Irlandia, Inggris dan Amerika Serikat. Di Philadelphia, jumlah pengendara sepeda meningkat lebih dari 150 persen di tengah wabah COVID-19. Menjawab peningkatan ini, pemerintah di beberapa negara membuka jalur sepeda darurat dan memberikan akses pribadi bagi sepeda pekerja-pekerja esensial.

Di saat para pemerintah kota menilik kembali asumsi-asumsi yang selama ini digunakan, tren ini merupakan kesempatan unik untuk mengubah peran sepeda menjadi bagian integral dari sistem transportasi urban dan bukan sekadar alternatif tambahan.

Di Tengah Lockdown Akibat COVID-19, Sepeda Menjadi Cara untuk Tetap Terhubung

Selama lockdown sepanjang dua bulan di Wuhan, Cina, tempat pertama kalinya wabah COVID-19 muncul, para relawan menggunakan sepeda untuk mengirimkan perlengkapan kepada masyarakat yang tidak bisa keluar rumah. Beberapa perusahaan bikeshare sudah meningkatkan prosedur sanitasi dan menyediakan layanan secara gratis bagi petugas medis dan mereka yang sangat membutuhkan.

Dari 23 Januari hingga 12 Maret, Meituan Bikeshare, sebelumnya dikenal sebagai Mobike, melayani 2,3 juta perjalanan di Wuhan menurut data yang mereka kumpulkan sendiri. Angka ini lebih dari setengah perjalanan yang tidak dilakukan dengan berjalan kaki di kota ini selama berlangsungnya epidemi. Total 286.000 orang menggunakan layanan tersebut, dengan jarak bersepeda lebih dari dua juta mil, sama dengan 81 putaran ekuator. Sementara itu, jarak harian rata-rata untuk satu perjalanan meningkat sebesar 10 persen, yang berarti penggunaan sepeda untuk perjalanan yang lebih panjang juga meningkat.

Tren ini juga terjadi di kota-kota lain di seluruh dunia. Sistem bikeshare di Kota New York, Citi Bike, mengalami peningkatan permintaan sebesar 67 persen di awal Maret dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya. Penggunaan program bikeshare di Chicago dan Philadelphia meningkat hampir dua kali lipat selama bulan Maret. Salah satu jalur sepeda tersibuk di Philadelphia mengalami peningkatan lalu lintas sebesar 470 persen. London mengeluarkan panduan khusus untuk pengendara baru dan, sebelum semua toko-toko dan lalu lintas nonesensial ditutup karena lockdown, toko-toko sepeda di Dublin mengalami peningkatan penjualan yang luar biasa.

Infrastruktur Baru untuk Mendukung Peningkatan Pengendara Sepeda

Beberapa kota sudah mengembangkan infrastruktur sepedanya, baik sementara atau pun permanen, untuk menjawab COVID-19. Bogota membuka Ciclovía, jaringan jalan sepanjang 22 mil yang biasanya ditutup untuk mobil pada hari Minggu, setiap hari di sepanjang minggu. Dalam proyek percontohan yang dilakukan NUMO, New Urban Mobility Alliance, operator sepeda kota dan swasta juga meminjamkan sepeda elektrik bagi pekerja medis.

Menjawab petisi masyarakat untuk membuka lebih banyak ruang untuk keamanan pesepeda dan pejalan kaki, Philadelphia menutup jalan sepanjang 4,4 mil untuk kendaraan bermotor. Mexico City mengajukan rencana untuk membuat infrastruktur sepeda sementara sepanjang 80 mil untuk mengurangi risiko dari penggunaan transportasi umum dan membantu mobilitas di megalopolis dengan penduduk lebih dari 21 juta jiwa ini. Baru-baru ini, Berlin mulai membuka jalur sepeda sementara selebar 1 mil di sepanjang suatu jalan utama dan berencana untuk memperluas infrastrukur darurat ini bersama dengan 133 kota lain di Jerman. Oakland, Minneapolis, Denver, Louisville, Vancouver dan Calgary juga melakukan hal serupa. Kota New York telah memberikan komitmennya untuk menambah jalur sepeda aman sementara selebar 1 mil di beberapa segmen kota Manhattan dan Brooklyn serta mencoba penutupan jalan bagi mobil.

Membangun Kembali dengan Lebih Baik

Bersepeda menjadi solusi di banyak kota di tengah keadaan yang genting ini. Akan tetapi, sepeda juga menjadi moda transportasi andal yang menawarkan berbagai manfaat bagi kota di masa depan, bukan hanya manfaat mobilitas.

1. Akses sepeda yang lebih baik dapat mendukung pemulihan ekonomi pasca COVID-19

Dampak krisis virus corona terhadap ekonomi global sudah sangat parah dan diperkirakan akan memburuk. Pemerintah di berbagai negara mulai mempertimbangkan proyek-proyek

infrastruktur besar yang dapat menciptakan lapangan kerja dan kegiatan ekonomi. Banyak alasan – dari sisi lingkungan, kesehatan masyarakat dan ekonomi – untuk menghindari proyek dan infrastruktur yang akan membakar lebih banyak lagi bahan bakar fosil. Investasi infrastruktur sepeda – dari jalur-jalur aman, fasilitas parkir hingga program bikeshare – adalah investasi yang menguntungkan semua pihak yang akan dapat membantu pemulihan ekonomi sembari menekan perubahan iklim, mengurangi polusi udara dan melindungi kesehatan manusia.

Setiap kilometer yang dilalui dengan sepeda membantu menghindari 250 gram emisi CO2, sehingga sepeda menjadi alternatif transportasi rendah karbon yang cukup menarik. Secara keseluruhan, pengendara sepeda di Copenhagen diperkirakan telah membantu menghindari 20.000 ton emisi karbon per tahun, sama dengan emisi yang dihasilkan kendaraan pribadi per 50 juta mil.

Seiring dengan pengenduran pembatasan sosial dan masyarakat kembali mengunjungi toko-toko, kafe dan restoran, penggunaan sepeda sudah terbukti dapat menjadi stimulus kegiatan ekonomi di jalan-jalan utama dan area-area komersial. Studi membuktikan bahwa pengendara sepeda menghabiskan uang hingga tiga kali lipat lebih besar dari pengendara mobil di bisnis-bisnis lokal dan infrastruktur sepeda terbukti memiliki hubungan dengan peningkatan penjualan ritel.

2. Bersepeda dapat meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas hidup

Bersepeda meningkatkan kualitas udara perkotaan sehingga berdampak positif bagi kesehatan banyak orang. Mengendarai sepeda secara konsisten juga berarti berolah raga lebih banyak, sehingga kemungkinan terkena kanker bagi pesepeda menurun hingga 40 persen, kemungkinan mengalami kematian dini menurun hingga 40 persen dan kemungkinan terkena penyakit jantung menurun hingga 50 persen. Suatu studi menunjukkan bahwa risiko kematian dari COVID-19 di area dengan tingkat polusi udara yang lebih tinggi mencapai 15 persen lebih besar, kemungkinan besar diakibatkan oleh kesehatan paru-paru yang lebih buruk. Bersepeda merupakan cara untuk meningkatkan polusi udara setempat dan meningkatkan kegiatan fisik yang akan meningkatkan ketahanan masing-masing orang.

3. Infrastruktur sepeda dapat membantu meningkatkan ketahanan kota terhadap masalah-masalah di masa depan

Akses sepeda terbukti penting bagi mereka dengan kondisi ekonomi dan transportasi yang terbatas. Sepeda menawarkan peningkatan mobilitas yang cukup tinggi di tengah mati listrik, bencana alam dan disrupsi sistem transportasi urban lainnya, dengan cakupan area hingga 15 kali lebih luas dari berjalan kaki.

Menggunakan Sepeda untuk Merespons Krisis

Belanda merupakan salah satu negara yang berhasil menerapkan infrastruktur sepeda. Di negara ini tersedia jalur sepeda yang aman sepanjang 23.000 mil dan lebih banyak sepeda daripada manusia. Seperempat dari semua perjalanan dilakukan menggunakan sepeda. Belanda juga merupakan salah satu negara teraman bagi pesepeda, dengan tingkat kematian pengendara sepeda sebesar 1,1 per 100 juta kilometer yang dilalui dengan sepeda (dibandingkan dengan 5,8 di Amerika Serikat).

Dulunya tidak begitu. Perubahan ini terjadi di tengah krisis keamanan jalan, terutama bagi anak-anak, dan embargo minyak OPEC di era 70-an. Pada tahun 1973, pemerintah mengumumkan hari Minggu sebagai hari tanpa mobil dan, perlahan-lahan, negara ini mulai menilik kembali cara mereka menggunakan mobil.

Contoh yang lebih baru, sepeda menjadi moda transportasi yang andal di tengah gempa bumi di Mexico City pada tahun 2017. Setelah ribuan gedung hancur hingga banyak jalan tidak dapat dilalui oleh kendaraan bermotor, responder pertama dan relawan menggunakan sepeda pribadi dan sistem bikeshare untuk mengirim pertolongan pertama dan perlengkapan.

Krisis COVID-19 memaksa kota-kota di seluruh dunia untuk mencari alternatif bagi jaringan transportasi mereka. Inilah saatnya kota-kota bereksperimen dengan jalan untuk membuat perubahan. Saat ini, WRI Ross Center sedang bekerja sama dengan NUMO dan Populus, perusahaan yang menyediakan data dan peralatan mobilitas bagi kota-kota untuk mengukur peningkatan akses kesempatan kerja dan layanan esensial seperti rumah sakit dan toko bahan makanan yang dihasilkan oleh perluasan jaringan jalur sepeda sementara.

Di tengah lockdown akibat COVID-19 saat ini, banyak bermunculan solusi-solusi yang menawarkan berbagai manfaat bagi kota-kota di masa depan menuju transportasi urban yang tahan uji, mudah diakses dan aman. Dengan lebih banyak pesepeda, suatu kota akan meningkatkan tingkat kesehatan masyarakat, kemanan jalan, kebersihan udara dan tingkat konektivitas.

Bagikan

Tetap Terhubung

Dapatkan Nawala Kami

Dapatkan tulisan, kegiatan, publikasi, dan materi multimedia terbaru. Silakan berlangganan nawala WRI Indonesia yang terbit setiap bulan.