Anda di sini

Indonesia Memetakan Jalur Pembangunan Baru yang Rendah Karbon. Akankah Negara Lain Mengikuti?

Kinerja sosial ekonomi Indonesia akhir-akhir ini sangat mengesankan. Dalam dua dekade terakhir, negara ini berhasil mengurangi setengah angka kemiskinan ekstrem dan meningkatkan pendapatan per kapitanya sebanyak dua kali lipat.

Sayangnya, pertumbuhan ekonomi tersebut harus dibayar mahal dengan penebangan hutan, peningkatan emisi gas rumah kaca dan pembakaran batu bara, yang menyebabkan hampir 60 persen penduduk Jakarta mengidap penyakit akibat polusi udara. Perjalanan pertumbuhan Indonesia ini seharusnya bisa jauh berbeda di masa depan.

Sebuah laporan terbaru dari Inisiatif Pembangunan Rendah Karbon yang dipimpin oleh pemerintah Indonesia menemukan bahwa sistem energi yang lebih efisien sekaligus rendah karbon dapat meningkatkan pertumbuhan PDB rata-rata 6 persen per tahun hingga 2045 – peningkatan ini lebih besar dibandingkan dengan menggunakan sistem energi biasa. Tidak hanya itu, langkah ini turut mendukung penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan dan pengurangan kemiskinan secara berkelanjutan. Bahkan, strategi ini dapat menekan emisi gas rumah kaca Indonesia hingga 43 persen di tahun 2030, melampaui target iklim internasional Indonesia.

Saat ini, penemuan tersebut secara langsung digunakan oleh pemerintah dalam perumusan rencana pembangunan lima tahunan mendatang, yang mencakup periode 2020-2024. Dengan begitu, Indonesia tidak perlu lagi memilih antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan. Upaya ini juga menunjukkan kepada negara-negara di seluruh dunia bahwa penanganan perubahan iklim saat ini tidak hanya mungkin untuk dilakukan, namun juga bisa mendatangkan keuntungan ekonomi.

<p>Pembangunan rendah karbon dapat mengurangi polusi udara Jakarta sekaligus meningkatkan perekonomian Indonesia. Foto oleh Aaron Minnick.</p>

Pembangunan rendah karbon dapat mengurangi polusi udara Jakarta sekaligus meningkatkan perekonomian Indonesia. Foto oleh Aaron Minnick.

Kemenangan untuk Ekonomi, Masyarakat dan Lingkungan

Jadi, apa dampak pembangunan rendah karbon bagi penduduk Indonesia?

Manfaat pembangunan rendah karbon akan mulai terasa sebentar lagi, dan akan terus meningkat dalam beberapa dekade mendatang. Pada tahun 2045, pertumbuhan PDB Indonesia akan tumbuh US$5,4 triliun lebih besar dibandingkan dengan pertumbuhan yang akan dicapai jika tidak ada perubahan yang dilakukan.

Sebagian berasal dari: 15,3 juta tambahan lapangan kerja berkualitas yang lebih hijau dengan gaji lebih baik; tambahan pengurangan setengah angka kemiskinan ekstrem menjadi 4,2 persen dari populasi di tahun 2018; sekitar 40.000 nyawa terselamatkan setiap tahunnya seiring berkurangnya polusi udara dan air dan hingga 16 juta hektar hutan, lebih besar dari wilayah Inggris, dapat terlindungi. Selain itu, kualitas udara dan kehidupan akan jauh lebih baik, bahkan kesenjangan kesempatan antara perempuan dan laki-laki dan antarprovinsi akan menyusut.

Pada dasarnya, masa depan Indonesia seperti ini akan bernilai lebih di mata investor daripada pertumbuhan yang hanya memanfaatkan sumber daya alam dan penggunaan bahan bakar fosil semata. Pembangunan rendah karbon membutuhkan investasi di muka yang lebih rendah untuk setiap dolar yang disumbangkan ke PDB dibandingkan dengan jalur pembangunan lainnya, terlebih dengan berkurangnya pengeluaran kesehatan seiring berkurangnya polusi udara dan air.

Upaya Menuju Pembangunan Rendah Karbon

Visi Indonesia yang bersih dan hijau mungkin terkesan masih sangat jauh dari kenyataan. Pergeseran ekonomi besar-besaran ini membutuhkan upaya kebijakan bersama yang disertai dengan partisipasi penuh dari pemerintah nasional, pemerintah daerah, sektor swasta dan masyarakat sipil, serta pembiayaan yang lebih besar dari lembaga keuangan pembangunan internasional dan investasi pihak swasta. Penetapan kebijakan strategis yang memberikan insentif dan sinyal jelas bagi sektor swasta dapat mendorong pemerintah Indonesia menggapai cita-citanya. Langkah-langkah kebijakan yang harus dilakukan termasuk:

  1. Beralih dari batu bara dan meningkatkan pangsa energi terbarukan di sektor energi menjadi sedikitnya 30 persen pada tahun 2045. Dengan mempertimbangkan biaya yang dikeluarkan akibat polusi udara, saat ini energi terbarukan di Indonesia bisa dibilang lebih murah dibandingkan dengan batu bara;
  2. Mengurangi intensitas energi (unit energi per unit PDB) hingga 3,5 persen pada tahun 2030 dan 4,5 persen di tahun-tahun berikutnya;
  3. Sepenuhnya menegakkan moratorium hutan, kelapa sawit, pertambangan dan pengembangan lahan gambut;
  4. Mencapai target reforestasi hingga lebih dari tiga kali lipat atau lebih dari 1 juta hektar per tahun pada tahun 2024;
  5. Memenuhi target nasional dan internasional yang sekarang berlaku terkait perlindungan air, perikanan dan keanekaragaman hayati; dan
  6. Meningkatkan produktivitas lahan hingga 4 persen setiap tahunnya, sebagai upaya untuk mendukung pemenuhan ketersediaan bahan pangan oleh petani Indonesia melalui pemanfaatan sumber daya alam yang lebih sedikit.

<p> Nelayan membentangkan jalanya di Yogyakarta. Perlindungan perikanan merupakan bagian penting dalam mewujudkan visi pembangunan rendah karbon Indonesia. Foto oleh Lembaga Penelitian Padi Internasional.</p>

Nelayan membentangkan jalanya di Yogyakarta. Perlindungan perikanan merupakan bagian penting dalam mewujudkan visi pembangunan rendah karbon Indonesia. Foto oleh Lembaga Penelitian Padi Internasional.

Sangat penting bagi Indonesia untuk memastikan masa transisi yang adil menuju ekonomi rendah karbon. Meskipun pergeseran menuju pembangunan rendah karbon ini akan meningkatkan perekonomian dan kualitas hidup masyarakat Indonesia secara keseluruhan, ada potensi dampak negatif bagi sebagian kecil masyarakat dan perusahaan – terutama yang bergantung pada sektor tinggi karbon dan penggalian sumber daya alam. Untuk itu, kebijakan Inisiatif Pembangunan Rendah Karbon harus dapat mendukung pihak-pihak tersebut dalam mengembangkan kompetensi baru agar mereka dapat ikut berpartisipasi dalam dan menerima manfaat dari ekonomi rendah karbon.

Laporan tersebut bahkan mempertimbangkan perlunya kebijakan dan intervensi yang lebih ambisius untuk mencapai pengurangan emisi dan pertumbuhan sosial ekonomi yang lebih baik. Namun demikian, tentu ada berbagai tantangan dalam menjalankan skenario ini. Oleh karena itu, pemerintah perlu mengembangkan lebih lanjut kemampuan teknis dan kelembagaannya demi mewujudkan cita-cita ini.

Jika Indonesia Bisa, Negara Lain Pun Bisa

Indonesia merupakan negara ke-15 dengan PDB tertinggi dan negara penyumbang emisi gas rumah kaca ke-empat terbesar di dunia. Melihat besarnya dampak Indonesia terhadap iklim global, tentu peralihan menuju ekonomi rendah karbon tidak hanya menguntungkan Indonesia, namun juga negara lain di seluruh dunia.

Yang mungkin tidak kalah penting adalah pemerintah negara lain bisa belajar dari keberhasilan Indonesia. Rencana pembangunan Indonesia yang baru memang cukup ambisius, namun hal ini penting, dapat dilakukan sekaligus terjangkau dari segi ekonomi. Jika Indonesia – negara berkembang yang memiliki urgensi untuk meningkatkan standar hidup penduduknya – bisa melaksanakan pembangunan rendah karbon, berarti negara lain juga bisa.

Bagikan

Tambahkan komentar baru

Tetap Terhubung

Dapatkan Nawala Kami

Dapatkan tulisan, kegiatan, publikasi, dan materi multimedia terbaru. Silakan berlangganan nawala WRI Indonesia yang terbit setiap bulan.