Anda di sini

3 Langkah Meningkatkan Solusi Berbasis Alam untuk Adaptasi Iklim

Perubahan iklim telah menjadi ancaman yang berdampak negatif bagi Indonesia. Lebih dari 30 juta orang di bagian utara Jawa mengalami banjir pesisir dan erosi yang terkait dengan badai yang lebih parah dan kenaikan permukaan laut. Di beberapa tempat, desa dan kawasan yang berjarak lebih dari satu mil dari garis pantai bahkan sudah terendam.

Banjir dan erosi diperparah oleh kerusakan hutan mangrove alami. Hutan-hutan ini berfungsi untuk menahan terjangan ombak, serta secara signifikan mengurangi ketinggian dan kecepatan ombak yang mencapai pantai. Hutan mangrove dewasa juga dapat menyimpan hampir 1.000 ton karbon per hektare, oleh karena itu hutan juga berfungsi untuk mengurangi perubahan iklim dan dapat membantu masyarakat dalam beradaptasi.

Tanpa hutan mangrove, jumlah penduduk di seluruh dunia yang mengalami banjir pesisir akan bertambah sebesar 18 juta orang (meningkat 39%) setiap tahunnya. Oleh sebab itu, kelompok yang terdiri dari penduduk, LSM, universitas, dan pemerintah Indonesia bekerja sama dalam proyek “Membangun bersama Alam” (Building with Nature) di Demak, Jawa untuk memulihkan sabuk hutan mangrove sepanjang 12 mil. Proyek yang dikelola oleh Wetlands International ini telah meningkatkan ketahanan iklim kabupaten, melindungi masyarakat dari banjir pesisir, dan menyerap karbon dioksida dari atmosfer.

<p>Masyarakat setempat di Demak membantu dengan membangun penghalang sementara yang terbuat dari tiang dan batang kayu. Dengan cara ini, hutan mangrove dapat bertumbuh kembali secara alami dan daerah pedalaman akan terlindung dari erosi lebih lanjut. Foto diambil oleh Nanang Sujana / Wetlands International.</p>

Masyarakat setempat di Demak membantu dengan membangun penghalang sementara yang terbuat dari tiang dan batang kayu. Dengan cara ini, hutan mangrove dapat bertumbuh kembali secara alami dan daerah pedalaman akan terlindung dari erosi lebih lanjut. Foto diambil oleh Nanang Sujana / Wetlands International.

Solusi Berbasis Alam adalah Strategi Adaptasi Iklim yang Belum Banyak Digunakan

Solusi berbasis alam dapat membuat perubahan di berbagai tempat, tidak hanya di Pulau Jawa. Negara-negara di seluruh dunia dapat memanfaatkan alam untuk beradaptasi dengan dampak iklim. Lahan basah pesisir dapat melindungi masyarakat dari gelombang badai dan kenaikan permukaan laut. Hutan yang dikelola dengan baik dapat melindungi persediaan air, mengurangi risiko kebakaran, dan mencegah tanah longsor. Ruang hijau di perkotaan dapat mengurangi tekanan panas dan mengurangi banjir.

Walaupun kami belum menghitung potensi secara menyeluruh, ekosistem lahan basah setara dengan sekitar 8% dari permukaan tanah di planet Bumi dan layanan ekosistem yang disediakan - termasuk perlindungan terhadap banjir, habitat perikanan, dan pemurnian air - nilainya mencapai $15 triliun. Sebagai contoh, perikanan lepas pantai di daerah yang memiliki hutan mangrove dapat menghasilkan 271 pon ikan (senilai $44) per jam, dibandingkan dengan rata-rata 40 pon ikan (hanya $2-3 per jam di tempat-tempat yang tidak memiliki hutan mangrove).

<p>Terlepas dari jenis bentang alam, negara-negara dapat menggunakan solusi berbasis alam untuk membangun ketahanan dan melindungi masyarakat dari dampak perubahan iklim. Foto diambil oleh Komisi Global untuk Adaptasi/WRI</p>

Terlepas dari jenis bentang alam, negara-negara dapat menggunakan solusi berbasis alam untuk membangun ketahanan dan melindungi masyarakat dari dampak perubahan iklim. Foto diambil oleh Komisi Global untuk Adaptasi/WRI

Akan tetapi, penelitian yang dilakukan oleh Pusat Pemantauan Konservasi Dunia Program Lingkungan PBB (UNEP-WCMC) bagi Komisi Global untuk Adaptasi menemukan bahwa walaupun alam mampu memberikan manfaat ekonomi dan ketahanan iklim, banyak negara masih belum sepenuhnya menggunakan solusi berbasis alam dalam upaya adaptasi iklim. Dari 167 Komitmen Kontribusi Nasional yang disampaikan melalui Perjanjian Paris, hanya 70 negara yang memasukkan aksi adaptasi berbasis alam; sebagian besar di antaranya merupakan negara berpenghasilan rendah.

Komisi Global untuk Adaptasi bekerja sama dengan organisasi-organisasi dan negara-negara terkemuka, termasuk pemerintah Kanada, Meksiko, dan Peru, Fasilitas Lingkungan Global dan Program Lingkungan PBB, untuk mengukur pendekatan-pendekatan ini secara global melalui Nature-Based Solutions Action Track. Menurut laporan Komisi, Adapt Now - yang didasari oleh penelitian UNEP-WCMC - tiga langkah penting perlu dilakukan untuk mewujudkan hal ini:

1. Meningkatkan Pemahaman tentang Nilai Alam

Pembuat kebijakan perlu lebih memahami nilai modal alam, seperti hutan mangrove dan ekosistem lain, yang memberikan manfaat penting bagi masyarakat. Sebagai contoh, biaya restorasi lahan basah pesisir bisa 2 - 5 kali lebih murah daripada membangun pemecah gelombang (breakwaters) - penghalang buatan yang terbuat dari granit - namun keduanya melindungi pantai dari dampak yang ditimbulkan oleh gelombang. Biaya rata-rata untuk restorasi hutan mangrove sekitar $0,01 per kaki persegi. Biaya ini jauh lebih murah daripada biaya infrastruktur yang seringkali menjadi hambatan. Hutan mangrove juga menghasilkan manfaat lain, seperti dampak positif bagi sektor perikanan. Bahkan, Komisi menemukan bahwa total manfaat bersih dari melindungi hutan mangrove secara global akan mencapai $1 triliun pada tahun 2030.

<p>Walaupun sebagian besar daerah pesisir sudah memiliki pemecah gelombang buatan, restorasi lahan basah pesisir juga akan melindungi pantai dengan biaya yang jauh lebih rendah. Foto diambil oleh: Mikko Lahti/Flickr</p>

Walaupun sebagian besar daerah pesisir sudah memiliki pemecah gelombang buatan, restorasi lahan basah pesisir juga akan melindungi pantai dengan biaya yang jauh lebih rendah. Foto diambil oleh: Mikko Lahti/Flickr

Walaupun penelitian semacam ini sudah pernah dilakukan, negara-negara seringkali membutuhkan penilaian yang sesuai dengan konteks setempat agar dapat mengidentifikasi peluang terbaik untuk memanfaatkan solusi berbasis alam bagi adaptasi iklim. Pemerintah juga harus mempertimbangkan bahwa masyarakat setempat dan masyarakat adat seringkali memiliki pemahaman yang memadai tentang nilai alam bagi masyarakat, serta harus mencari dan memasukkan pengetahuan ini ke dalam rencana dan kebijakan. Sebagai contoh, keberhasilan proyek "Membangun bersama Alam" mengandalkan keterlibatan penuh dari penduduk setempat.

2. Memasukkan Solusi Berbasis Alam ke dalam Perencanaan Adaptasi Iklim

Solusi berbasis alam paling efektif saat digunakan pada skala yang lebih luas - untuk seluruh lanskap, ekosistem, atau kota. Pemerintah memiliki posisi yang strategis untuk merencanakan adaptasi iklim pada skala ini karena mereka memiliki akses ke sumber daya dan kemampuan untuk membuat kebijakan dan berkoordinasi dengan berbagai pihak. Solusi berbasis alam idealnya dimasukkan dalam perencanaan adaptasi sejak awal agar dapat berhasil.

Pendekatan Meksiko untuk pengelolaan air merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan. Pasokan air sangat rentan terhadap perubahan iklim, karena perubahan pola curah hujan menimbulkan kekeringan di beberapa lokasi dan banjir di tempat-tempat lainnya. Meksiko secara proaktif melindungi sumber daya air pada skala nasional dengan mengalokasikan lebih dari sepertiga sungai di Meksiko sebagai cadangan air. Kawasan lindung dan lahan basah mencakup hampir 124 juta hektare dan memastikan pasokan air yang aman bagi sekitar 45 juta penduduk yang tinggal di hilir.

Pendekatan ini dapat digunakan di berbagai tempat lainnya. Penelitian tentang pasokan air perkotaan menunjukkan bahwa upaya pelestarian dan restorasi hutan di bagian hulu untuk pemenuhan kebutuhan air di 534 kota terbesar di dunia dapat meningkatkan pengelolaan air dan secara kolektif menghemat $890 juta dalam biaya pemeliharaan setiap tahunnya.

3. Mendorong Investasi dalam Solusi Berbasis Alam

Masyarakat dan negara seringkali menyatakan bahwa faktor penghalang untuk menjalankan solusi berbasis alam dan upaya adaptasi iklim secara keseluruhan adalah akses ke pendanaan. Akan tetapi, seperti yang disampaikan oleh UNEP-WCMC, pemerintah dapat mendorong investasi dalam pendekatan-pendekatan ini dengan mengarahkan kembali kebijakan, subsidi, dan investasi publik mereka. Pemerintah juga dapat memberi insentif yang lebih menarik bagi investor swasta untuk membiayai proyek adaptasi iklim.

Banyak negara, sektor swasta, dan aktor filantropi sebetulnya memiliki dana yang dapat digunakan untuk solusi adaptasi berbasis alam - tetapi kurangnya kesadaran telah menghambat penggunaan dana ini secara luas. Salah satu bagian dari solusi adalah membantu masyarakat dan negara agar dapat lebih memahami peluang pendanaan yang tersedia, mempelajari model pembiayaan yang sukses, dan mengidentifikasi ketimpangan yang dapat dipenuhi oleh negara donor, lembaga pembangunan, dan investor swasta yang menunjukkan ketertarikan - ini adalah upaya yang dilakukan oleh Komisi.

<p>Rawa pasang, seperti yang ada di Nova Scotia, adalah salah satu contoh solusi berbasis alam yang dapat mengurangi banjir pesisir dan melindungi masyarakat. Foto diambil oleh Trish Hartmann/Flickr</p>

Rawa pasang, seperti yang ada di Nova Scotia, adalah salah satu contoh solusi berbasis alam yang dapat mengurangi banjir pesisir dan melindungi masyarakat. Foto diambil oleh Trish Hartmann/Flickr

Salah satu contoh pendekatan pembiayaan publik adalah Dana Mitigasi dan Adaptasi Bencana Kanada senilai $1,6 miliar. Dana ini membantu masyarakat mengelola risiko banjir, kebakaran hutan, kekeringan, dan bahaya alam lainnya dengan menanamkan investasi di infrastruktur hijau (berbasis alam) dan infrastruktur abu-abu (dengan membangun). Sama halnya dengan hutan mangrove di Indonesia, Kanada memiliki lahan basah pesisir yang melindungi daerah pesisir dari kenaikan permukaan laut. Mereka belum lama ini menanamkan investasi sebesar $20 juta ke dalam proyek restorasi rawa pasang dan menambah tanggul di sepanjang Teluk Fundy di Nova Scotia. Setelah selesai, proyek Teluk Fundy akan mengurangi banjir pesisir yang berdampak terhadap puluhan ribu penduduk, termasuk masyarakat adat, serta situs Warisan Dunia dan lebih dari 20.000 hektare lahan pertanian.

Melindungi Alam juga Melindungi Manusia

Manfaat solusi berbasis alam tidak terbatas pada adaptasi iklim. Dari jantung kota ke hutan yang luas dan lahan basah pesisir, ekosistem yang sehat akan menopang masyarakat dan perekonomian. Ekosistem menyediakan pangan, bahan bakar, dan sumber mata pencaharian; mempertahankan tradisi budaya; dan memberikan manfaat kesehatan dan rekreasi. Sebagian besar dari solusi ini secara aktif menyerap karbon dioksida dari atmosfer dan turut berfungsi sebagai strategi mitigasi iklim. Ekosistem juga menjadi habitat kritis bagi keanekaragaman hayati.

Komisi Global untuk Adaptasi sedang membentuk kelompok yang terdiri dari berbagai negara, kota, dan komunitas terdepan untuk menyoroti keberhasilan, mendorong komitmen yang lebih besar dan meningkatkan perhatian pada peran alam yang masih kurang dihargai dalam adaptasi iklim. Dengan mengambil langkah-langkah ini untuk meningkatkan solusi berbasis alam, kita dapat mengaktualisasikan potensi alam untuk memajukan adaptasi iklim dan melindungi kelompok yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim.

Bagikan

Tetap Terhubung

Dapatkan Nawala Kami

Dapatkan tulisan, kegiatan, publikasi, dan materi multimedia terbaru. Silakan berlangganan nawala WRI Indonesia yang terbit setiap bulan.