Anda di sini

Perubahan Iklim Mengancam Industri Kelautan. Berikut Cara Menghadapinya.

Aksi iklim bagi kesehatan laut semakin genting dilakukan. Pada September lalu, Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) untuk pertama kalinya menerbitkan “Special Report on the Ocean and Cryosphere in a Changing Climate”. Laporan ini memperkirakan kerugian ekonomi global tahunan sebesar $428 miliar hingga tahun 2050 dan $1,98 triliun hingga tahun 2100 dari penurunan kesehatan laut akibat perubahan iklim.

Berangkat dari analisis ini, laporan terbaru yang disusun oleh Panel Tingkat Tinggi untuk Ekonomi Laut Berkelanjutan (High Level Panel on Sustainable Ocean Economy) menjabarkan lebih lanjut kerugian ekonomi tersebut di tingkat nasional dan regional di tiga industri berbasis laut, yaitu pariwisata terumbu karang, perikanan tangkap, dan marikultur (budi daya biota laut sebagai makanan).

Hasil kajian ini merupakan sebuah tamparan keras. Perubahan suhu, kimiawi, arus, dan rantai makanan di dalam lautan berdampak luas bagi perekonomian global. Walau beberapa negara akan tetap mampu bertahan atau bahkan meningkatkan hasil tangkapan dan keuntungan mereka, negara lain yang bergantung pada kesehatan laut akan mengalami penurunan jumlah ikan, sumber makanan, dan tingkat kesejahteraan. Negara-negara di Afrika Barat juga mungkin mengalami penurunan stok ikan hingga 85 persen akibat migrasi ikan ke perairan yang lebih dingin. Selain itu, wilayah basin Samudra Atlantik Utara dan Selatan, Pasifik Selatan dan Utara, serta Hindia akan mengalami penurunan stok ikan hingga 30 persen pada tahun 2100 karena migrasi ikan ke basin Kutub Utara dan Samudra Antartika.

Berdasarkan asumsi kenaikan suhu, pariwisata terumbu karang yang memiliki nilai ekonomi global tahunan sebesar $35,8 miliar juga diperkirakan akan mengalami penurunan pendapatan lebih dari 90 persen.

Jika tindakan segera diambil, kita akan dapat memperkuat ketahanan ekosistem laut dan berbagai industri yang bergantung pada ekosistem ini.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengurangi jumlah emisi gas rumah kaca global baik dari sumber daratan maupun lautan. Hasil analisis terbaru oleh High Level Panel on Sustainable Ocean Economy menunjukkan bahwa aksi iklim berbasis laut akan menyumbang 21 persen dari penurunan emisi yang diperlukan hingga tahun 2050 demi menjaga kenaikan suhu global di bawah 1,5 derajat Celsius. Hal ini menunjukkan bahwa laut memegang peran penting sebagai solusi iklim.

Namun, terkait berbagai dampak yang tak dapat kita hindari saat ini, para pengambil kebijakan harus mengubah cara mereka mengelola sumber daya laut.

1. Kerja Sama Lintas Batas dalam Perikanan Tangkap

Hasil perikanan tangkap umumnya mencapai sekitar 79,3 juta metrik ton ikan, atau 46,4 persen dari produksi makanan laut global dengan nilai ekonomi sebesar $130 miliar. Industri ini mempekerjakan 30,6 juta orang dan menggerakkan 4,6 juta kapal penangkap ikan. Bagi masyarakat pesisir dan negara kepulauan kecil, perikanan skala kecil menjadi tulang punggung ekonomi serta sumber protein utama mereka.

Saat terjadi pergeseran dan perubahan di habitat mereka, berbagai spesies laut akan bermigrasi, bahkan melewati batas yurisdiksi negara. Ketika ini terjadi, pengelolaan tidak dapat lagi dilakukan berdasarkan tren historis. Seiring dengan perubahan iklim, sektor perikanan harus berupaya untuk memahami risiko dan mengantisipasi perubahan yang ada serta membuat keputusan yang dapat meningkatkan kesehatan ekosistem. Perjanjian kerja sama di tingkat regional, nasional, dan internasional juga perlu dilakukan agar berbagai upaya ini dapat dikelola dengan baik dan keuntungannya dibagi secara merata, selama dan setelah terjadi migrasi.

Menurut penelitian kami, pengelolaan perikanan yang beradaptasi terhadap perubahan iklim mampu menghasilkan profit kumulatif lebih besar dibandingkan pengelolaan saat ini bagi 99 persen negara di dunia dalam semua skenario iklim. Di banyak negara, hasil tangkapan bahkan bisa meningkat dalam skenario tertentu. Laut yang terus menerus berubah tentunya membutuhkan strategi dan keputusan pengelolaan yang fleksibel, adaptif dan bersifat mencegah. Semakin hangat dan semakin meningkat keasaman laut, stok ikan akan bermigrasi ke arah kutub. Hal ini berpotensi menimbulkan konflik regional dan internasional terkait sumber daya yang berpindah lokasi dan memperparah kesenjangan yang ada.

Secara historis, perikanan yang dikelola dengan baik memiliki tingkat resiliensi tertinggi terhadap perubahan iklim. Perluasan implementasi praktik-praktik pengelolaan perikanan yang baik ini akan dapat memitigasi berbagai dampak negatif perubahan iklim.

2. Perluasan Akuakultur Laut

Marikultur, atau akuakultur laut, memproduksi lebih dari 38,6 metrik ton makanan laut dengan nilai ekonomi $67,4 miliar setiap tahunnya. Sektor ini berpotensi besar di masa depan sebagai penyedia sumber makanan laut bernutrisi, bahkan di wilayah yang diduga akan mengalami penurunan stok ikan.

Meski perubahan iklim diperkirakan akan menurunkan produktivitas marikultur, skala penurunan ini relatif kecil dibandingkan potensi produksinya. Bagi banyak negara, pengembangan atau perluasan sektor marikultur dapat membantu menanggulangi dampak negatif perubahan iklim terhadap stok ikan lokal mereka.

3. Diversifikasi dan Perlindungan Ekonomi Berbasis Terumbu Karang

Pariwisata laut memiliki potensi solusi pengentasan kemiskinan, khususnya bagi masyarakat nelayan dan petani pesisir dengan angka penduduk di bawah batas kemiskinan yang tinggi. Industri ini dapat mendorong pengembangan ekonomi lokal dan nasional serta peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat. Akan tetapi perlu dicatat bahwa bahkan jika aksi iklim yang lebih tegas dilakukan demi mengurangi emisi gas rumah kaca dan perubahan iklim dapat distabilkan, tutupan karang diperkirakan masih akan terus berkurang hingga 28 persen dan menyebabkan kerugian ekonomi hingga 60 persen.

Untuk itu, diversifikasi aktivitas pariwisata dan investasi akan membantu pelestarian beragam fungsi ekosistem, seraya mengoptimalkan potensi pariwisata di berbagai ekosistem ini. Ekowisata—aktivitas pariwisata yang mendukung pelestarian dan edukasi alam—harus diprioritaskan untuk mencegah meluasnya degradasi basis sumber daya lingkungan hidup yang menopang industri pariwisata.

Perlindungan terhadap hutan bakau, rawa pasang, dan padang lamun – yang menjadi daerah pembibitan spesies ikan terumbu karang dan sebagai penahan sedimen, juga akan membantu meningkatkan kesehatan dan produktivitas terumbu karang. Tak cuma itu, upaya mengurangi ancaman lokal terhadap habitat yang saling terhubung ini (seperti sedimentasi, polusi nutrisi, dan penangkapan ikan berlebih) akan dapat meningkatkan kemampuan ekosistem pesisir menghadapi peningkatan suhu dan pengasaman air laut.

Mengaitkan perikanan, akuakultur dan pariwisata dengan aspek ketahanan pangan dan penghidupan lokal juga akan membantu dalam pengembangan kebijakan yang dapat mengurangi dampak perubahan iklim terhadap perekonomian lokal dan nasional. Terakhir, aktivitas di lingkungan laut juga dapat secara strategis diarahkan untuk mengurangi interaksi negatif dan menjaga terumbu karang yang sehat.

Langkah yang Setara

Berbagai langkah adaptasi ketiga sektor di atas dalam menghadapi dampak perubahan iklim yang akan datang haruslah mempertimbangkan aspek kesetaraan dalam penerapan seluruh keputusan pengelolaan yang baru maupun yang sudah ada. Perubahan iklim akan terus memperparah ketimpangan, sementara ketimpangan akan mengurangi resiliensi, sehingga hasil akhir dari semua skenario perubahan iklim juga akan lebih buruk. Untuk itu, proses pengambilan keputusan yang benar-benar inklusif, representatif dan partisipatif dibutuhkan di semua sektor untuk memastikan adanya kesetaraan prosedur dalam semua kebijakan dan keputusan pengelolaan.

Bagikan

Tetap Terhubung

Dapatkan Nawala Kami

Dapatkan tulisan, kegiatan, publikasi, dan materi multimedia terbaru. Silakan berlangganan nawala WRI Indonesia yang terbit setiap bulan.