Anda di sini

Cinta di Masa Corona: Aksi untuk Membangun Lingkungan yang Lebih Baik

Oleh: Nanda Noor, Penanggung Jawab Proyek Tata Guna Lahan Berkelanjutan

Artikel ini bukan kisah roman seperti tulisan-tulisan dengan judul sama yang banyak dibuat di tengah COVID-19. Artikel ini juga tidak terinspirasi dari novel laris berjudul ‘Love in the Time of Cholera’. Saya mulai menulis artikel ini setelah saya menerbitkan tulisan mengenai refleksi kepemimpinan pribadi. Pada saat menulis, saya menyadari bahwa ada satu bagian yang hilang: cinta. Terinspirasi dari pengalaman saya di kantor, artikel ini melihat makna cinta di tengah pandemi dari berbagai perspektif. Apa betul cinta tidak bisa dilihat dari kata-kata, namun dari tindakan? Dan bagaimana cinta berperan dalam upaya kita untuk membangun kembali dengan lebih baik?

Dengan visi memajukan pembangunan berkelanjutan, di WRI kata cinta jarang diucapkan baik secara langsung atau lewat tulisan, namun selalu hadir melalui tindakan. Kami melayani Indonesia dalam perang melawan krisis iklim dengan hati, meskipun kami tahu bahwa ada kemungkinan upaya kami tidak akan berhasil. Karena meskipun nantinya kami kalah dalam perang ini, paling tidak kami telah membuktikan cinta kami kepada bumi. Di tengah rasa takut dan lelah yang tidak berujung, dengan cinta, manusia dapat mewujudkan hal-hal baik. Jika pun tidak, cinta paling tidak membuat perjalanan yang dilalui terasa lebih indah. Kekuatan ini terbukti pada tiga jenis cinta yang terlihat di tengah pandemi ini, berdasarkan pengamatan saya atas dua kegiatan yang kami lakukan: penanaman pohon untuk emisi dan restorasi hutan bagi kesehatan.

Pertama, mencintai alam. Kegiatan ini lahir dari keyakinan kami bahwa semua orang memiliki kemampuan untuk menyelamatkan iklim Indonesia dengan sedikit kepedulian dan kemauan untuk bertindak di tengah kekhawatiran mereka karena pandemi ini. Ketika memberi merupakan hal paling mudah untuk dilakukan, siapa saja akan merasa bangga karena telah berkontribusi kepada upaya penghijauan di negeri ini. Oleh karena itu, kami telah menghitung jumlah emisi yang diserap pohon agar mereka dapat ikut mengawasi dan terus menunjukkan cinta mereka. Dalam tiga bulan pertama pandemi, banyak orang berpartisipasi dalam kegiatan ini sehingga kami bisa menanam 5.000 pohon, menyerap setidaknya 12,5 ton CO2 per tahun selama umur pohon-pohon tersebut. Hal ini berhasil kami lakukan ketika semua orang terpaku pada permasalahan kesehatan dan ekonomi di tengah pandemi yang terjadi. Ini adalah bukti kekuatan cinta pada lingkungan.

<p>Seperti pohon, cinta harus ditanam dan dirawat agar bisa bersinar dan memberi arti. Kredit foto: Fadi XD/Unsplash</p>

Seperti pohon, cinta harus ditanam dan dirawat agar bisa bersinar dan memberi arti. Kredit foto: Fadi XD/Unsplash

Kedua, mencintai sesama manusia. Menanam pohon bukan hanya menyelamatkan lingkungan, tapi juga menyelamatkan kita. Semakin banyak pohon, semakin banyak polusi yang dapat dikurangi. Hal ini sangat penting untuk kualitas hidup yang lebih baik. Riset menunjukkan bahwa berkurangnya hutan dapat membuat hewan lebih mudah sakit dan menulari manusia seiring dengan berkurangnya habitat alami mereka – mungkin saja inilah penyebab terjadinya COVID-19. Menanam pohon dapat membantu mengurangi potensi ini, di samping menghasilkan penghasilan tambahan bagi masyarakat desa dari perawatan pohon, yang bisa menutup kerugian ekonomi akibat pandemi. Selain menyampaikan kepada teman dan kerabat untuk menjaga diri, mulai sekarang kita juga bisa menunjukkan rasa cinta kita kepada kesehatan fisik dan mental dengan menanam pohon. Coba ingat betapa inginnya kita melihat orang-orang yang kita cintai tersenyum di dunia nyata. Kita tidak perlu khawatir lagi karena ada tindakan nyata yang bisa kita ambil untuk memastikan senyum mereka.

Terakhir, mencintai diri sendiri. Ada alasannya kita menggunakan kata ‘mencintai’. Cinta adalah kata kerja, bukan kata benda atau kata sifat. Cinta seperti otot yang harus dilatih dan dikembangkan secara terus menerus agar tetap kuat. Cinta perlu diusahakan bukan hanya dirasakan. Jika kita tidak mencintai proses mencintai itu sendiri, cinta itu tidak akan kuat dan kita tidak akan bisa menjalankan dan menghargai perjalanan yang dilalui. Itulah kenapa, kami di WRI percaya bahwa pohon harus dirawat setiap hari agar bisa bertumbuh besar dan memenuhi tujuannya untuk menyerap emisi. Tindakan dan kontribusi kita juga nantinya bisa mengambil bentuk pengawasan pohon berkala dan penanaman kembali. Dengan kata lain, semua orang dapat memberikan perawatan terus menerus – salah satu bahan terpenting dalam cinta – bagi alam.

Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa ketika kita menghadapi tantangan yang belum pernah kita hadapi sebelumnya, kasih sayang yang kita berikan akan memberikan hasil yang luar biasa. Dalam hal restorasi hutan, membangun kembali lebih baik dengan cinta memang tidak mudah. Namun seperti yang dikatakan Muhammad Assad dalam bukunya, kenyamanan tidak akan menghasilkan pertumbuhan, dan tidak ada kenyamanan dalam proses pertumbuhan. Untuk melangkah maju dengan pasti, kita harus mulai mencintai keberlanjutan dengan hati dan penuh keyakinan. Itulah mengapa, bagi kami di WRI, LOVE atau cinta memiliki arti ‘Living Our Values Everyday’ atau hidup sesuai dengan prinsip kita setiap hari. Prinsip ini termasuk cinta tanpa pamrih, karena berbagi merupakan wujud kepedulian.

<p>Seperti hidup, cinta harus ditunjukkan dan dibagi setiap saat agar kekuatannya tetap terjaga. Kredit foto: Wyron A/Unsplash</p>

Seperti hidup, cinta harus ditunjukkan dan dibagi setiap saat agar kekuatannya tetap terjaga. Kredit foto: Wyron A/Unsplash

Saya sendiri berharap kita tidak memerlukan situasi seperti pandemi ini untuk menyadarkan kita akan kekuatan cinta yang sesungguhnya, dan kebutuhan kita akannya. Bagi saya, saya tahu bahwa corona memperkuat cinta saya kepada bumi, alam, dan upaya yang saya lakukan untuknya karena saya kesulitan tidur – bukti bahwa kenyataan yang ada jauh lebih indah daripada mimpi saya. Mungkin saya menyadari bahwa pada akhirnya, hidup tanpa cinta seperti menanam pohon yang tidak berbunga atau berbuah. Ketika semuanya terasa sulit dan harapan seperti hilang karena pandemi, cinta yang berbuah tindakan seharusnya menjadi salah satu kekuatan nyata yang bisa bertahan. Karena cinta yang lahir dari ujian berat dan panjang di masa corona akan bertahan lebih lama.

Jika kamu juga mulai belajar arti cinta dan mencintai di tengah masa corona seperti saya, mari berdiskusi. Terus mencintai, bagikan cinta, dengan cara yang sehat!

emisi

Bagikan

Tetap Terhubung

Dapatkan Nawala Kami

Dapatkan tulisan, kegiatan, publikasi, dan materi multimedia terbaru. Silakan berlangganan nawala WRI Indonesia yang terbit setiap bulan.