Anda di sini

Kehidupan di WRI Indonesia

  • Antara Hutan dan Kebun

    Oleh Thontowi Suhada, Peneliti Muda WRI Indonesia.

    Tengah hari, saya dan rekan peneliti saya Dwiki, bersiap di depan gerbang masuk perkebunan kelapa sawit. Hari itu, kami berencana melakukan penelitian awal mengenai tata kelola lahan di sebuah lanskap hutan lindung di Riau. Bersama Pak Icam, sekretaris desa, dan Pak Wafisri, seorang tetua adat, kami memverifikasi temuan penginderaan jauh yang mengindikasikan tumpang tindih lahan perkebunan sawit rakyat dengan kawasan hutan lindung.

    Bagikan

  • Potret Gajah Bertalut sebagai Hutan dan Desa

    Ikuti kisah Dwiki Ridhwan, Peneliti Wahana Riset Indonesia, melakukan field work di desa terpencil di dalam kawasan hutan yang bernama Gajah Bertalut (GB). Biasanya Ia berada di desa hampir seminggu setiap bulannya. Terkadang, Ia juga turut masuk ke dalam hutan.

    Bagikan

  • Blusukan ke Desa

    Mencari informasi awal dengan waktu yang cukup singkat menjadi tantangan tersendiri bagi peneliti di lapangan, dan yang lebih menantang adalah bagaimana menemukan cara yang menyenangkan untuk mendapatkan informasi dan data sehingga penelitian tidak terkesan monoton dan membosankan. Ikuti pengalaman Hendrika Tiarma Wulandari Samosir yang berkesempatan mendatangi Desa Tandun, Kabupaten Rokan Hulu, Riau untuk melakukan preliminary assessment terkait dengan tata kelola lahan di wilayah ini.

    Bagikan

  • Budaya Ekstraksi di Kelurahan Mangun Jaya, Sumatera Selatan.

    Kebiasaan masyarakat di Mangun Jaya, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan masih didominasi oleh budaya ekstraksi yang mengambil sumber daya alam secara langsung tanpa mengolahnya terlebih dahulu. Pengelolaan sumber daya minyak menawarkan keuntungan besar dan cepat yang mendorong masyarakat bergelut dibidang yang berisiko tinggi. Simak lebih lanjut cerita dari Hendrika Samosir tentang kehidupan masyarakat di Mangun Jaya.

    Bagikan

  • Perempuan dan Maket 3D

    Bagaimana posisi perempuan di kenegerian Gajah Bertalut saat ini? Apakah dengan berdirinya kekuasaan politik berlatar negara bangsa (kerajaan/republik) yang menempatkan laki-laki di posisi istimewa, memberikan pengaruh pada akses perempuan di ruang publik? Baca selanjutnya dalam tulisan ini.

    Bagikan

Tetap Terhubung

Dapatkan Nawala Kami

Dapatkan tulisan, kegiatan, publikasi, dan materi multimedia terbaru. Silakan berlangganan nawala WRI Indonesia yang terbit setiap bulan.