Anda di sini

Membangun Kembali dengan Lebih Baik dari Dalam Diri: Alasan Mengapa Saat ini Kepemimpinan Pribadi Lebih Penting dari Sebelumnya

Oleh: Nanda Noor, Penanggung Jawab Proyek Tata Guna Lahan Berkelanjutan

Bingung. Sunyi. Sendirian. Saya tidak pernah menyangka akan menulis blog ini dari rumah. Pandemi yang kita hadapi saat ini mengubah cara WRI melakukan pencapaian misinya dan cara hidup saya secara pribadi. Kami cukup beruntung. Seluruh tim berfungsi dengan optimal dan hampir tidak ada yang jatuh sakit. Secara organisasi, kita merasa baik-baik saja, tapi bagaimana perasaan saya sebenarnya? Kebetulan, hari ini menandai bahwa WRI sudah menerapkan pembatasan sosial (social distancing) selama 2,5 bulan dan saya sendiri sudah 2,5 tahun bekerja di WRI. Ini merupakan saat yang tepat untuk kembali melakukan refleksi.

Setelah bekerja selama 7 bulan di WRI, saya mulai menyadari bahwa proses yang saya jalani seringkali menantang secara intelektual, menekan secara emosional, dan menuntut secara fisik. Sejak itu, saya menikmati peran sebagai konduktor yang memimpin orkestra agar dapat menghasilkan simfoni indah dengan memimpin selusin staf dalam menjalankan berbagai proyek, saat susah maupun senang. Pandemi COVID-19 mewajibkan agar semua staf bekerja dari rumah. Pada awalnya ritme kerja saya terganggu dan saya berusaha keras untuk mencari keseimbangan. Kondisi seperti ini menguji ketahanan mental dan manajemen diri setiap orang, mungkin kita tidak perlu produktif sepanjang waktu, tetapi tentunya kita harus produktif saat diperlukan. Jadi apa saja pelajaran terkait kepemimpinan pribadi yang dapat kita petik?

Pertama-tama, para pemimpin secara pribadi mampu beradaptasi dengan baik, dan dalam hal ini jenis kepribadian Anda – INTJ (Sang “Arsitek”) seperti saya ataupun jenis kepribadian MBTI lainnya tidak terlalu berpengaruh. Adaptasi terkait rencana kerja saat ini, usulan gagasan baru, hingga rapat virtual tidak dapat kita hindari. Saat ini, kita lebih jarang berpergian sehingga berkontribusi dalam mengurangi emisi. Kondisi seperti ini mungkin tampaknya mempermudah pekerjaan saya untuk sementara waktu, tetapi rapat berdurasi panjang melalui Zoom ternyata lebih melelahkan daripada rapat tatap muka. Penyebabnya adalah karena kita senantiasa melakukan interpretasi non-verbal saat video dimatikan dan secara tidak sadar memikirkan penampilan saat video sedang menyala. Kualitas penyampaian pesan juga lebih rendah, terutama saat kejernihan suara dan koneksi internet sedang tidak berpihak pada kita. Selain itu, mungkin kucing Anda juga mengajak Anda bermain saat sedang mengikuti rapat. Mekanisme koping kita sedang dilatih. Kondisi seperti ini membuat saya lebih menghargai kesempatan untuk berinteraksi secara langsung dan mulai sekarang saya tidak akan menyia-nyiakannya lagi.

Town hall meeting WRI Indonesia di masa pandemi COVID-19.

Pelajaran kedua yang dapat dipetik adalah untuk menetapkan prioritas. Fokus saya meningkat setelah membuat daftar prioritas terkait rapat yang perlu diikuti dan juga beristirahat sebelum mengikuti rapat selanjutnya. Walaupun demikian, saya memutuskan untuk tidak terlalu memilih-milih. Saya ingin mendampingi tim saya di saat-saat sulit, seperti peribahasa bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Mereka membutuhkan saya dan saya pun membutuhkan mereka. Seperti yang kita ketahui, hubungan antar manusia dan kepercayaan tidak dapat dibangun dalam semalam. Kepemimpinan pribadi senantiasa memerlukan komunikasi yang baik dan kemampuan untuk berempati. Sama halnya dengan olahraga fisik, kepemimpinan adalah keahlian yang perlu dilatih dan dipraktikkan setiap harinya. Saya meyakini bahwa kunci kepemimpinan yang sukses adalah kemampuan untuk mendengarkan dengan saksama. Saya belajar bahwa pemimpin yang hebat tidak mendominasi pembicaraan – mereka tidak memulai diskusi, tetapi memastikan bahwa diskusi tersebut menghasilkan keputusan yang bermanfaat bagi semua pihak. Secara pribadi, saya merasa sedih saat menyadari setelah pandemi bahwa sebagai pemimpin, tanggung jawab utama kita terhadap anggota tim adalah hal yang paling penting, melebihi pekerjaan itu sendiri.

Pelajaran yang terakhir, kepemimpinan di masa yang penuh ketidakpastian ini tidak hanya membutuhkan keberanian untuk mengakui bahwa kita semua sedang menderita secara fisik dan/atau berjuang secara mental, tetapi juga memperlihatkan optimisme bahwa badai pasti berlalu dan tidak berfokus pada hal-hal yang tidak dapat kita lakukan. Dengan membagikan keberanian ini, saya menyadari betapa besar dukungan yang diberikan oleh tim saya dan begitu pula sebaliknya, kami secara bersama-sama menciptakan siklus yang positif. Dalam kondisi yang sangat sulit, manusia dapat mengesampingkan persaingan, politik, dan perbedaan serta berfokus pada siapa diri kita sebenarnya dan hal-hal yang dapat kita lakukan saat ini. Seperti kata pepatah “yesterday is history, tomorrow remains a mystery, but we always have today”. Secara pribadi, saya merasa bahwa kita perlu menggunakan pola pikir seperti ini agar dapat melanjutkan upaya untuk memerangi pandemi dan melanjutkan hidup, serta melanjutkan misi yang menantang untuk mengurangi emisi dengan menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Masalah lingkungan adalah tantangan yang akan kita hadapi seumur hidup dan kita harus beradaptasi, sama halnya dengan masa pandemi sebelum dan setelah ditemukannya vaksin. Walaupun kepemimpinan sendiri juga membutuhkan banyak pengorbanan, pandemi ini membuat pekerjaan saya semakin menantang. Mungkin tidak semua orang merasa yakin bahwa mereka dapat menjadi seorang pemimpin, tetapi setiap orang memiliki kapasitas untuk menjadi pemimpin setidaknya secara personal.

Setelah melakukan refleksi, saya menyimpulkan bahwa kebingungan yang saya rasakan tidak harus membuat saya tertegun, kesunyian tidak berarti bahwa saya tidak dapat berpendapat, dan kesendirian tidak sama dengan kesepian. Ada hikmah di balik setiap kejadian. Seperti kata-kata bijak yang disampaikan oleh seorang staf WRI Indonesia, kita sendirilah yang dapat mengubah ancaman menjadi peluang, sembari tetap tenang dan mengambil pelajaran yang dapat dipetik. Dengan demikian, upaya untuk membangun kembali dengan lebih baik (#BuildBackBetter) harus dimulai dari dalam diri kita masing-masing.

Apabila Anda merasakan hal yang serupa dalam kehidupan kantor maupun kehidupan sehari-hari, saya ingin mendengar dan bertukar gagasan dengan Anda. Silakan hubungi saya melalui surel yang tertera pada halaman profil. Terima kasih dan jagalah kesehatan.

Bagikan

Tetap Terhubung

Dapatkan Nawala Kami

Dapatkan tulisan, kegiatan, publikasi, dan materi multimedia terbaru. Silakan berlangganan nawala WRI Indonesia yang terbit setiap bulan.