Anda di sini

PERNYATAAN: Indonesia Ajukan Target Iklim Baru untuk 2030 Beserta Strategi Iklim Jangka Panjang Pertama

JAKARTA—Pemerintah Indonesia baru saja menyampaikan komitmen iklim nasional yang telah diperbarui kepada PBB. Meski komitmen tersebut meliputi langkah-langkah baru terkait adaptasi dan ketahanan iklim bersama sejumlah target baru di sektor tertentu, Indonesia masih menetapkan target emisi nasional yang sama dengan yang diajukan pada tahun 2016: target tanpa syarat untuk mengurangi 29% emisi gas rumah kaca (GRK) dari skenario business as usual hingga 2030, atau 41% dengan dukungan keuangan internasional yang memadai. Indonesia juga mengajukan strategi jangka panjang pertamanya kepada UNFCCC, menandakan rencana untuk menetapkan 2030 sebagai puncak emisi GRK dan kemungkinan untuk mencapai nol emisi GRK bersih, atau net-zero, pada 2060 atau bahkan lebih awal lagi.

Menjelang negosiasi iklim internasional COP26 pada November ini, 94 negara termasuk Uni Eropa telah mengajukan komitmen iklim nasional, baik untuk pertama kalinya maupun komitmen yang telah diperbarui.

Berikut pernyataan dari Tjokorda Nirarta Samadhi, Direktur WRI Indonesia:

“Komitmen iklim 2030 yang disampaikan hari ini oleh Pemerintah Indonesia meliputi langkah-langkah positif baru terkait adaptasi dan ketahanan serta sejumlah target spesifik untuk restorasi lahan gambut dan lahan yang terdegradasi. Perlu dicatat bahwa komitmen nasional untuk pengurangan emisi pada 2030 tidak lebih ambisius daripada yang sebelumnya telah diajukan pada 2016 silam, dan belum dapat memenuhi apa yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang tertuang dalam Persetujuan Paris.

“Strategi jangka panjang yang ditetapkan Indonesia merupakan inisiatif penting dalam arah yang benar, membawa negara kita selangkah lebih maju untuk dapat menuai manfaat dari perekonomian iklim yang baru. Strategi ini menawarkan jalur untuk mencapai net-zero pada tahun 2060 atau bahkan lebih cepat lagi, sehingga memungkinkan Indonesia mencapai target net-zero 10 tahun lebih awal jika dibandingkan dari target yang sebelumnya disampaikan oleh pejabat pemerintah pada bulan Maret tahun ini. Melalui jalur ini, emisi akan memuncak pada 2030, diikuti rata-rata penurunan emisi tahunan sebesar 30,7 Mton CO2e, dan terjadinya penyerapan karbon bersih atau net sink di sektor kehutanan dan penggunaan lahan.

“Penting untuk diperhatikan bahwa agar dapat mencapai target iklim 2030, Indonesia memerlukan investasi tambahan di sektor kehutanan dan energi yang dimungkinkan melalui peningkatan pembiayaan iklim internasional. Dengan semakin banyaknya negara, bisnis, dan investor terbesar di dunia yang mulai mengambil langkah bersama menuju target net-zero pada pertengahan abad ini, berita hari ini kian menegaskan bahwa Indonesia merupakan tempat yang tepat untuk berinvestasi.

“Sebagai penghasil emisi gas rumah kaca terbesar kedelapan sekaligus negara dengan pertumbuhan ekonomi paling pesat kedua, Indonesia punya peluang besar untuk meningkatkan perekonomian, mengurangi defisit, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kualitas udara dan air melalui aksi iklim yang tegas.

Penelitian Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) pada 2019 menunjukkan bahwa Indonesia dapat mengurangi emisi GRK sebesar 43% pada 2030, melebihi komitmen iklimnya saat ini, dan memberikan tingkat pertumbuhan PDB rata-rata 6% per tahun hingga 2045, dan menyediakan lebih dari 15 juta pekerjaan baru pada 2045 dibandingkan dalam skenario business as usual. Manfaat bersih akan dimulai sejak tahun pertama, dan dengan demikian dapat menjadi bagian dari pemulihan ekonomi langsung dari COVID-19. Sebaliknya, jika berpegang teguh pada jalur pertumbuhan saat ini dan hanya mencapai bagian bawah target iklim nasional 2030, Indonesia akan berisiko kehilangan sekitar 0,5% dari pertumbuhan PDB per tahun hingga 2030, dan 1% per tahun hingga 2045.

Analisis terbaru yang disampaikan oleh Menteri Suharso Monoarfa pada April juga menunjukkan bahwa mempercepat aksi iklim sangat penting untuk pemulihan yang kuat, dan akan membantu Indonesia, sejak tahun pertama, mencapai pertumbuhan yang lebih kuat, penciptaan lapangan kerja, dan penurunan kemiskinan dengan lebih cepat, serta menyelamatkan nyawa dengan mengurangi polusi udara.

“Indonesia perlu diakui kemajuannya dalam mengurangi deforestasi, yang telah menurun selama empat tahun berturut-turut dan mencapai level terendah selama satu dekade terakhir di 2020. Sekarang, bersama dengan bangsa lain, Indonesia harus meningkatkan upaya untuk mengatasi krisis iklim. WRI merekomendasikan Indonesia untuk mengambil langkah maju sebelum COP26 pada November dan berkomitmen untuk berhenti berinvestasi pada pembangkit listrik batu bara baru dan mencapai nol deforestasi pada 2030, diiringi dengan reforestasi yang substansial.”

Berikut pernyataan Shinta Widjaja Kamdani, Komisioner Pembangunan Rendah Karbon Indonesia (Low Carbon Development Indonesia; LCDI) dan CEO Sintesa Group:

“Sebagai negara adidaya dalam sumber daya alam, Indonesia berada di posisi yang sangat baik untuk menjadi pemimpin global dalam transisi menuju ekonomi nol karbon. Aksi iklim yang lebih ambisius di tingkat nasional akan meningkatkan daya saing Indonesia, menarik investasi yang lebih besar dan mendukung pemulihan yang lebih kuat dan lebih baik dari pandemi COVID-19 dan krisis ekonomi.”

Contact

Tetap Terhubung

Dapatkan Nawala Kami

Dapatkan tulisan, kegiatan, publikasi, dan materi multimedia terbaru. Silakan berlangganan nawala WRI Indonesia yang terbit setiap bulan.