Anda di sini

Cara Mengurangi Risiko Erosi Tanah di Indonesia

Erosi tanah menjadi musuh utama pertanian di Indonesia, sama halnya dengan negara pertanian lainnya. Erosi tanah menimbulkan ancaman lingkungan yang besar terhadap keberlanjutan dan produktivitas lahan, yang berdampak terhadap krisis iklim dan ketahanan pangan.

Indonesia perlu mengurangi risiko erosi, karena 3 dari 10 daerah aliran sungai di dunia dengan risiko erosi tertinggi berada di Indonesia. Pengelolaan lahan yang berkelanjutan dapat menjadi jawaban dari permasalahan ini.

Berikut ini adalah penjelasan lebih lanjut tentang tantangan dan solusi untuk erosi tanah di Indonesia:

Mengapa Erosi Tanah Menjadi Masalah?

Tanah adalah sumber daya alam yang mungkin tampak kokoh dan tidak akan habis, tetapi sebetulnya rapuh dan membutuhkan proses pembentukan selama ribuan tahun. Tanah lapisan atas, yang paling dekat dengan permukaan tanah, mengandung nutrisi penting bagi tanaman. Lapisan tanah ini menghadapi ancaman erosi yang disebabkan angin dan air (erosi tanah di negara tropis seperti Indonesia banyak disebabkan oleh air). Erosi dapat menurunkan kesuburan tanah dan partikel tanah yang terbawa aliran di permukaan dapat masuk ke badan air, seperti sungai, danau, atau bendungan. Hal ini dapat menciptakan lapisan sedimen tebal yang mengurangi daya tampung bendungan dan membuat aliran pada anak sungai dan sungai kurang lancar, sehingga dapat menyebabkan banjir. Jika erosi tanah sudah terjadi, kemungkinan bahwa peristiwa serupa terulang akan besar.

Karena kecepatan erosi tidak dapat diimbangi oleh kecepatan pembentukan tanah, tanah pun menjadi kurang cocok untuk pertanian. Hal ini berpotensi memunculkan masalah global yang sangat serius karena jumlah penduduk dunia diperkirakan akan mencapai 9 miliar orang pada tahun 2050. Pengelolaan lahan yang lebih cerdas dan berkelanjutan merupakan suatu keharusan.

Apa Pengaruh Erosi Tanah Terhadap Perubahan Iklim?

Erosi tanah menimbulkan degradasi lahan, alhasil jumlah tanaman yang sebetulnya berfungsi untuk menyerap karbon dioksida yang dapat menaikkan suhu global akan berkurang. Tanah sendiri berpotensi menyerap 5% dari total emisi GRK tahunan yang dihasilkan oleh manusia. Pengelolaan lahan berkelanjutan dapat membantu menjaga tanah agar tetap utuh untuk ditanami dengan tanaman penyerap karbon. Praktik ini sudah dilakukan di Cina, melalui proyek Grain-for-Green di lembah Sungai Kuning yang melestarikan tanah dan air telah berhasil mengurangi emisi karbon.

Di sisi lain, perubahan iklim yang tidak terkendali dapat memperburuk erosi dan dampak yang ditimbulkan. Laporan dari Intergovernmental Panel on Climate Change menemukan bahwa kecepatan erosi tanah kini 100 kali lebih cepat daripada kecepatan pembentukan tanah jika lahan tersebut digunakan untuk kegiatan budidaya yang tidak disertai dengan praktik pelestarian. Risiko erosi akan semakin tinggi di masa mendatang karena perubahan suhu, yang menurunkan produksi pertanian, nilai lahan, dan kesehatan manusia.

Kenapa Kita Harus Memberi Perhatian Terhadap Erosi Tanah di Indonesia?

Indonesia memiliki iklim tropis dengan medan berbukit dan seringkali disertai dengan curah hujan yang tinggi, perpaduan ini menimbulkan risiko erosi yang tinggi. Contoh bencana yang terjadi belum lama ini adalah banjir besar yang melanda Jakarta dan daerah lainnya pada Malam Tahun Baru 2019. Sedimen yang terkikis dari hulu menyumbat sungai dan kanal di Jakarta hingga meluap.

Jumlah penduduk Indonesia yang semakin meningkat – dari 211 juta orang menjadi 267 juta orang dalam dua dekade terakhir – memberi tekanan yang lebih besar terhadap sektor pangan, alhasil masyarakat menggunakan lereng curam sebagai lahan pertanian. Pertanian di lereng bukit perlu ditangani secara hati-hati untuk menghindari erosi tanah, tetapi ini sering kali tidak dilakukan. Di Jawa, tren ini telah menimbulkan erosi tahunan sebesar 6 -12 ton per hektare per tahun. Sebagai perbandingan, erosi di Amerika Serikat hanyalah 0,7 ton per hektare per tahun.

Kehilangan lahan produktif ini menimbulkan kerugian ekonomi yang besar. Di Jawa, erosi tanah menimbulkan kerugian sebesar 2% total PDB dari sektor pertanian, dengan memperhitungkan kerugian yang dihadapi petani secara langsung dan kerugian yang dialami pihak lain di hilir. Studi lain menunjukkan bahwa biaya erosi tanah di Sleman, setara dengan 17% dari pendapatan bersih rata-rata petani per hektare lahan pertanian.

Apa Solusi untuk Mencegah Erosi Tanah?

1. Gunakan Praktik Pertanian yang Ramah Tanah

Pertanian terasering perlu digunakan di lahan berbukit. Terasering mencegah erosi dan memudahkan irigasi untuk bercocok tanam. Selain itu, ladang pertanian di lahan berbukit membutuhkan tanaman penutup tanah untuk menjaga agar partikel tanah tetap berada di tempatnya. Ini dapat diwujudkan dengan budidaya tanaman berupa tumpang sari, yakni menanam dua jenis tanaman secara bersama-sama di ladang yang sama, misalnya menanam jagung atau kedelai di antara barisan pohon kelapa sawit. Sistem agroforestri yang membudidayakan beragam tanaman pangan dan tanaman hutan dapat menjadi solusi yang efektif bagi petani. Penggunaan pupuk kandang juga dapat menambah kadar zat organik tanah yang akan memperkuat struktur tanah sehingga menghambat erosi. Selain itu, budidaya tanaman berakar dalam dan tanaman berakar dangkal secara bergantian dapat memperbaiki struktur tanah dan pada saat yang bersamaan, mengurangi erosi.

2. Memberikan Insentif bagi Pengelolaan Lahan Berkelanjutan

Walaupun ilmu pengelolaan lahan berkelanjutan mulai populer, konteks sosial-ekonomi seringkali menyulitkan dalam hal pelaksanaannya. Praktik-praktik pengelolaan lahan berkelanjutan harus layak secara finansial bagi para petani. Langkah-langkah pencegahan erosi membutuhkan biaya median sebesar $500 per hektare, ini merupakan investasi yang cukup besar bagi seorang petani. Pemerintah dan bank perlu membantu petani agar memiliki akses ke pinjaman dan memberikan dukungan dalam menerapkan langkah-langkah pencegahan erosi. Upaya ini tidak hanya menguntungkan petani, tetapi juga seluruh masyarakat. Biaya pencegahan jauh lebih rendah daripada biaya restorasi dan rehabilitasi lahan, yang diperkirakan mencapai $1.500–$2.000 per hektare. Sumber lain menemukan bahwa biaya tersebut dapat mencapai $15.221 per hektare.

3. Pencegahan DAN Rehabilitasi

Kunci untuk mengelola dan mengurangi erosi tanah adalah merehabilitasi tanah yang sudah rusak, mencegah degradasi lebih lanjut, dan memasukkan langkah-langkah pencegahan erosi sebagai komponen penting dari kebijakan pengelolaan lahan. Dengan demikian, kita dapat mencegah kelaparan dan mengurangi krisis iklim.

Bagikan

Tetap Terhubung

Dapatkan Nawala Kami

Dapatkan tulisan, kegiatan, publikasi, dan materi multimedia terbaru. Silakan berlangganan nawala WRI Indonesia yang terbit setiap bulan.