peserta-plb
Papuan Leaders Bootcamp 2023 (peserta, mentor dan fasilitator)
Kedit Photo: Annisa Nisitha Nindyarini/WRI Indonesia

This article is currently only available in Indonesian

 

Bagaimana jika potensi alam dan kekayaan budaya Tanah Papua dapat menjadi salah satu sumber penghidupan yang berkelanjutan bagi masyarakat Papua? Pertanyaan ini dapat terjawab kalau generasi muda mengetahui perannya sebagau ujung tombak inovasi dan pembangunan di Tanah Papua. Dengan kekayaan sumber daya alam yang dimiliki, dan dapat mengelola potensi besar tersebut untuk dikembangkan menjadi berbagai gagasan usaha yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sekaligus menjaga lingkungan dan budayanya.  

Berdasarkan data BPS 2024,  Provinsi Papua Tengah menempati posisi pertama provinsi dengan jumlah statistik generasi muda (usia 16–30 tahun) terbanyak di Indonesia, yaitu sebesar 27,1%, disusul dengan Provinsi Papua Barat sebanyak 26,59% dan Provinsi Papua Pegunungan sebesar 26,2%.  Statistik dari ketiga provinsi ini menunjukkan adanya potensi bonus demografi yang dapat menjadi harapan baru bagi pembangunan di Tanah Papua.

Meskipun Tanah Papua kaya akan keanekaragaman hayati, secara sosial dan ekonomi masih di bawah standar nasional. Saat ini beberapa provinsi di Tanah Papua tergolong ke dalam provinsi termiskin di Indonesia. Berdasarkan data BPS (2025) Provinsi Papua Pegunungan,  dengan tingkat kemiskinan sebesar 29,6%, disusul Papua Tengah (27,6%), Papua Barat Daya (23,04%), dan Papua Barat (21,09%). Statistik ini masih jauh di atas rata-rata nasional sebesar 8,03%. Di tahun yang sama, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan Indeks Pembangunan Gender (IPG) seluruh provinsi di Tanah Papua pun masih berada di bawah standar rata-rata nasional.

Namun, mengembangkan potensi tersebut bukan tanpa tantangan. Secara sosial dan ekonomi, sejumlah provinsi di Tanah Papua masih berada di bawah standar nasional, dengan tingkat kemiskinan yang tinggi. Tidak hanya itu, pemekaran Tanah Papua juga membuat tantangan pembangunan lebih kompleks. Di tengah kondisi tersebut, banyak kawan muda telah memupuk inisiatif untuk mendorong kemajuan Tanah Papua melalui berbagai gagasan dan usaha. Sayangnya, mereka tak jarang terbentur oleh minimnya dukungan, ruang, dan keterbatasan kemampuan dalam menerjemahkan gagasan menjadi model bisnis yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat adat, sekaligus menjaga lingkungan dan budaya.

WRI Indonesia memandang pemberdayaan pemimpin muda Papua sebagai komponen penting bagi kemajuan dan masa depan di Tanah Papua secara berkelanjutan. Oleh sebab itu, WRI Indonesia memprakarsai Papuan Leaders Bootcamp (PLB), sebuah inisiatif yang diharapkan dapat menjawab kebutuhan dan tantangan yang dihadapi para pemimpin muda Papua dalam mengembangkan gagasan  usaha yang berakar pada potensi alam dari daerah

Pada 2023, Papua Leaders Bootcamp edisi pertama dilaksanakan di Manokwari, Provinsi Papua Barat, dan diikuti oleh 24 peserta yang terbagi menjadi 12 tim yang berasal dari enam provinsi di Tanah Papua. Para peserta membawa beragam gagasan dan bisnis yang telah dikembangkan, mulai dari pangan lokal hingga pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK), dengan mengedepankan kelestarian lingkungan.

Misalnya pada kelompok usaha Abon Ikan Sembilan dari Teluk Bintuni yang ingin memperluas pasar dari produk mereka.  Usaha ini mereka jalankan selain untuk mendapatkan manfaat secara ekonomi juga bertujuan untuk tetap menjaga kelestarian mangrove Teluk Bintuni sebagai habitat ikan sembilan. Gagasan usaha lainnya datang dari, Waninggap Sai (Dapur Waninggap) dari Merauke yang ingin mengembangkan usaha kue ndiam, pangan tradisional suku Marind berbahan dasar sagu yang semakin jarang ditemui. Melalui pengembangan produk tersebut, mereka ingin meningkatkan nilai pangan lokal,memperkenalkan sekaligus mengangkat kembali kekayaan kuliner Papua.

Melalui Papuan Leaders Bootcamp, peserta diharapkan dapat meningkatkan kemampuan orang muda asli Papua dalam mengembangkan bisnis berkelanjutan dan memperdalam pemahaman mereka tentang konservasi dan isu lingkungan. Pelatihan ini diharapkan menjadi inkubator bagi bisnis yang tidak hanya berasaskan ekonomi, namun juga melestarikan lingkungan danbudayadi Tanah Papua.

Selain meningkatkan kemampuan dan wawasan, peserta juga mendapatkan dukungan dalam mengembangkan model bisnis hingga tahap launching, pemasaran produk, dan juga membangun jejaring dengan mentor dan sesama peserta untuk peluang kolaborasi di masa depan.

 

Dari Bootcamp Menuju Inkubasi Bisnis Lestari

Setelah lolos seleksi pertama, calon peserta diminta melengkapi proposal bisnis yang telah didaftarkan, bertema pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK), dan ide bisnis lain yang mengetengahkan kelestarian lingkungan. Mereka kemudian mempresentasikan proposal bisnis pada juri dari pakar yang memiliki keahlian dan pengalaman dalam pemberdayaan masyarakat dan pengembangan bisnis lestari di Tanah Papua.

Sistem penilaian calon peserta dinilai dari kesesuaian dengan tema bootcamp, keterlibatan para pemimpin muda  dalam proposal usaha, keberlanjutan usaha secara ekonomi dan prospek usaha ke depan. Di penghujung proses seleksi, diperoleh 12 tim usaha dengan latar belakang dan gagasan bisnis yang beraneka ragam.  

Misalnya kelompok usaha Abon Ikan Sembilan dari Teluk Bintuni, yang ingin mencari pasar untuk produk mereka seraya menjaga kelestarian mangrove Teluk Bintuni sebagai habitat ikan sembilan. Tak kalah menarik adalah Waninggap Sai (Dapur Waninggap) dari Merauke yang ingin memajukan usaha kue ndiam, kue tradisional dari suku Marin. Melalui pangan berbahan dasar sagu ini, mereka ingin meningkatkan nilai produk yang diolah tanpa bahan pengawet, seraya mempopulerkan kembali kue yang makin jarang ditemui ini.  

Diskusi dan konsultasi
Diskusi dan konsultasi peserta PLB bersama mentor mengenai Business Model Canvas. 
Kredit Photo: Seriany Tonglo/WRI Indonesia

Selama seminggu, para peserta bootcamp mengikuti kelas para narasumber. Materi awal membahas keanekaragaman hayati dan manfaat ekosistem Papua, disampaikan oleh akademisi dari Universitas Papua. Selanjutnya, peserta mempelajari potensi pangan lokal dan hasil hutan non-kayu, serta pentingnya kearifan lokal dalam menjaga alam. Harapannya, kelas-kelas ini dapat membekali pengusaha muda dengan kecakapan dalam mengembangkan bisnis yang selaras dengan prinsip kelestarian lingkungan,

Potensi alam Papua tidak berhenti sampai disitu. Dalam salah satu sesi, Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Papua Barat, Prof. Dr. Charlie D Heatubun mengingatkan bahwa Tanah Papua memiliki keunggulan berupa kekayaan alam yang sulit ditemukan di tempat lain. Selain berbagai produk pangan, modal alam (natural capital) ini dapat dikembangkan menjadi bisnis kelas dunia seperti wisata birdwatching di Pegunungan Arfak dan wisata selam di Teluk Wondama.

Ia menyoroti keberhasilan pelaku usaha OAP seperti Hans Mandacan dan Zeth Wonggor yang mengelola wisata birdwatching yang kini memiliki waiting list hingga dua tahun karena tingginya peminat.

Heatubun mendorong agar para peserta terus mengembangkan kemampuan dan ide-ide kreatif untuk mengolah produk lokal yang siap saing. Ia menekankan pentingnya sentuhan budaya dan kekuatan narasi dalam pengemasan produk. Pengalaman bersentuhan langsung dengan kekayaan budaya, seraya didukung oleh narasi yang solid, niscaya akan mendukung keberlanjutan produk.

Pemetaan potensi sumberdaya
Pemetaan potensi sumberdaya alam di wilayah asal peserta PLB.  
Kredit Photo: Seriany Tonglo/WRI Indonesia

PLB ini juga membahas aspek pengembangan bisnis, seperti tata kelola keuangan, pemasaran, perencanaan bisnis, dan pengembangan ide bisnis menggunakan Business Model Canvas. Tak hanya pemaparan para narasumber, rangkaian bootcamp diselingi kegiatan interaktif seperti games edukatif dan roleplay materi bersama para mentor dan peserta lainnya.  

Di akhir pelatihan, peserta diminta mempresentasikan (pitching) proposal bisnis yang telah dikembangkan (melalui sesi konsultasi dan diskusi bersama mentor) yang telah dilakukan selama seminggu mengikuti bootcamp di hadapan dewan juri. Enam tim (12 orang) terpilih menerima bantuan keuangan dan pendampingan lanjutan dari WRI Indonesia dan tim mentor.

Tidak hanya sampai pada bootcamp saja, pada 27 Maret 2024, WRI Indonesia mengadakan pelatihan lanjutan mengenai branding dan marketing khusus bagi tim terpilih yang berlangsung di Jayapura, untuk membantu merekadalam mengenali dan memaksimalkan identitas usaha dan potensi produk demi menjangkau pasar yang dituju. Harapannya ke  depan, inkubator bisnis berkelanjutan menjadi langkah strategis untuk mendukung wirausahawan lokal dalam mengembangkan usaha ramah lingkungan yang berakar pada budaya lokal.

 

Potensi Baru dari Orang Muda Papua

Papua Leaders Bootcamp, berkomitmen untuk memberikan dukungan dan bimbingan yang berkelanjutan dengan gagasan yang dibawa oleh para peserta selama bootcamp. Sehingga harapannya, usara yang dibina dapat terus berkembang dan bertumbuh menjadi usaha yang dapat memperkuat ekonomu komunitas sekaligus menjaga lingkungan dan budaya Tanah Papua.  

Kopi Abenong
Haniel Uopmabin (kanan) dan Produk Kopi Abenong. 
Kredit Photo: Seriany Tonglo/WRI Indonesia

Salah satu cerita yang menunjukan perjalanan tersebut adalah Kopi Abenong (Kopi Yepki Kiwi) dairi  dari Oksibil, Papua Pegunungan. Usaha yang dibangun oleh Haniel Uopmabin dan Bertus Uopmabin telah mampu mengembangkan produk kopi arabica secara mandiri, mulai dari penanaman, pemanenan, hingga roasting dan penyajian.  

Berawal dari keinginan untuk memberdayakan kebun orang tua, Uopmabin bersaudara mengembangkan usaha mereka setelah mengikuti bootcamp di Manokwari. WRI Indonesia pun terus mendukung dan berdiskusi bersama tim Kopi Abenong untuk memantau perkembangan usaha mereka. Seiring berjalannya waktu, Kopi Abenong berhasil meningkatkan kualitas produk dan memperluas jejaring usahanya. Namun tetap menjalankan budidaya kopi yang ramah lingkungan. Perkembangan inilah yang membuat tim WRI Indonesia memilih Kopi Yepki Kiwi sebagai alumni terbaik bootcamp pertama.

Dari cerita Kopi Abenong, kita tahu bahwa pengembangan bisnis lestari membutuhkan waktu dan proses. Gagasan yang dibawa dari ruang pelatihan terus bertumbuh jika mendapatkan dukungan, pendampingan  yang tepat dan kemauan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki.  

Tiga tahun setelah bootcamp pertama, WRI Indonesia kembali membuka ruang bagi orang muda Papua untuk mengembangkan ide dan gagasan bisnnis berkelanjutan berbasis komunitas melalui Papuan Leaders Boothcamp 2026 yang akan diselenggarakan pada 20–23 Oktober 2026, di Jayapura. Karena itu WRI Indonesia mengundang kawan-kawan muda asli Papua berusia 18–38 tahun untuk bersama memgembangkan bisnis lestari di Tanah Papua. Kesempatan ini terbuka untuk kawan-kawan muda yang sedang mengembangkan maupun sudah menjalankan usaha yangbergerak di bidang pangan lokal, hasil hutan non-kayu, usaha daur ulang, dan jasa ekosistem. Segera daftarkan tim usaha kawan-kawan melalui bit.ly/PendaftaranPLB2 sebelum 27 September 2026, pukul 23.59 WIT.  

 

Preview image by Annisa Nisitha Nindyarini/WRI Indonesia

Explore more:
Papua