Cross-Product Training: Membangun Kapasitas Pengelolaan Hutan Lewat Teknologi dan Data
Di tengah meningkatnya kebutuhan akan pengelolaan sumber daya alam yang lebih cermat dan adil, WRI Indonesia menggelar pelatihan tingkat lanjut bagi para organisasi masyarakat sipil di Kalimantan. Bertempat di Swiss-Belhotel Balikpapan pada 20-22 Mei 2025, kegiatan selama tiga hari ini menjadi ruang pembelajaran mendalam bagi peserta untuk memahami dan memanfaatkan empat alat berbasis data lingkungan, yaitu Global Forest Watch, Forest Watcher, Land & Carbon Lab, serta NbS Tool. Keempat alat ini dirancang untuk membantu proses pemantauan hutan dan lahan secara lebih akurat, cepat, dan partisipatif untuk para organisasi di tingkat daerah.
Pelatihan ini mempertemukan lebih dari 20 organisasi masyarakat sipil dari Kalimantan Timur, Tengah, Selatan, Utara, hingga Kalimantan Barat. Mereka berasal dari jaringan advokasi lingkungan, pemantauan hutan, pengelola program perhutanan sosial, hingga komunitas adat. Para peserta mengikuti sesi interaktif, praktik langsung, dan diskusi studi kasus yang relevan dengan kondisi lapangan mereka. Hari pertama dibuka oleh pemaparan materi Land & Carbon Lab. Platform tersebut bertujuan memberikan transparansi atas dinamika tutupan lahan global secara real-time, serta mendukung pemantauan emisi gas rumah kaca (GRK) dan kondisi ekosistem alami. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyegaran fungsi dari platform Global Forest Watch dan Forest Watcher, termasuk fitur-fitur terbaru yang memungkinkan pelacakan peringatan deforestasi secara real-time dan pelaporan lapangan melalui ponsel pintar.
Hari kedua berfokus pada NbS Tool, yakni sebuah perangkat yang membantu pengguna memetakan potensi dan risiko dalam penerapan solusi berbasis alam. Peserta diajak menyusuri data spasial seperti tutupan lahan, risiko deforestasi, hingga nilai konservasi kawasan. Sesi pemetaan pengalaman pengguna pun menjadi momen penting untuk memahami tantangan di lapangan dan harapan mereka terhadap pengembangan alat ini. Di sini, muncul banyak masukan tentang kebutuhan akan data yang lebih granular, akurasi data, fitur komparasi antar wilayah, serta integrasi dengan dokumen perencanaan teknis di daerah.
Salah satu sesi yang paling mengundang refleksi adalah diskusi tentang irisan antar produk yang membahas bagaimana Global Forest Watch, Forest Watcher, dan NbS Tool sebenarnya saling melengkapi. Peserta diajak untuk melihat ekosistem produk ini bukan sebagai alat yang berdiri sendiri, tetapi sebagai sistem yang bisa saling memperkuat pengambilan keputusan berbasis bukti. Diskusi berlangsung dinamis, terutama saat peserta menyampaikan pengalaman mereka menghadapi kebijakan di daerah, mulai dari perizinan lahan, konflik pemanfaatan ruang, hingga kebutuhan mitigasi iklim lokal.
Pada hari terakhir, peserta dibagi ke dalam kelompok studi kasus seperti tambang, wilayah pesisir, perhutanan sosial, gambut, kebakaran hutan, hingga pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Dalam sesi ini, mereka diminta menerapkan alat yang telah dipelajari untuk menganalisis tantangan dan peluang masing-masing konteks. Hasil diskusi dipresentasikan dalam format proposal di PPT yang membebaskan para peserta dalam membuat sebuah proyek yang dapat menangani permasalahan di wilayah mereka.dan menjadi bukti bahwa data bisa mengubah cara berpikir dan strategi di lapangan.
Pelatihan ini menunjukkan bahwa teknologi dan data bukan hanya alat bantu teknis, tetapi juga kunci untuk membangun strategi advokasi yang lebih tajam, responsif, dan berbasis bukti. Interaksi lintas organisasi membuka ruang kolaborasi baru dan memperkuat pemahaman bahwa pengelolaan hutan yang berkeadilan tidak bisa dilakukan secara terpisah-pisah. Harapannya, kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan secara berkala dan diperluas ke wilayah lain, agar semakin banyak aktor lokal yang mampu mengakses dan menggunakan data untuk mendorong pengelolaan sumber daya alam yang lebih adil dan berkelanjutan.