Jakarta, 31 Juli 2025 – Sebagai bagian dari strategi menghadapi perubahan iklim dan tantangan perkotaan seperti banjir dan suhu tinggi, WRI Indonesia mendorong penerapan Solusi Berbasis Alam (SbA) atau Nature-based Solutions (NbS) melalui integrasi infrastruktur hijau dan biru. Upaya ini secara resmi dimulai melalui kegiatan Kick-Off Meeting Proyek Percepatan Solusi Berbasis Alam yang digelar di Jakarta, menandai peluncuran proyek percontohan di Waduk Cimanggis, Kecamatan Cibubur, Jakarta Timur.

Dengan dukungan dari Caterpillar Foundation dan kolaborasi bersama Rujak Center for Urban Studies (RCUS), proyek ini bertujuan menghadirkan bukti nyata bagaimana solusi berbasis alam dapat menurunkan suhu perkotaan, meningkatkan kualitas air, dan melestarikan keanekaragaman hayati – terutama di kawasan-kawasan strategis seperti kolam retensi.

Jakarta menjadi salah satu kota paling rentan terhadap risiko iklim. Data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahwa suhu permukaan udara di Jakarta meningkat sebesar 1,6°C dalam periode 1866–2022, jauh melampaui rata-rata global yang hanya 0,85°C. Saat ini, suhu rata-rata siang hari di wilayah perkotaan Jakarta dapat mencapai 33–35°C, dengan beberapa titik padat infrastruktur mencatat suhu permukaan mencapai 45–50°C, terutama di area yang minim tutupan hijau. Ketergantungan terhadap infrastruktur abu-abu semakin memperparah tantangan seperti Urban Heat Island (panas perkotaan) dan banjir.

NbS hadir sebagai solusi berkelanjutan dengan memanfaatkan kekuatan alam – mulai dari pepohonan, taman kota, sungai, hingga lahan basah – untuk mengelola risiko iklim sekaligus memperbaiki kualitas hidup masyarakat. Bukti keberhasilan pendekatan ini dapat dilihat, misalnya, dari Kota Medellín, Kolombia, yang berhasil menurunkan suhu hingga 2°C di kawasan padat penduduk melalui program “Green Corridors” yang menghubungkan taman-taman kota dengan jalur hijau sepanjang jalan raya dan sungai.

Hendri, Sekretaris Dinas Sumber Daya Air Provinsi DKI Jakarta, menyampaikan, “Solusi berbasis alam yang mengintegrasikan infrastruktur hijau dan biru merupakan pendekatan berkelanjutan untuk menghadapi tantangan iklim dan risiko banjir di Jakarta. Harapannya, program ini dapat menghasilkan kajian dan contoh nyata integrasi infrastruktur hijau-biru di DKI Jakarta, sekaligus mendukung Masterplan Ruang Terbuka Biru DKI Jakarta”.

“Melalui proyek ini, kami ingin menunjukkan bahwa pembangunan kota dengan mempertimbangkan infrastruktur biru dan hijau, dapat meningkatkan ketahanan kota terhadap perubahan iklim, dimulai dari cara kita merancang dan merawat ruang terbuka dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk masyarakat perkotaan,” ujar Agni Pratama, Head of Development WRI Indonesia. “Waduk Cimanggis dipilih sebagai lokasi pilot karena memiliki potensi besar dalam serapan karbon, restorasi habitat, dan pelibatan masyarakat.”

Proyek ini memperkuat pendekatan partisipatif dengan melibatkan masyarakat di sekitar Waduk Cimanggis, termasuk kelompok warga, tokoh RW/RT, dan komunitas lokal. RCUS akan memimpin pelaksanaan proyek di lapangan dengan pendekatan arsitektur komunitas dan penguatan kapasitas warga untuk berperan aktif dalam merawat kawasan biru-hijau tersebut.

Dian Tri Irawaty, Direktur Program RCUS, menyampaikan, “Kami percaya bahwa solusi berbasis alam tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga membuka ruang dialog antara warga dan pemerintah. Dengan keterlibatan aktif masyarakat, proyek ini bisa menjadi contoh konkret bahwa perencanaan kota yang adil dan berkelanjutan itu memungkinkan.”

Acara peluncuran ini dihadiri oleh perwakilan pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Kota Depok, termasuk Dinas Sumber Daya Air (DSDA), Dinas Pertamanan dan Hutan Kota, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya. Dalam pertemuan ini, para pihak menyepakati pentingnya NbS sebagai bagian dari strategi ketahanan iklim dan pembangunan berkelanjutan di wilayah perkotaan.

Proyek Percepatan Solusi Berbasis Alam akan berlangsung hingga tahun 2027 dengan berbagai intervensi yang dirancang untuk menjadi model praktik baik yang dapat direplikasi di kota-kota besar lain di Indonesia.