Jakarta, 27 Januari 2026 – Kajian terbaru dari Koalisi Sistem Pangan Lestari (KSPL) dan World Resources Institute (WRI) Indonesia mengungkapkan bahwa sistem pangan Indonesia memiliki biaya tersembunyi yang diperkirakan mencapai Rp3.025,5–Rp9.334,5 triliun atau setara dengan 28,5–45,4% PDB Indonesia tahun 2023. Hal ini dikemukakan dalam acara temu media di kantor WRI Indonesia pada Selasa, 27 Januari 2026.

Laporan berjudul “The Hidden Costs of Indonesia’s Food System” yang dirilis pada Desember 2025 lalu menjelaskan bahwa pangan merupakan sektor besar yang menjadi tumpuan perekonomian bagi masyarakat Indonesia. Sayangnya, cara memproduksi, mendistribusikan, dan mengonsumsi pangan masih melahirkan biaya tersembunyi yang nilainya tidak sedikit. Biaya ini dibayarkan oleh masyarakat melalui tiga aspek, yakni kondisi kesehatan, degradasi lingkungan, dan kondisi sosial. 

WRI Indonesia menyampaikan laporan
Romauli Panggabean, Knowledge Generation Lead KSPL sekaligus Environmental Economist WRI Indonesia menyampaikan Laporan berjudul “The Hidden Costs of Indonesia’s Food System”
Foto: Annisa Nindyarini/WRI Indonesia

“Sektor pangan kita memang memiliki peran penting dalam menopang ekonomi Indonesia dengan kontribusi sebesar19,5 persen dari total PDB pada 2024. Namun ternyata, berbagai aktivitas di dalam sistem pangan saat ini justru membawa dampak negatif yang nilainya melebihi kontribusi tersebut,” ujar Romauli Panggabean, Knowledge Generation Lead KSPL sekaligus Environmental Economist WRI Indonesia.

Lima kategori biaya terbesar dari sistem pangan saat ini adalah: 1) obesitas, 2) malnutrisi, 3) polusi udara, 4) emisi gas rumah kaca (GRK), serta 5) susut dan sisa pangan (food loss and waste). 

Besarnya biaya dari segi kesehatan, menurut dr. Jessica Ferdi, Dokter Spesialis Gizi Klinik dari RSAB Harapan Kita, cukup mencerminkan kondisi masyarakat saat ini. 

“Kajian ini menunjukkan peningkatan pola konsumsi makanan berpemanis dan pangan ultraproses yang umumnya rendah nilai gizi tetapi tinggi kalori, lemak jenuh, dan gula. Pola konsumsi ini meningkatkan risiko penyakit tidak menular, seperti diabetes dan hipertensi, sehingga perlu kewaspadaan dalam pemilihan makanan, terutama bagi anak. Kajian ini kembali mengingatkan bahwa penerapan pola makan gizi seimbang yang mencakup karbohidrat, protein, lemak sehat, sayur, dan buah sebagai sumber vitamin dan mineral perlu terus didorong,” ujar dr. Jessica yang hadir sebagai penanggap dalam temu media.

Laporan Hidden Cost
Foto: Annisa Nindyarini/WRI Indonesia

Selain sektor kesehatan, biaya dari degradasi lingkungan dan sosial tidak dapat diabaikan. Jika sistem pangan terus merusak alam dan kehidupan sosial masyarakat, bukan tidak mungkin kelangkaan pangan akan terjadi.

Temuan mengenai biaya tersembunyi ini menunjukkan diperlukan adanya perubahan arah kebijakan menjadi lebih menyeluruh. Ke depan, kebijakan perlu mendorong pergeseran pola konsumsi masyarakat menuju pangan dan minuman yang lebih sehat sekaligus menginternalisasi biaya sosial dan lingkungan melalui instrumen fiskal yang tepat. Di saat yang bersamaan, upaya peningkatan produktivitas tenaga kerja dan perluasan kesempatan ekonomi di sektor pertanian harus berjalan seiring dengan penguatan dan perluasan jaring pengaman sosial.

Sugeng Harmono_Kementeian Koodinator Bidang Pangan
Sugeng Harmono selaku Asisten Deputi Cadangan Pangan dan Bantuan Pangan, Kementerian Koordinator Bidang Pangan menanggapi Laporan “The Hidden Costs of Indonesia’s Food System”
Foto: Annisa Nindyarini/WRI Indonesia

"Pemerintah Indonesia tengah melakukan beberapa langkah dalam mewujudkan transformasi sistem pangan. Kajian ini memberikan gambaran yang menyeluruh terkait bagaimana sistem pangan memengaruhi kondisi kesehatan masyarakat dan lingkungan serta pertanian di Indonesia. Dengan kata lain, kami merasa bahwa perhitungan biaya tersembunyi dan temuan-temuan pada kajian ini dapat mendukung formulasi kebijakan yang lebih strategis dan tepat sasaran bagi kami ke depannya,” ujar Sugeng Harmono selaku Asisten Deputi Cadangan Pangan dan Bantuan Pangan, Kementerian Koordinator Bidang Pangan yang juga hadir sebagai penanggap. 

Di sisi konsumen, fakta ini diharapkan dapat mendorong perilaku #MakanBerkesadaran sehingga masyarakat menjadi lebih bijak dalam memilih dan mengonsumsi pangan. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya mempertimbangkan harga pangan, tetapi juga dampaknya terhadap kesehatan, lingkungan, dan keberlanjutan sistem pangan.

Laporan “The Hidden Costs of Indonesia’s Food System” dapat diakses di bit.ly/HiddenCost-ID.
 


*** 
 


Tentang Koalisi Sistem Pangan Lestari (KSPL)  
Koalisi Sistem Pangan Lestari (KSPL) terdiri dari 11 mitra, yaitu: CIFOR-ICRAF, CIPS, GAIN, Garda Pangan, Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial, IBCSD, Yayasan Kehati, KRKP, Parongpong RAW Lab, Systemiq, dan WRI Indonesia. KSPL merupakan bagian dari komunitas global Food and Land Use Coalition (FOLU) yang bekerja dengan para mitra international, nasional, dan lokal dalam mendorong transformasi sistem pangan dan tata guna lahan. Indonesia merupakan salah satu negara pelopor dari inisiatif ini, bersama Brazil, Cina, Etiopia, India, Kenya, dan Kolombia. 
[email protected] | sistempanganlestari.org  
 
Kontak media 
[email protected] | +62 821 2435 5635 

Explore more:
pangan