Jakarta, 14 Juni 2026 – Studi terbaru berjudul Waste Methane Management in Asia: Comparative Analysis and Pathways for Collaborative Action mengungkap pentingnya kolaborasi lintas negara dan lintas sektor guna mempercepat pengurangan emisi metana dari sektor limbah di Asia.  

Pada 2024, kawasan Asia diperkirakan menghasilkan emisi metana dari limbah sebesar 648,5 juta ton CO₂ ekuivalen (MtCO₂-e), atau setara dengan emisi tahunan lebih dari 140 juta mobil penumpang.  

Metana merupakan gas yang paling kuas, dan memiliki daya pemanasan 80 kali lebih kuat dalam jangka pendek dan lebih membahayakan dari karbon.. Metana dihasilkan dari limbah organik yang terbanyak diperoleh dari sisa konsumsi/sampah rumah tangga, pertanian dan peternakan.

Studi ini merupakan analisis komparatif pengelolaan metana di enam negara Asia, yaitu Indonesia, India, Tiongkok, Malaysia, Korea Selatan dan Jepang, yang mencakup lima dimensi utama: pemilahan dan pengumpulan sampah, pengelolaan landfill, pengolahan dan pemulihan limbah, pengolahan air limbah serta isu-isu lintas sektor.  

Temuan studi menunjukkan bahwa keberhasilan pengelolaan emisi metana tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga dipengaruhi oleh tata kelola, kapasitas pendanaan, pembangunan infrastruktur, kerangka regulasi, serta koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah.  

Penguatan kerja sama regional terasa semakin mendesak, mengingat emisi metana dari sektor limbah di Asia terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk, urbanisasi dan meningkatnya konsumsi masyarakat.

Berdasarkan analisis tersebut, studi ini mengidentifikasi sejumlah peluang kolaborasi regional untuk mempercepat penurunan emisi metana dari sektor limbah. Rekomendasi yang dihasilkan mencakup peingkatan pertukaran pengetahuan dan data antarnegara, perluasan bantuan teknis dan penguatan kapasitas serta pengembangan proyek percontohan yang didukung oleh mekanisme pendanaan inovatif. Selain itu, studi ini juga menyoroti pentingnya standarisasi metodologi, integrasi kebijakan, penguatan tata kelola, serta sistem pemantauan, pelaporan, dan verifikasi (MRV) yang kuat untuk memastikan pengurangan emisi yang terstruktur dan berkelanjutan.  

Analisis komparatif ini merupakan hasil penulisan bersama antara WRI Indonesia, EPIC (Energy Policy Institute at the University of Chicago) India, IGES (Institute for Global Environmental Strategies), SFOC (Solutions for Our Climate), Forever Sabah, dan Beijing Huanding Environmental Smart Data Institute.  

WRI Indonesia, dengan dukungan dari Global Methane Hub, memperkuat kebijakan dan aksi Indonesia dalam mengurangi emisi metana melalui sistem data dan pelacakan yang andal, termasuk pendekatan partisipatif di sektor persampahan. Proyek ini berkontribusi secara langsung terhadap komitmen Indonesia dalam Global Methane Pledge, yang bertujuan mengurangi emisi metana sebesar 30% pada tahun 2030.


Baca analisis lengkapnya di Waste Methane Management in Asia: Comparative Analysis and Pathways for Collaborative Action 
 

==========================================================

Tentang WRI Indonesia  

WRI Indonesia didirikan di Indonesia dengan nama Yayasan Institut Sumber Daya Dunia. WRI Indonesia adalah organisasi penelitian independen yang didedikasikan untuk berkontribusi pada pembangunan sosial ekonomi Indonesia secara inklusif dan berkelanjutan. Pekerjaan kami difokuskan pada lima portofolio: hutan, iklim, energi, kota, dan transportasi, serta laut. Kami mengubah ide-ide besar menjadi tindakan di nexus lingkungan, peluang ekonomi, dan kesejahteraan manusia. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik https://wri-indonesia.org/id.   

Informasi lebih lanjut silahkan menghubungi:

Enggi Dewanti, Senior Communications Specialist for Climate Transition 
[email protected]  

Gambar pratinju oleh Katie Rodriguez/Unsplash

Lihat juga:
metana