Memperingati Hari Laut Sedunia, 8 Juni 2026.

***

Satu dekade lalu, seorang penulis sekaligus jurnalis lepas asal Pambusuang, sebuah desa pesisir di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, punya ide gila: ia ingin membuat perahu berisi buku-buku dan berlayar ke wilayah pesisir lainnya. Ia menebang pohon secukupnya, untuk diambil kayunya, kemudian membuat kapal bersama rekan-rekannya yang dicicil sejak 2015.

Namanya Ridwan Alimuddin. Alasan utamanya membuat Perahu Pustaka — demikian ia lebih senang menyebutnya — sesederhana ingin menyebarluaskan semangat literasi, khususnya ke anak-anak dan generasi muda, di kampung-kampung pesisir, pulau kecil, bahkan di kampung aliran sungai yang berada di kawasan Selat Makassar.

Pria yang akrab dipanggil Iwan itu ingin menggabung dua minat yang dirinya geluti selama bertahun-tahun — buku dan kapal — dan bisa mengajak lebih banyak orang di wilayahnya untuk menghargai bacaan. Saat itu, lebih dari 10% penduduk orang dewasa di Sulawesi Barat tidak bisa membaca. Sementara di banyak desa lainnya di provinsi tersebut, satu-satunya buku yang tersedia adalah salinan Al-Quran.

"Segera setelah perahu dibuat, saya mengirim e-mail ke bos saya untuk mengundurkan diri," ujarnya.

Ridwan Alimuddin
Ridwan Alimuddin bersama Perahu Pustaka. Kredit: Jawa Pos Group.

Iwan memberi nama kapalnya dengan “Pattingalloang”, diambil dari nama seorang pemimpin kerajaan di Makassar pada abad ke-17 yang tenar karena memiliki ketertarikan pada ilmu pengetahuan Barat: Karaeng Pattingalloang. Ia gemar membeli buku, peta, hingga bola dunia dari para pelaut Barat, sesederhana karena ingin mengetahui banyak hal.

Pattingalloang fasih berbahasa Portugis, Spanyol, bahkan Latin — bahasa krusial untuk mengantarnya memahami pengetahuan klasik Eropa. Ia disebut-sebut sebagai “Renaissance Man dari Makassar”. Sejumlah literatur sejarah juga mencatat bahwa ia dianggap menjadi guru bagi Sultan Hasanuddin dan Arung Palakka, dua tokoh terkenal yang kelak memimpin masing-masing kerajaan pesisir bertempur melawan kolonialisme.

Hingga 2018, bersama dua rekannya, Iwan masih menahkodai kapal itu keliling kampung-kampung pesisir dan pulau-pulau kecil, membawa ribuan buku. Ribuan buku tersebut didapat dari donasi berbagai pihak, mulai dari sesama pegiat literasi sampai penulis nasional seperti Maman Suherman. Kata Iwan, salah satu anak dari Wakil Presiden RI Jusuf Kalla bahkan juga ikut menyumbang.

"Kami mempunyai harapan yang rendah," katanya. "Kami ingin mereka menggunakan buku-buku tersebut, itu saja."

Namun di sisi lain, kelak, Iwan ingin perahu tersebut menjadi semacam “perpustakaan terapung” untuk mewariskan semangat dunia maritim dan ilmu pengetahuan pelayaran ke generasi yang lebih muda.

“Jadi, nantinya Perahu Pustaka juga difungsikan mengajarkan teknik-teknik pelajaran tradisional. Maka, kita buat perahu layar tradisional, dalam hal ini jenis baqgo yang di Makassar disebut “pattorani”, biasa digunakan berburu torani atau ikan terbang,” tulis pria yang pernah mengenyam studi kelautan dan perikanan di Universitas Gadjah Mada (UGM).

***

Kisah Iwan hanya satu titik contoh dari melimpahnya kisah-kisah orang kecil, yang biasa dan tak berkuasa, berupaya melakukan hal-hal bermanfaat bagi sesama dan lingkungan hidup di wilayah laut dan pesisir Indonesia. Berada dalam salah satu negara maritim dengan pulau terbanyak di dunia, akan mungkin lebih banyak ragam inisiatif orang-orang kecil seperti Iwan, yang tak terdengar, jauh dari sorot kamera.

Dalam momentum Hari Laut Sedunia (World Ocean Day) yang jatuh pada 8 Juni ini, mungkin saatnya perlu mengambil jeda dan melakukan hal-hal kecil namun reflektif, yang selama ini kerap luput dan terabaikan, karena terdistraksi hal-hal besar.

Salah satunya dengan melakukan praktik paling purba telah dilakukan manusia: membaca. Dengan membaca, perlu ada waktu yang diluangkan dan pikiran yang difokuskan. Dengan membaca, tiap detail, tiap proses, tiap hal-hal kecil akan lebih dihargai.

Dalam momentum ini, WRI Indonesia ingin mengajakmu untuk melakukan hal serupa. WRI Indonesia meminta sejumlah peneliti dari tim Laut & Sampah Plastik untuk merekomendasi buku atau bacaan yang perlu dibaca, dan mengapa bacaan tersebut bisa membantu merefleksikan keadaan laut dan pesisir dunia hari ini.

Sejumlah rekomendasi ini tak melulu harus buku atau bacaan akademik, hasil riset, diktat, maupun teori. Ia bisa karya sastra, catatan perjalanan, atau hanya ilmu pengetahuan umum. Namun, benang merahnya tetap sama: laut dan pesisir dunia.

Lewat rekomendasi bacaan ini, ada harapan besar agar laut kita, dengan segala kultur masyarakat pesisirnya, dengan segala keanekaragaman hayati ekosistemnya, kembali diperbincangkan, didiskusikan, direnungkan, serta dihargai keberadaannya.

Seorang jurnalis radio sekaligus penulis kuliner asal Jerman, Carsten Henn, suatu kali pernah bilang: “Konon, buku yang bagus akan menemukan pembacanya sendiri. Terkadang hanya butuh seseorang untuk menunjukkan jalannya.”

Berikut adalah lima rekomendasi bacaan untuk menemanimu berefleksi di Hari Laut Sedunia kali ini:

  • Moby-Dick (1851), karya Herman Melville
Moby Dick
Sumber: Istimewa

“Novel klasik yang bercerita tentang perburuan paus oleh sekelompok pelaut yang dipimpin Kapten Ahab ini membuat saya merefleksikan keadaan laut kita hari ini, terutama bagaimana manusia selalu punya hasrat untuk menaklukkan.

Hari ini, walau sudah ada larangan internasional, praktik kuno perburuan paus masih terus dilakukan secara masif untuk kebutuhan komersil. Sejumlah kasus perburuan paus ilegal masih mudah kita temukan hari ini. Membaca ulang novel ini kembali menemukan relevansinya, jika kita tertarik pada isu konservasi biota laut dan IUU fishing.”

Royhan Maulana

Blue Carbon & Climate Spatial Research Assistant

  • Oceans and Society: An Introduction to Marine Studies (2023), disunting oleh Ana K. Spalding & Daniel O. Suman
Ocean & Society
Sumber: Istimewa

“Saya merekomendasikan buku ini karena berhasil menjelaskan bagaimana hubungan yang lebih intim antara manusia dan laut, melampaui sekadar urusan konservasi atau sains. Salah satu bagian buku ini yang menjelaskan bagaimana manusia sangat, sangat, dan sangat bergantung pada laut sepanjang sejarah umat manusia itu sendiri, lewat pangan, perdagangan, transportasi, mata pencaharian, termasuk dari sisi politik, budaya, dan pembangunan. Buku ini makin menyadari saya bahwa relasi manusia justru begitu dekat dengan laut, dan kelestarian ekosistemnya penting bagi kelangsungan hidup umat manusia.”

Herlin Edy Puspita

Ocean Policy Research Assistant

  • Plastics in Aquaculture: A Circular Economy Guidebook (2023), karya Helene Øyangen Lindberg dkk.
Plastics in aquaculture
Sumber: Istimewa

“Ini merupakan hasil laporan yang mengkaji penerapan konsep ekonomi sirkular plastik dalam keseluruhan siklus hidup industri perikanan budidaya di Norwegia. Laporan ini merupakan kolaborasi lintas pihak, mulai dari lembaga riset, universitas, organisasi lingkungan, perusahaan perikanan budidaya, hingga prerusahaan produsen plastik.

Laporan ini sangat menarik karena cara penyajian hasilnya yang inovatif. Selain pemaparan deskriptif, laporan ini menyediakan 25 "kartu konsep" (concept cards) yang berfungsi sebagai rekomendasi konkret untuk meningkatkan sirkularitas plastik di sektor perikanan budidaya. Setiap kartu memuat deskripsi aksi, contoh kasus nyata, tingkat kesulitan implementasi, serta aktor-aktor yang perlu terlibat, sehingga menjadikannya panduan yang langsung dapat digunakan oleh para praktisi dan pembuat kebijakan.

Di Hari Laut Sedunia ini, saya merasa buku ini penting untuk dibaca karena sektor perikanan budidaya kerap disebut sebagai salah satu kontributor terbesar sampah plastik di lautan. Sayangnya, penelitian terkait plastik dalam budidaya masih sangat terbatas, baik secara global maupun di Indonesia. Laporan ini bisa jadi referensi penting bagi berbagai negara, termasuk Indonesia yang menyumbang sekitar 10% dari total produksi perikanan dunia, dalam merancang strategi peningkatan sirkularitas plastik di sektor perikanan budidaya.”

Youone Vantomi Lumbanraja

Ocean & Plastic Waste Research Assistant

  • Argonauts of the Western Pacific (1922), karya Bronislaw Malinowski
Malinowski
Sumber: Istimewa

“Tatanan sosial hari ini sudah banyak berubah. Upaya pemberdayaan masyarakat adat dan penguatan negara berkembang oleh komunitas global juga membuat kita tidak lagi melihat kelompok-kelompok yang dianggap “terpencil” sebagai sekadar bagian dari kebudayaan eksotis yang layak dirayakan dari kejauhan. Saya membaca semangat yang sama dalam karya Bronisław Malinowski.

Dalam buku ini, antropolog asal Polandia tersebut bercerita soal kebudayaan masyarakat adat Trobriand, yang tinggal di kepulauan kecil di Samudera Pasifik Barat, yang kini berada di Provinsi Milne Bay, Papua Nugini. Ia menggunakan pendekatan etnografi untuk menjelaskan secara rinci sistem pertukaran cincin “Kula”, sekaligus menunjukkan bagaimana aspek ekonomi, magis, dan bahasa bekerja sebagai satu kesatuan yang saling terhubung dalam kehidupan mereka. Malinowski berusaha menolak pandangan kolonial yang menganggap masyarakat adat, terutama di Kepulauan Pasifik, hanya digerakkan oleh insting bertahan hidup atau dorongan irasional. Melalui sistem “Kula”, ditunjukkan bahwa kebudayaan bekerja sebagai sebuah sistem sosial yang utuh, di mana setiap unsur memiliki fungsi tertentu untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, sosial, hingga psikologis masyarakatnya. 

Salah satu bagian yang menarik adalah cara Malinowski menjelaskan sihir dalam masyarakat adat Trobriand. Sihir tidak dipahami sebagai sesuatu yang “jahat”, melainkan sebagai mekanisme sosial untuk menghadapi hal-hal yang tidak sepenuhnya bisa mereka kendalikan lewat keterampilan praktis. Ini terasa sangat masuk akal ketika melihat ketidakpastian cuaca dan berbagai risiko yang masyarakat adat pesisir hadapi saat melaut.

Tak hanya itu, Malinowski juga memberikan argumen yang kuat tentang pentingnya etnografi sebagai instrumen untuk menghasilkan kajian akademis yang komprehensif, jujur, sekaligus reflektif, baik bagi penulis maupun pembacanya. Bagi saya, buku ini tidak hanya penting untuk dibaca sebagai karya akademis, tetapi juga sebagai jalan untuk memahami kehidupan masyarakat pesisir yang sering kali dilekati stigma seperti “terbelakang” atau “terpencil”. Apa yang ditulis Malinowski lebih dari seratus tahun lalu seolah menantang cara pandang tersebut. Dengan semangat Hari Laut Sedunia, buku ini terasa tetap relevan sebagai salah satu pijakan untuk memahami masyarakat pesisir dan hubungan mereka dengan laut.”

Affan Asyraf

GEDSI Research Analyst

  • Atlas Samudra: Berlayarlah di Samudra-Samudra Luas Dunia! (2025), karya Dunia Rahwan & Ilaria Faccioli
Atlas
Sumber: Istimewa

“Sebagai seorang ibu, yang kebetulan seorang peneliti di bidang laut dan suka menyelam, saya suka membelikan buku atau barang-barang berbau laut, atau hewan-hewan laut, untuk anakku yang saat ini usianya 6 tahun. Salah satunya dengan membeli buku ini, yang menjelaskan berbagai ekosistem laut yang ada di dunia, seperti di Samudra Atlantik, Samudra Kutub (Utara-Selatan), Samudra Hindia, dan Samudra Pasifik.

Menurut saya, yang paling menarik dari salah satu bab buku ini adalah bagaimana cerita dan visualnya seolah memosisikan pembacanya sebagai seorang penyelam di berbagai lautan dunia, termasuk Laut Merah di Mesir. Visual memukau dalam buku ini merangsang anak untuk tertarik belajar kehidupan di bawah air, sekaligus menjelaskan bahwa ada banyak penghuni laut yang belum dikenali oleh anak-anak.

Usai mengetahui berbagai kisah kapal karam di dunia dalam buku ini, anak saya sekarang jadi suka eksplorasi lebih jauh soal kisah-kisah kapal yang tenggelam, seperti RMS Titanic dan HMHS Britannic.

Di Hari Laut Sedunia ini, saya rasa para orang tua di rumah perlu meluangkan waktu untuk membaca buku ini bersama anak di rumah, yang semoga bisa menjadi pengantar yang baik untuk memahami dan menghargai ekosistem laut kita semua.”

Citra Septiani

Ocean & Plastic Waste Research Lead

Lihat juga:
Laut