Memperkuat Pengelolaan Lingkungan dan Pendampingan Masyarakat lewat Teknologi dan Data melalui Cross-Product Training
Di tengah semakin banyaknya platform digital yang dikembangkan untuk memantau kondisi lingkungan dan mendukung pengelolaan hutan, tantangan terbesar bukan lagi soal menciptakan teknologi baru, tetapi bagaimana memastikan semua alat itu benar-benar dimanfaatkan dan memberi dampak nyata di lapangan. Menjawab kebutuhan tersebut, WRI Indonesia mengadakan cross-product training pada 30 September sampai 2 Oktober 2025 di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat.
Selama tiga hari, pelatihan ini mempertemukan 25 peserta dari berbagai organisasi masyarakat sipil di Bali, NTB, dan NTT. Mereka datang dari latar belakang organisasi yang beragam, mulai dari pendamping masyarakat adat, penggerak perhutanan sosial, pemberdayaan perempuan, hingga pegiat restorasi lanskap dan advokasi lingkungan. Masing-masing membawa pengalaman, pengetahuan lokal, sekaligus tantangan yang mereka hadapi dalam mengelola sumber daya alam di wilayahnya.
Pelatihan ini dirancang untuk memperkenalkan sekaligus memperdalam pemahaman peserta terhadap tiga produk teknologi. WRI Indonesia, yaitu Global Forest Watch, Forest Watcher, dan NbS Tool. Ketiganya merupakan alat berbasis data yang bertujuan untuk membantu proses pemantauan kondisi hutan, perubahan tutupan lahan, serta perencanaan proyek solusi berbasis alam. Melalui pelatihan ini, peserta tidak hanya belajar cara menggunakan setiap alat, tetapi juga memahami bagaimana ketiganya saling terhubung dan dapat digunakan bersama untuk menghasilkan analisis yang lebih komprehensif.
Global Forest Watch dikenal sebagai platform pemantauan perubahan hutan yang menyajikan data secara near-real-time dari seluruh dunia. Melalui peta interaktif, pengguna dapat melihat di mana saja terjadi kehilangan tutupan pohon, kebakaran hutan, hingga degradasi lahan. Sementara itu, Forest Watcher memungkinkan pemantauan di lapangan secara langsung melalui perangkat seluler. Dengan aplikasi ini, masyarakat atau petugas lapangan dapat mencatat temuan, menambahkan foto, serta melaporkan kondisi hutan secara cepat dan terintegrasi. Di sisi lain, NbS Tool hadir untuk meningkatkan penerapan solusi berbasis alam, seperti restorasi hutan, pengelolaan lahan basah, atau perlindungan ekosistem alami, dengan menyediakan data dan kerangka analisis yang dapat digunakan untuk merancang kebijakan dan kegiatan di tingkat lokal.
Selama kegiatan, peserta diajak untuk memahami irisan di antara tiga produk itu, memetakan pengalaman mereka, dan mendiskusikan kebutuhan di lapangan. Sesi-sesi tersebut berlangsung secara interaktif dan praktis, mulai dari pengenalan fitur dan tutorial penggunaan hingga latihan langsung.
Salah satu momen yang paling menarik adalah saat para peserta diajak melakukan roleplay. Dalam simulasi itu, mereka diminta memerankan peran tertentu, seperti pengambil kebijakan, pendamping masyarakat, atau pengelola hutan adat, lalu diberi studi kasus untuk dipecahkan menggunakan ketiga tools tersebut. Dari sini, muncul banyak refleksi menarik tentang bagaimana data dan teknologi dapat memperkuat kerja kolaboratif antarpihak di lapangan.
Bagi kelompok pendamping perhutanan sosial, NbS Tool dapat menjadi alat yang sangat bermanfaat karena memungkinkan mereka melihat sebaran wilayah perhutanan sosial beserta karakteristiknya, seperti jumlah lembaga pengelola, jenis tutupan lahan, hingga keberadaan satwa liar di wilayah tersebut. Sementara bagi kelompok masyarakat hutan adat, data biodiversitas yang tersedia di dalam alat ini memberikan informasi yang selama ini sulit mereka akses. Banyak di antara mereka yang tidak mengetahui secara pasti lokasi atau jenis spesies yang ada di wilayahnya, dan data dari NbS Tool membantu menjembatani kesenjangan itu. Ada pula kelompok yang merasa tool ini mempermudah upaya restorasi hutan dan lahan, sementara yang lain menganggap fitur informasi wilayah sangat berguna untuk mengetahui apakah area yang mereka kelola termasuk dalam kawasan hutan negara atau tidak.
Sementara itu, Global Forest Watch dan Forest Watcher dianggap mampu mendorong keterlibatan masyarakat yang lebih partisipatif. Dengan data near-real-time dan fitur pemantauan lapangan, masyarakat bisa ikut memantau perubahan tutupan hutan dan memberikan laporan langsung dari lokasi. Bagi banyak peserta, ini bukan hanya soal teknologi, tetapi tentang membangun rasa memiliki terhadap hutan yang mereka rawat.
Benita Nastami dari Women Research Institute membagikan pengalamannya. “Kami sedang mempersiapkan program di Kecamatan Sambelia, NTB, yang bertujuan untuk mendorong masyarakat setempat untuk bersama-sama memantau hutan dan lahan di sekitar tempat tinggal mereka. Dengan dibekali alat-alat ini, mereka jadi punya pengetahuan dan pengalaman yang bisa menjadi bekal untuk dilibatkan dalam forum-forum pengambilan keputusan," ujarnya.
Sementara itu, Ahmad Gustiawan Anton Sumekah dari Yaksa Lumbung Kemanusiaan Masyarakat Pedesaan menambahkan, “Kami terkadang tidak punya kemampuan untuk mengidentifikasi aspek-aspek biodiversitas di suatu wilayah secara ilmiah. Di NbS Tool informasi itu sudah tersedia, jadi kami tidak perlu lagi menghabiskan waktu mencari jenis flora dan fauna secara manual. Waktu pencarian berkurang dan pengambilan keputusan jadi lebih mudah.”
Melalui pelatihan ini, WRI Indonesia berharap berbagai alat berbasis data yang telah dikembangkan dapat benar-benar digunakan sesuai kebutuhan di lapangan. Cross-product training bukan hanya tentang mengenalkan teknologi, melainkan tentang membangun pemahaman bersama antara data dan pengalaman masyarakat. Ketika keduanya bertemu, lahirlah cara baru dalam mengelola hutan yang lebih dekat dengan manusia dan lebih peka terhadap alam. Di tangan para pegiat lingkungan dan masyarakat lokal, ketiga alat ini diharapkan dapat menjadi jembatan menuju pengelolaan hutan yang lebih inklusif, partisipatif, dan berbasis pengetahuan.