Pelatihan Sistem Pangan Lestari untuk Keuskupan Labuan Bajo dan Keuskupan Ruteng
Labuan Bajo, 4-7 Desember 2024 – Koalisi Sistem Pangan Lestari (KSPL) menggelar pelatihan sistem pangan berkelanjutan dengan metode berpikir sistem bagi para pastor, suster, dan ketua komisi dari Keuskupan Labuan Bajo dan Keuskupan Ruteng di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman mereka tentang sistem pangan dan peran penting agama dalam mendorong perubahan pola konsumsi yang lebih lestari.
Dalam pembukaan acara ini, Kepala Sekretariat KSPL, Gina Karina, menekankan bahwa transformasi sistem pangan di Indonesia memerlukan keterlibatan banyak pihak, termasuk pemuka agama. “Kita sadari bersama bahwa transformasi sistem pangan di Indonesia perlu dilakukan dan peran setiap pihak dari berbagai latar belakang sangat penting dalam upaya ini, termasuk di antaranya juga adalah peran para pimpinan agama dalam mengajak umat berubah menuju gaya konsumsi pangan yang lebih lestari,” ujarnya.
Pelatihan ini menggunakan pendekatan berpikir sistem dan menggabungkan berbagai metode, seperti curah pendapat, diskusi, role play, serta simulasi. Materi disampaikan dengan Pendekatan Orang Dewasa (POD) yang melibatkan peserta dalam proses pembelajaran berbasis pengalaman. “Dalam pendekatan orang dewasa itu, peserta tidak hanya dikasih pengetahuan, tetapi dilibatkan dalam proses mendapatkan pengalaman,” jelas Koordinator Nasional KRKP, Said Abdullah.
Tantangan Sistem Pangan di Indonesia
Salah satu isu yang menjadi perhatian dalam pelatihan ini adalah berbagai tantangan dalam sistem pangan di Indonesia, termasuk triple burden malnutrition, food waste, dan dampak lingkungan dari sistem produksi pangan yang masih eksploitatif. Menurut laporan FOLU Coalition tahun 2019, terdapat hidden cost sebesar $1,7 triliun akibat hilangnya produksi pertanian dan biodiversitas.
Di tingkat lokal, wilayah Manggarai Raya menghadapi tantangan besar dalam ketahanan pangan. Kajian Koalisi Pangan BAIK tahun 2022 menunjukkan bahwa perubahan iklim telah berdampak pada produksi pangan di daerah ini. Kenaikan suhu, perubahan curah hujan, serta peningkatan jumlah hama menyebabkan banyak petani mengalami gagal panen.
Peran Pemuka Agama dalam Membangun Kesadaran
Pemuka agama memiliki peran strategis dalam mengedukasi masyarakat terkait isu pangan. Ketua Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi Keuskupan Ruteng, RD. Jossy Erot, mengungkapkan bahwa isu pangan sangat erat kaitannya dengan kerja pastoral. “Ketika bicara tentang pangan, memang komisi saya yang punya hubungan langsung terkait pangan karena pengembangan sosial ekonomi dekat sekali hubungannya dengan pangan,” katanya.
Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, juga menekankan pentingnya diskusi dan kolaborasi dalam membangun sistem pangan yang lebih baik. “Meskipun ada banyak kesibukan, tetapi kita bisa hadir bersama di sini, berdiskusi, berproses bersama, untuk membangun sistem kehidupan kita yang lebih baik,” ujarnya.
Suster Ermelinda dari Komisi Kesehatan Keuskupan Labuan Bajo menambahkan bahwa pelatihan ini diharapkan dapat membawa manfaat bagi masyarakat dan umat. “Harapannya semoga kegiatan pelatihan ini bermanfaat untuk masyarakat dan umat, terutama kehadiran dari para peserta yaitu para romo dan para suster untuk menjadi duta yang baik dalam menyalurkan informasi yang baik tentang pengelolaan pangan,” ungkapnya.
Menanam Tanaman Pangan sebagai Ibadah dan Tanggung Jawab Individu
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, pelatihan ini ditutup dengan penanaman pohon tanaman pangan di sekitar Rumah Keuskupan. Said Abdullah menekankan bahwa menanam adalah bagian dari ibadah dalam perspektif spiritual. “Menanam adalah bagian dari proses ibadah. Karena ketika berbuah, kita bisa melayani banyak hal,” jelasnya.
Ia juga mengajak peserta untuk memulai perubahan dari hal kecil. “Itu juga sebuah ajakan; bahwa kalau mau tahan pangan, mau nggak mau, kita sebagai individu harus memulai dari proses menanam, bagi yang punya lahan. Kalau nggak, tentu bagi konsumen, jadi konsumen yang bertanggung jawab,” lanjutnya.
Manajer Program Ekosistem Pertanian di Yayasan Keanekaragaman Hayati (KEHATI), Puji Sumedi, mengungkapkan harapan agar pendekatan ini bisa menjadi inspirasi bagi berbagai pihak. “Belajar bersama dengan tokoh-tokoh agama yang mungkin selama ini belum kita libatkan atau belum terlibat aktif, ternyata kita bisa. Dan mungkin ini nanti bisa diperluas ke faith yang lain,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa keterlibatan tokoh agama sangat penting dalam membangun kesadaran masyarakat. “Mudah-mudahan ini bisa menjadi inspirasi bagi yang lain juga. Tidak hanya KSPL tetapi juga bagi teman-teman yang lain, koalisi-koalisi yang lain, bahwa pendekatan stakeholder itu salah satunya adalah tokoh-tokoh agama,” tambahnya.
Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan para pemuka agama dapat menjadi agen perubahan dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya sistem pangan yang berkelanjutan. KSPL berkomitmen untuk terus mendorong kolaborasi dan memperkuat kesadaran berbagai pihak dalam membangun sistem pangan yang lebih adil dan ramah lingkungan.