Jakarta, 16 Oktober 2025 — Transisi menuju ekonomi rendah karbon menjadi ujian besar bagi Indonesia di tengah perubahan politik dan krisis iklim global. Inilah pesan utama dari Stories to Watch 2025 & Beyond yang digelar WRI Indonesia hari ini, bertema “Getting Transition Right for People, Nature, and Climate.”

Tahun ini, Stories to Watch menyoroti titik-titik krusial dalam perjalanan Indonesia memasuki babak baru pembangunan berkelanjutan dengan pemerintah yang baru, arah ekonomi baru, dan desakan untuk memenuhi komitmen Persetujuan Paris, yakni untuk membatasi pemanasan global hingga 1,5°C. Indonesia perlu bertransisi untuk manusia, alam dan iklim dalam satu kesatuan.

Direktur WRI Indonesia Nirarta Samadhi menegaskan, “Transisi bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keharusan. Tantangannya bukan hanya seberapa cepat kita melakukannya, tapi bagaimana memastikan manfaatnya dirasakan oleh masyarakat luas dan melibatkan seluruh pihak termasuk kelompok rentan, adil untuk alam dan juga iklim.”

WRI Indonesia mengajak publik melihat lebih dalam tiga sistem yang saling berkelindan dan menentukan masa depan Indonesia: pangan, lahan, dan air; kota berketahanan iklim; serta energi dan industri. Ketiganya bukan sekadar sektor pembangunan, tetapi fondasi bagi arah transisi nasional.

Sektor pangan, lahan, dan air berkontribusi sekitar 25% dari total emisi gas rumah kaca nasional. Namun, sektor ini juga merupakan sumber kehidupan bagi jutaan masyarakat dan tulang punggung kedaulatan pangan nasional. Tak heran, sektor ini menjadi salah satu prioritas bagi pemerintah nasional.

WRI Indonesia terus mengusung kolaborasi untuk mendorong transformasi pada sektor pangan, lahan, dan air. Di sektor pangan, WRI Indonesia mengedepankan konsep eko-regionalisasi sistem pangan dengan pendekatan yang disesuaikan dengan konteks lokal di masing-masing wilayah.

Pada sektor lahan, WRI Indonesia terus mengembangkan dan menyebarluaskan berbagai teknologi yang dapat meningkatkan efektivitas perlindungan dan produktivitas lahan agar dapat terus mendukung kehidupan masyarakat. Dalam sektor air, WRI Indonesia mendukung upaya-upaya pemerintah dan para pihak untuk mencapai swasembada air di Indonesia. Hal terpenting adalah, seluruh upaya ini harus berpusat pada masyarakat lokal agar mampu melindungi alam sekaligus meningkatkan kesejahteraan mereka.

Di sektor perkotaan, urbanisasi yang pesat diperkirakan akan mendorong lebih dari 70% penduduk Indonesia tinggal di wilayah perkotaan pada 2045. Tantangan pun meningkat, dari polusi udara, keterbatasan hunian layak, hingga ketergantungan pada transportasi berbahan bakar fosil. Melalui berbagai inisiatif WRI Indonesia mendukung pemerintah dan masyarakat dalam membangun kota yang inklusif, tangguh, dan rendah karbon, mencakup peningkatan sistem inventarisasi emisi di sektor transportasi, penguatan integrasi lintas moda, serta pengembangan skema pembiayaan untuk transisi menuju kendaraan listrik. WRI Indonesia melalui berbagai kerjasama dengan pemerintah daerah dan swasta mendorong peralihan ke penggunaan kendaraan berbasis listrik untuk dekarbonisasi sektor transports, termasuk untuk mobilitas pribadi, umum dan kendaraan berat, di Jakarta, Bali, Surabaya dan Makassar.

Di saat yang sama, WRI Indonesia juga mendorong peningkatan kualitas hunian dan perlindungan ruang terbuka hijau yang penting bagi udara bersih dan ketahanan lingkungan, sehingga kota-kota Indonesia menjadi tempat hidup yang sehat, adil, dan berkelanjutan bagi semua.

Sektor energi dan industri menjadi mesin utama bagi produktivitas nasional, investasi, dan penciptaan lapangan kerja, dengan 18,9% ​PDB Indonesia  berasal  dari industri manufaktur yang menyerap 19,3 juta​ tenaga kerja. Namun sektor ini menjadi tantangan besar dalam pencapaian reduksi emisi Indonesia, karena sektor energi menyumbang 752 juta ton CO₂e, atau 55% dari total emisi nasional per 2023 sebagian besar berasal dari penggunaan batu bara, bahan bakar cair, dan gas, sedangkan industri manufaktur berkontribusi sekitar 34% karena masih bergantung pada energi fosil.

Dalam transisi ini, WRI Indonesia bermitra dengan pemerintah dan sektor swasta memperkuat fondasi kebijakan berbasis sains dan mempercepat dekarbonisasi melalui penyusunan Peta Jalan Dekarbonisasi Industri dan Peta Jalan Dekarbonisasi Nikel, serta mendukung inovasi pembiayaan dan pengembangan teknologi energi bersih yang terjangkau dan inklusif.  Hal ini sejalan dengan arah RUPTL yang menargetkan 76% tambahan kapasitas listrik dari energi terbarukan. Dengan ekosistem yang saling memperkuat ini, Indonesia berpotensi besar menjadi kekuatan manufaktur hijau di Asia Tenggara.

Yenny Wahid, Anggota Dewan Pembina WRI Indonesia dan Direktur Wahid Foundation, serta salah satu tokoh masyarakat yang aktif memperjuangkan nilai-nilai keberagaman dan keberlanjutan, menyoroti pentingnya kepemimpinan bangsa dalam menentukan arah transisi. “Kebijakan publik yang diambil oleh para pemimpin pemerintahan akan menentukan masa depan rendah karbon kita. Kepemimpinan iklim sejati membutuhkan keberanian moral, bukan sekadar strategi ekonomi,” tegas Yenny.

Acara ini juga menyuguhkan tiga panel diskusi bertajuk Akselerasi Ambisi Iklim Indonesia untuk Pertumbuhan Ekonomi; Mendorong Transisi Energi untuk Perkotaan dan Industri; dan, Membangun Dampak Bermakna Bagi Manusia dan Alam Melalui Transformasi Sistem Pangan, Lahan dan Air. Pembicara di setiap panel adalah tokoh-tokoh nasional pada bidang-bidang terkait, antara lain Rachmat Kaimuddin, Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Dasar Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Wilayah; Julmansyah, Direktur Penanganan Konflik Tenurial dan Hutan Adat, Kementerian Kehutanan; William P. Sabandar, Presiden Intelligent Transport System (ITS) Indonesia; Joko Tri Haryanto, Direktur Utama Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup; dan masih banyak lainnya.

Sebagai penutup Stories to Watch 2025 & Beyond peneliti-peneliti muda WRI Indonesia menegaskan perlunya keterlibatan setiap pihak yang hadir untuk mendukung inisiatif transisi untuk manusia, alam dan iklim, dan mendukung WRI Indonesia sebagai lembaga riset berbasis sains yang menjadi mitra terpercaya untuk pemerintah dan bisnis. Acara ini diselenggarakan setiap tahun untuk menjadi referensi bagi pemerintah, akademisi, sektor swasta, dan masyarakat sipil.

Gambar pratinju oleh WRI Indonesia