Siaran ulang Stories to Watch 2026 juga bisa disaksikan melalui YouTube WRI Indonesia 

 

Jakarta, 3 Maret 2026 –  Target pertumbuhan ekonomi 8% menjadi ambisi besar pemerintah untuk mempercepat pembangunan nasional di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Namun, tanpa perhitungan biaya lingkungan dan sosial, pertumbuhan tersebut berisiko menimbulkan beban tersembunyi yang justru melemahkan fondasi ekonomi dalam jangka panjang.

Isu ini menjadi fokus dalam forum Stories to Watch Indonesia 2026 yang diselenggarakan WRI Indonesia dengan tema “Ketika Pertumbuhan Ekonomi Memperhitungkan Dampak Lingkungan dan Perubahan Iklim”. Forum tahunan ini menghadirkan analisis berbasis data dan pemodelan untuk melihat keterkaitan antara target pertumbuhan dengan agenda swasembada pangan, swasembada energi, dan industrialisasi rendah karbon.

Pak Nirarta "Koni" Samadhi
Coutry Director WRI Indonesia Nirarta Samadhi

Country Director WRI Indonesia Nirarta Samadhi menjelaskan bahwa ada delapan sektor yang menjadi fokus pada pemerintahan. Dua di antaranya adalah sektor dengan emisi intensif, yaitu agrikultur yang berpotensi mendorong ekspansi lahan, dan industri sumber daya mineral yang berdampak pada lingkungan dan kualitas hidup. 

“Akan lebih menguntungkan dalam jangka panjang bila kita bisa memastikan pertumbuhan ekonomi 8% kita ramah lingkungan, atau sering disebut sebagai green economy, demi keberlanjutan pertumbuhan itu sendiri dan agar tidak ada biaya tersembunyi atau eksternalitas yang ditimbulkan pada faktor kesehatan atau lingkungan yang justru merugikan kita.” ujar Nirarta Samadhi.

Stories to Watch Indonesia 2026 mengangkat tiga agenda strategis nasional yang dinilai mampu menentukan arah pembangunan Indonesia ke depan, yakni swasembada pangan, swasembada energi, dan industrialisasi.

Romauli Panggabean
Environmental Economist WRI Indonesia, Romauli Panggabean

Pada isu swasembada pangan, Environmental Economist WRI Indonesia, Romauli Panggabean menyoroti program Kawasan Sentra Produksi Pangan (KSPP) sebagai instrumen utama untuk mencapai tambahan target produksi 10 juta ton beras pada 2029. KSPP saat ini dinilai cenderung sentralistik, berbasis korporasi, serta berisiko meningkatkan emisi karbon Indonesia.

“Pendekatan desentralisasi berbasis komunitas pada KSPP dapat membantu menciptakan pekerjaan hijau sejumlah 32–48,9% dari target 19 juta lapangan kerja. Selain itu, pemodelan yang kami kembangkan menunjukkan bahwa intensifikasi dengan prinsip agroekologi yang dibarengi dengan optimalisasi lahan terdegradasi dan proteksi lahan sawah akan mampu mendukung target peningkatan produksi beras kita. Dengan begitu, swasembada pangan dapat tercapai tanpa mengorbankan alam dan masyarakat,” jelas Romauli Panggabean.

I Made Vikanda
Senior Manager for Resilient Cities & Transport WRI Indonesia, I Made Vikannanda

Dalam konteks swasembada energi, Senior Manager for Resilient Cities & Transport WRI Indonesia, I Made Vikannanda  menilai peningkatan campuran biodiesel berbasis Crude Palm Oil (CPO) sebagat strategi swasembada perlu dikaji hati-hati. Transformasi sistem logistik melalui adopsi truk listrik dinilai lebih strategis untuk mengurangi impor bahan bakar diesel atau solar dalam jangka panjang. 

“Melalui inisiatif Indonesia Freight Decarbonization Accelerator (IFDA), WRI Indonesia mendorong percepatan adopsi truk listrik dengan dukungan regulasi, insentif, dan pembangunan infrastruktur pengisian daya yang sesuai kebutuhan kendaraan berat. Elektrifikasi logistik dinilai sebagai intervensi strategis untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus menurunkan emisi secara signifikan,” tutur  I Made Vikannanda.

Arif Utomo

Selain itu, salah satu fokus pemerintah berada di sektor industri yang memegang posisi unik sebagai motor pertumbuhan sekaligus kontributor emisi nasional yang signifikan. Industri manufaktur  menyumbang hampir 19% terhadap produk domestik bruto dan menyerap lebih dari 19 juta tenaga kerja, namun juga berkontribusi terhadap 34% emisi nasional. Pemerintah menargetkan emisi nol bersih sektor industri pada 2050, lebih cepat dari target nasional 2060. Implementasi Peta Jalan Dekarbonisasi 9 Subsektor Prioritas dinilai penting untuk menjaga pertumbuhan industri tetap sejalan dengan target iklim, dengan potensi penurunan emisi hingga 306,7 juta ton CO2e pada 2050.

“Keberhasilan dekarbonisasi industri juga bergantung pada kerangka ekosistem industri hijau agar target industrialisasi tetap berjalan kompetitif dan sejalan dengan target emisi nol bersih sektor industri pada 2050. Kerangka tersebut mencakup suplai energi, material, dan teknologi yang terjangkau dan andal; mekanisme pendanaan dan insentif yang beragam serta mudah diakses; serta kebijakan serta regulasi industri yang terpadu,” terang Arif Utomo, Engagement Manager for Energy and Sustainable Business.

WRI Indonesia menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan bukanlah dua agenda yang saling bertentangan. Justru sebaliknya, pertumbuhan yang mengabaikan daya dukung lingkungan berisiko melemahkan fondasi ekonomi itu sendiri. Sebagai lembaga think tank berbasis riset, WRI Indonesia menyatakan komitmennya untuk terus mendukung pemerintah melalui analisis data, pemodelan sistem, dan rekomendasi kebijakan berbasis sains. 
 


 ==========================================================

Tentang WRI Indonesia

WRI Indonesia didirikan di Indonesia dengan nama Yayasan Institut Sumber Daya Dunia. WRI Indonesia adalah organisasi penelitian independen yang didedikasikan untuk berkontribusi pada pembangunan sosial ekonomi Indonesia secara inklusif dan berkelanjutan. Pekerjaan kami difokuskan pada lima portofolio: hutan, iklim, energi, kota, dan transportasi, serta laut. Kami mengubah ide-ide besar menjadi tindakan di nexus lingkungan, peluang ekonomi, dan kesejahteraan manusia. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik https://wri-indonesia.org/id.   

Informasi lebih lanjut silahkan menghubungi:
Novaeny Wulandari, Communication Specialist for Core Function WRI Indonesia 
[email protected]