Kota Semarang sebagai pusat ekonomi strategis di pesisir utara Jawa semakin rentan terhadap banjir rob akibat perubahan iklim, penurunan muka tanah, dan pembangunan pesisir yang masif. Dalam lima tahun terakhir, banjir rob terjadi setiap tahun dan mencapai puncaknya pada 2022 dengan genangan hingga 478,85 hektare, memperlihatkan tingginya risiko kawasan pesisir Semarang terhadap dampak krisis iklim (Setyaningsih et al. 2024).

Mobilitas perkotaan menjadi terganggu karena dampak langsung dari banjir rob. Terutama di kawasan Semarang bawah yang menjadi pusat industri dan logistik. Gangguan transportasi ini memperlambat distribusi barang, membatasi akses masyarakat terhadap layanan dasar, serta memperbesar kerentanan ekonomi dan sosial dengan estimasi kerugian mencapai Rp850 miliar per tahun (Yusuf dan Gonsaga 2025). Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya strategi adaptasi transportasi yang lebih tangguh dan berkelanjutan di Kota Semarang.
 

Temuan Utama

  • Sekitar 10,6% jaringan jalan di Kota Semarang berpotensi terdampak banjir rob, termasuk jalur utama dan jalan lingkungan. Dampaknya mengganggu konektivitas kota dan aktivitas masyarakat sehari-hari.
  • Penelitian ini menekankan pentingnya strategi adaptasi yang disesuaikan dengan kondisi tiap segmen jalan. Ruas prioritas ditentukan berdasarkan tingkat risiko banjir rob, volume lalu lintas, dan kondisi drainase.
  • Banjir rob menyebabkan gangguan mobilitas, seperti peningkatan jarak dan waktu tempuh perjalanan. Pengguna jalan sering harus beralih ke rute alternatif yang lebih jauh sehingga biaya transportasi ikut meningkat.
  • Kelompok yang paling terdampak adalah komuter harian, sektor logistik, serta kelompok rentan seperti lansia dan penyandang disabilitas. Dampaknya mencakup keterlambatan perjalanan, kenaikan biaya operasional, dan terganggunya akses layanan publik.
  • Gangguan transportasi akibat banjir rob memicu kerentanan ekonomi dan sosial yang lebih luas. Distribusi barang menjadi terhambat, biaya rumah tangga meningkat, dan stabilitas harga ikut terdampak.
  • Strategi adaptasi transportasi perlu memberikan manfaat ganda, mulai dari pengurangan risiko banjir rob hingga peningkatan kualitas lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Pendekatan ini penting agar solusi yang diterapkan berkelanjutan dalam jangka panjang.
  • Kota Semarang memiliki peluang untuk mengembangkan strategi adaptasi lintas sektor dan lintas wilayah guna memperkuat ketahanan transportasi. Kolaborasi pemerintah, masyarakat, akademisi, media, dan lembaga independen menjadi kunci keberhasilan implementasinya.