Urgensi untuk melakukan dekarbonisasi secara signifikan semakin meningkat seiring dengan semakin seringnya bencana alam akibat perubahan iklim. Pada tahun 2019, sektor industri menghasilkan lebih dari 3 miliar ton karbon dioksida ekuivalen (CO₂e) (Ritchie et al. 2023) dan memegang peran krusial dalam upaya penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) global, termasuk melalui kontribusi emisi lintas sektor yang signifikan. Penurunan emisi GRK di sektor industri dapat dicapai melalui perencanaan dekarbonisasi yang tepat dan ambisius, namun penyusunan strategi dekarbonisasi industri tergolong kompleks karena melibatkan aktivitas rantai pasok lintas sektor. Selain itu, berbagai alat yang tersedia saat ini umumnya belum mudah diakses serta belum mengintegrasikan aspek pengurangan emisi dengan dampak dan biaya yang dihasilkan. Menyadari kompleksitas tersebut, Indonesian Corporates Decarbonization Evaluator (INCODE) dikembangkan sebagai alat berbasis Excel yang mudah digunakan, mudah diakses, dan komprehensif untuk mendukung penyusunan dan evaluasi strategi menuju emisi nol bersih bagi perusahaan di sektor industri. Dalam pelaksanaannya, INCODE terdiri dari dua alat, yaitu Alat Inventarisasi Gas Rumah Kaca Korporasi untuk Cakupan 1, 2, dan 3 (AIGRK) serta Alat Evaluasi Dekarbonisasi (AED). Kedua alat ini menyediakan empat fitur utama, yaitu inventarisasi emisi, evaluasi penurunan emisi, evaluasi biaya, dan evaluasi dampak.

Catatan teknis ini secara khusus menjelaskan metodologi ilmiah yang digunakan dalam seluruh perhitungan INCODE. Analisis INCODE mengikuti pedoman dasar perhitungan emisi yang digunakan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) serta metodologi perhitungan emisi dan dekarbonisasi dari GHG Protocol untuk keperluan inventarisasi emisi GRK korporasi dan penghitungan penurunan emisi dari proyek-proyek dekarbonisasi. Karena alat ini berfokus pada dekarbonisasi korporasi, GHG Protocol digunakan sebagai acuan dalam perhitungan penurunan emisi melalui penerapan berbagai strategi dekarbonisasi, sekaligus untuk mengevaluasi kebutuhan investasi serta biaya operasional yang terkait dengan strategi tersebut. INCODE juga melakukan penilaian dampak dengan mengonversi besaran penurunan emisi menjadi biaya sosial. Selain itu, penghindaran emisi melalui dekarbonisasi turut berkontribusi dalam mengurangi tekanan terhadap kapasitas penyerapan karbon alami global (seperti hutan, lautan, dan daratan), karena emisi GRK dari aktivitas lain juga dapat diserap. Oleh karena itu, alat ini juga mengintegrasikan penilaian ekuivalensi jumlah pohon terhadap besaran penurunan emisi. Seluruh perhitungan dampak yang dilakukan melalui INCODE bertujuan untuk memperkuat dasar pertimbangan perusahaan dalam mengambil keputusan investasi dekarbonisasi.

Metodologi yang disajikan dalam catatan teknis ini tidak hanya penting bagi penyusunan alat ini, tetapi juga dapat diadopsi oleh berbagai pemangku kepentingan, praktisi, akademisi, maupun mahasiswa untuk merumuskan dan mengevaluasi beragam strategi dekarbonisasi. Selain untuk menyusun strategi menuju emisi nol bersih sebagai dasar pengambilan keputusan investasi, alat ini juga membuka banyak peluang bagi pemerintah dan perusahaan untuk mengintegrasikannya ke dalam kegiatan yang sedang berjalan, sehingga implementasi strategi emisi nol bersih dapat dilakukan secara real-time dan strategi dekarbonisasi tersebut dapat terus disempurnakan.