Esai Foto: Kilas Balik Pekan Iklim Bali, Titik Temu Ambisi dan Aksi Iklim
Tercapainya ambisi iklim global dimulai dari aksi iklim lokal yang berdampak. Berlangsung pertama kalinya pada 25-30 Agustus 2025 lalu, Pekan Iklim Bali telah membuka ruang temu bagi pemimpin daerah, pegiat iklim, organisasi non-pemerintah, pendana dan investor, serta publik untuk bersama mendorong kepemiminan dan aksi iklim daerah yang kolaboratif dan inovatif mencapai target Bali Emisi Nol Bersih 2045.
Peran strategis pemimpin iklim daerah baik dari sektor pemerintah maupun sektor lain seperti swasta dan komunitas menjadi semangat utama Pekan Iklim Bali. Mulai dari kebijakan inovatif, inisiatif akar rumput, hingga solusi berbasis iklim, pemimpin iklim daerah perlu secara strategis melibatkan dukungan dari tingkat lokal, nasional dan global. Harapannya, melalui kegiatan Pekan Iklim Bali, dapat tumbuh inspirasi bagi daerah lain untuk menetapkan ambisi pencapaian target iklim serta mendorong aksi nyata di tingkat lokal.
Diselenggarakan oleh Koalisi Bali Emisi Nol Bersih bersama Pemerintah Provinsi Bali, Pekan Iklim Bali mengangkat empat elemen utama aksi iklim dalam format rangkaian, yaitu sinergi kebijakan daerah dan nasional melalui Forum Nasional, menunjukkan capaian solusi iklim daerah melalui Jelajah Inovasi, menelusuri pendanaan iklim berkelanjutan melalui Forum Investasi Iklim, dan pelibatan komunitas serta masyarakat dalam Pasar Rakyat.
Dialog antar Daerah: Menjadikan Nilai Budaya, Adat, serta Ekonomi Lokal sebagai Landasan Kebijakan dan Aksi Iklim Daerah
Sekretaris Daerah Provinsi Bali, Dewa Made Indra, dan Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, masing-masing berbagi pengalaman dalam memimpin aksi iklim daerah: Bali dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali dan target Bali Net Zero Emission 2045, serta Sumatera Barat dengan falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah sebagai landasan pembangunan yang selaras dengan budaya dan lingkungan. “Kami percaya bahwa kearifan lokal adalah pondasi dalam membangun solusi iklim, dan kepemimpinan daerah harus memastikan nilai-nilai itu hadir dalam setiap kebijakan dan aksi iklim,” ujar Gubernur Sumatera Barat dalam sesi Fireside Chat pada Forum Nasional, yang turut terangkum pada artikel The Jakarta Post.
Menerjemahkan Kebijakan Iklim menuju Aksi yang Berdampak: Pelajaran dan Inspirasi dari Bali
Menghadirkan aktor iklim lintas sektor di Bali seperti Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali, I Made Rentin, Anggota DPD MPR RI Provinsi Bali, Ni Luh Djelantik, Kepala CORE Udayana, Prof. Ida Ayu Dwi Giriantari, Founder Ecotourism Bali, Suzy Hutomo, serta Direktur Utama dan CEO IESR, Fabby Tumiwa, sesi panel pertama pada Forum Nasional menunjukkan bahwa Provinsi Bali memiliki pijakan kuat untuk memimpin transisi menuju emisi nol bersih. Dengan topik Bali sebagai Inspirasi: Memantik Kepemimpinan Iklim Daerah melalui Integrasi Aksi dan Inovasi, diskusi ini menyinggung tegasnya regulasi yang sudah ada di Bali seperti energi bersih, kendaraan listrik, hingga pembatasan plastik sekali pakai, serta pembelajaran seperti tantangan implementasi dan lemahnya penegakan hukum sebagai hambatan. “Kata kuncinya satu, komitmen pimpinan, terutama pimpinan daerah. Setelah itu, pendekatan ke semua pihak” tegas I Made Rentin, terkait tindak lanjut dari regulasi iklim daerah menjadi implementasi solusi yang efektif.
Menuju Target Emisi Nasional: Menyelaraskan Dukungan Pemerintah Pusat dengan Implementasi Aksi Iklim Daerah
Forum Nasional turut melibatkan aktor kunci dari pemerintah pusat seperti Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Hanif Faisol Nurofiq melalui siaran langsung pada pidato pembuka, Bima Arya, Wakil Menteri Dalam Negeri melalui rekaman sambutan serta Deputi PSDALH Bappenas, Leonardo Adypurnama alias Teguh Sambodo pada panel Sinergi Lokal dan Nasional untuk Dampak Global: Aksi Iklim Daerah sebagai Usaha Kolektif mencapai Target Nasional. Panel ini mempertemukan perwakilan pemerintah daerah dari Provinsi Riau, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan NTT untuk saling berbagi praktik nyata, mulai dari pengendalian kebakaran hutan dan lahan, pengembangan ekonomi biru berbasis laut, hingga strategi adaptasi air di wilayah rawan iklim, bersama dengan Suzanty Sitorus, Direktur Utama ViriyaENB. Diskusi ini ditutup dengan pesan bahwa kolaborasi lintas daerah, regulasi pendukung, dan model pembiayaan kreatif akan menjadi fondasi percepatan aksi iklim di Indonesia.
Langkah Konkret Kerjasama Lintas Sektor menuju Bali Emisi Nol Bersih 2045
Dalam inisiatif sistem transportasi berkelanjutan di Bali, peresmian uji coba angkutan umum ramah lingkungan berbasis baterai menghadirkan armada rendah emisi yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan mendukung target Bali Net Zero Emission 2045. Peresmian ini turut dihadiri oleh Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Bali, Gubernur Sumatera Barat, Sekda Provinsi Bali, Direktur Utama PT Kalista, Country Director WRI Indonesia, serta Sekretaris Jenderal Intelligent Transport System Indonesia (ITS), dan disaksikan oleh Direktur Eksekutif ViriyaENB. Uji coba angkutan ramah lingkungan ini diharapkan dapat diadopsi dan diperluas tidak hanya di Provinsi Bali tetapi juga di daerah lain.
Menjelajahi Inovasi dan Solusi berbasis Iklim di Bali: Dari Pengelolaan Air Berkelanjutan, Riset dan Inovasi berbasis Komunitas, Arsitektur Regeneratif, hingga Mobilitas Rendah Karbon
IDEP Selaras Alam, organisasi berbasis permakultur yang sejak 1999 berfokus pada ketangguhan masyarakat dan pelestarian lingkungan, menghadirkan inisiatif Bali Water Protection (BWP) dalam Jelajah Inovasi. Melalui program ini, IDEP menyoroti krisis air di Bali yang kian diperparah oleh masifnya pariwisata dan perubahan iklim, sekaligus memperkenalkan solusi pengelolaan air berkelanjutan seperti sumur imbuhan, sistem pengolahan limbah ramah lingkungan, dan kebun pangan hemat air. “Kami percaya bahwa manusia adalah sumber krisis sekaligus kunci solusinya; kesejahteraan sejati hanya dapat dicapai dengan menjaga kelestarian lingkungan, dan itu bisa dimulai dari diri sendiri,” ujar Muchamad Awal, Direktur IDEP Selaras Alam.
Kopernik, laboratorium riset dan pengembangan berbasis di Indonesia sejak 2010, menghadirkan pendekatan eksperimentasi singkat untuk menemukan solusi praktis atas tantangan sosial dan lingkungan, mulai dari energi terbarukan hingga air, pertanian, dan pendidikan. Dalam rangkaian Jelajah Inovasi, peserta diajak untuk berkenalan dengan program IKLIM yang menghubungkan seni dengan aksi iklim, upaya konservasi air, hingga teknologi spin-off berkelanjutan, sekaligus memahami bagaimana proses inovasi Kopernik dapat direplikasi untuk menghadirkan dampak nyata dan berkelanjutan.
Inisiatif Dekarbonisasi Transportasi oleh WRI Indonesia menjadi langkah penting untuk memulai praktik transportasi berkelanjutan salah satunya dengan mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi berbahan bakar fosil di Bali. Program ini menunjukkan bagaimana mobilitas rendah karbon dapat menjadi solusi mitigasi terhadap krisis iklim, yang di Bali kian nyata dampaknya melalui polusi udara, ketidakpastian cuaca, hingga banjir. Dengan menghubungkan pariwisata dan kehidupan lokal ke dalam sistem transportasi, inisiatif ini bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga model transformasi menuju masa depan Bali yang lebih inklusif dan berkelanjutan
Azura Indonesia, perusahaan sosial yang fokus pada inovasi kelautan ramah lingkungan, menghadirkan mesin kapal listrik MantaOne dan program Nelayan Lestari untuk mendorong transisi energi bersih di sektor perikanan kecil. Dalam Pekan Iklim Bali 2025, peserta diajak berlayar di Desa Kusamba, Klungkung, bersama nelayan pengguna MantaOne guna merasakan langsung performa mesin tenang tanpa emisi serta berdialog tentang pengalaman mereka beralih ke teknologi hijau. “Bagi kami, transisi energi bisa dimulai dari komunitas pesisir seperti nelayan. Kita bisa melihat kemajuan saat nelayan bisa melaut tanpa bising, tanpa asap, dan pulang dengan rasa tenang,” ujar Nadea Nabila, CEO & Co-Founder Azura Indonesia.
CAST Foundation dan Fab Lab Bali menghadirkan proyek Green Hydrogen Village di Desa Serangan sebagai solusi inovatif yang menggabungkan penelitian teknologi terapan dengan pengembangan masyarakat lokal melalui sistem Banjar. Dalam Jelajah Inovasi, peserta diajak mengunjungi laboraturium fabrikasi digital untuk inovasi hidrogen hijau, berdiskusi dengan warga setempat, hingga mengikuti workshop Foldscope untuk mengenal dunia mikro dan teknologi tepat guna. “Teknologi ini tersedia di sini untuk mengangkat potensi di sini, dan keterlibatan aktif warga sangat penting. Hal ini tidak hanya mempercepat pengembangan teknologi, tetapi juga memungkinkan masyarakat setempat menjadi pionir,” ujar Tomas Diez, Co-Founder dan Executive Director Fab Lab Bali.
BaleBio Project merupakan sebuah paviliun inovatif di kawasan Mertasari yang menerapkan konsep arsitektur regeneratif. Dibangun dengan perpaduan teknologi bambu rekayasa dan material daur ulang, serta terinspirasi dari fungsi sosial Bale Banjar sebagai ruang komunal, paviliun ini berkontribusi pada pengurangan emisi sebesar –2.062 kgCO₂e. Sesi ini menghadirkan beragam pembicara, mulai dari Diana Barrera & Jed L. Long (Bauhaus Earth, Bamboo Village Trust, Kota Kita Foundation), Hanif Shidki (Eco-Mantra), Valerine Chandrakesuma (Wedoo), A.A. Gede Raka Gunawarman (Universitas Warmadewa), hingga Clare Kennedy (Five Miles Radius), yang menunjukkan bagaimana material hayati dapat menjadi solusi nyata untuk pengurangan emisi karbon sekaligus mendorong praktik pembangunan ramah lingkungan.
Mendorong Pembiayaan Iklim Daerah yang Inovatif dan Berkelanjutan: Peluncuran Bali Climate Finance Platform
Sebagai momen penting dalam Forum Investasi Iklim, dilakukan peluncuran Bali Climate Finance Platform (BCFP) melalui penandatanganan dukungan serta komitmen sebagai langkah kolaboratif memperkuat pembiayaan pembangunan berkelanjutan di Bali. Penandatanganan ini dihadiri oleh perwakilan Pemerintah Provinsi Bali bersama sejumlah mitra strategis dari berbagai sektor, termasuk PT Sarana Multi Infrastruktur, HSBC Indonesia, JETP Indonesia, BPDLH, Maybank Indonesia, dan Bali Kerthi Development Fund. Kehadiran para lembaga keuangan ini menandai komitmen bersama untuk mengakselerasi proyek-proyek iklim melalui skema pembiayaan inovatif yang lebih inklusif dan terintegrasi. Fungsi dan tujuan BCFP kemudian dikaji lebih lanjut pada op-ed kami di The Jakarta Post.
Strategi dan Dukungan Nasional dalam Pembiayaan Iklim Daerah: Pentingnya Kolaborasi dan Improvisasi
Dalam pidato pembuka, Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur, Kementerian Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Wilayah, Rahmat Kaimuddin menekankan bahwa perubahan iklim adalah persoalan kompleks yang memerlukan kolaborasi dan improvisasi, dengan Bali sebagai inspirasi percepatan transisi menuju emisi nol bersih 2045. Ia memaparkan strategi nasional dalam penyelenggaraan infrastruktur rendah karbon melalui pembangunan energi terbarukan, elektrifikasi transportasi, dan penguatan industri lokal seperti panel surya, baterai, dan kendaraan listrik. “Jangan jadikan perfect sebagai musuh dari good. Kalau kita bisa membuat kemajuan, mari kita kerjakan, jangan menunggu sempurna sampai akhirnya tidak ada yang dilakukan,” ujarnya, seraya menyambut baik peluncuran Bali Climate Finance Platform sebagai wadah kolaborasi pembiayaan inovatif.
Memetakan Peran dan Fungsi Pembiayaan Iklim Global: Ketahanan Air sebagai Isu Mendesak
Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Air, Retno Marsudi, menyoroti kesenjangan pembiayaan global untuk ketahanan air pada sesi Fireside Chat dalam Forum Investasi Iklim. “Kebutuhan investasi di sektor air sangat besar, USD 6,7 triliun hingga 2030 dan meningkat menjadi USD 22,6 triliun pada 2050. Anggaran publik rata-rata negara saat ini baru sekitar 0,5% dari GDP, jelas tidak cukup,” ujarnya. Country Director WRI Indonesia, Nirarta Samadhi, menambahkan bahwa krisis air bukan hanya isu teknis, tetapi harus menjadi agenda kebijakan dan pembiayaan di semua level agar daerah seperti Bali dapat membangun ketahanan sumber daya air yang berkelanjutan, yang kemudian dikaji lebih dalam pada op-ed kami di The Jakarta Post.
Mengarusutamakan Inisiatif dan Teknologi Penyedia Solusi Iklim di Bali
Beberapa penyedia solusi iklim di Bali seperti Electric Wheel, Volto Mechanix, BTI Energy, Griya Luhu, dan Bendega unjuk gigi pada Forum Investasi Iklim untuk mendemonstrasikan produk dan inovasi masing-masing, mulai dari bengkel konversi, layanan panel surya, pengelolaan sampah berkelanjutan hingga konservasi bakau kepada peserta dari berbagai sektor, mulai dari pemerintah, swasta, hingga individu. Beberapa dari penyedia solusi yang hadir dibina oleh New Energy Nexus Indonesia, akselerator ekosistem dan pendanaan global yang mendukung pengusaha energi bersih, mulai dari teknologi baru, hingga penerapan dan adopsi energi bersih.
Merayakan Capaian dan Komitmen Aksi Iklim Bersama di Pasar Rakyat
Rangkaian awal Pasar Rakyat berlangsung di Segara by The Seaside, Pantai Segara Ayu, Sanur. Dibuka dengan sambutan oleh Bendesa Adat Intaran, I Gusti Agung Alit Kencana, Country Director WRI Indonesia, Nirarta Samadhi, dan Head of Corporate Sustainability HSBC Indonesia, Nuni Sutyoko, serta Sekretaris Daerah kota denpasar, Ida Bagus Alit Wiradana. Rangkaian ini dilanjutkan dengan penandatanganan Deklarasi Menuju Intaran-Sanur Ramah Lingkungan, sebuah komitmen untuk mewujudkan kawasan dengan alam yang lestari dan kehidupan yang sehat melalui 7 langkah, mulai dari penurunan emisi hingga peningkatan partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan.
BUPDA Intaran bersama Dinas Perhubungan Denpasar merayakan soft launching shuttle listrik Intaran yang telah diuji coba dan beroperasi pada kawasan Sanur, dengan delapan titik pemberhentian mulai dari area selatan Sanur yaitu Parkiran Mertasari hingga area utara yaitu SMP Pariwisata. Shuttle listrik Intaran dioperasikan oleh BUPDA Intaran dengan dukungan hibah armada shuttle oleh Dinas Perhubungan Denpasar, sebagai wujud upaya kolektif dalam menurunkan emisi dari kendaraan pribadi berbasis fosil sekaligus menjawab kebutuhan transportasi berkelanjutan bagi pengunjung maupun warga Sanur.
Head of Corporate Sustainability HSBC Indonesia, Nuni Sutyoko mengoperasikan mesin pencacah sampah berbasis panel surya sebagai simbol seremoni serah terima modul pelatihan Youth for Clean Energy dan teknologi rendah karbon Clean Energy Village kepada I Gusti Agung Alit Kencana, Bendesa Adat Intaran. Inisiatif ini merupakan kerjasama antara HSBC Indonesia, WRI Indonesia, dan Desa Adat Intaran, meliputi pemasangan tujuh titik panel surya berkapasitas total 31 kWp di fasilitas publik seperti pasar, TPS3R, area pesisir, subak, dan perahu nelayan, juga pelatihan teknis dan bisnis bagi operator lokal, serta kolaborasi dengan pemerintah dan komunitas untuk memastikan keberlanjutan teknologi.
Sesi siang hingga sore Pasar Rakyat menghadirkan bazaar berkelanjutan yang melibatkan 10 tenant UMKM dan organisasi lingkungan, mulai dari Decoco Luminer, Kishara & Kelana Terra, CAST Foundation & Fab Lab Bali, Kami Studio, Mero Foundation, IESR, Subak Kedisan Kaja oleh KONEKSI–WRI Indonesia, REVIVE, Ambawarna, hingga Generasi Energi Bersih Bali.
Selain berbelanja produk ramah lingkungan, pengunjung juga mengikuti panggung rakyat yang menampilkan workshop merakit mobil mini tenaga surya bersama Generasi Energi Bersih, talkshow inovasi plastik berbahan rumput laut oleh Mero Foundation, dan ditutup dengan penampilan musik dari Robi Navicula, musisi sekaligus aktivis lingkungan.
***
Pekan Iklim Bali diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Bali dan Koalisi Bali Emisi Nol Bersih, sebuah inisiatif antara Azura Indonesia, CAST Foundation, Institute for Essential Services Reform (IESR), New Energy Nexus Indonesia, dan WRI Indonesia, untuk mengembangkan kebijakan dan aksi menuju emisi nol bersih, berpedoman pada nilai-nilai lokal kehidupan Bali yang harmonis dan berkelanjutan. Koalisi Bali Emisi Nol Bersih bertujuan untuk mendorong Bali menjadi provinsi terdepan dalam pencapaian emisi nol bersih, serta berkontribusi pada landasan kebijakan emisi nol bersih di tingkat nasional.