Pelatihan produk digital biasanya identik dengan agenda monoton. Mulai dari penyampaian materi, peserta yang mencatat, dilanjutkan sesi tanya jawab, kemudian sesi ditutup. Namun, pelatihan yang baik seharusnya bisa memberi lebih dari sekadar pemahaman teknis. Perlu dimulai dari membuka percakapan, memunculkan refleksi, memberikan umpan balik, serta yang paling penting mempertemukan fungsi tools dengan realitas di lapangan.

Hal ini berusaha dilakukan oleh tim Data Lab Indonesia dalam rangkaian cross-product training atau pelatihan lintas produk di tiga lokasi berbeda di Indonesia sepanjang tahun 2025. Di Makassar, Sulawesi Selatan, pelatihan dihadiri oleh peserta dari 26 organisasi di enam provinsi, yaitu Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Utara, dan Gorontalo. Di Balikpapan, Kalimantan Timur, peserta datang dari  27 organisasi yang meliputi Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Di Mataram, Nusa Tenggara Barat, pelatihan melibatkan 27 organisasi dari berbagai kota dan kabupaten di kawasan Bali dan Nusa Tenggara (Bali-Nusra).

cross-product-training
Kredit foto: Annisa Nisitha Nindyarini/WRI Indonesia

Pelatihan ini diikuti sekitar 80 peserta dari berbagai provinsi, organisasi, dan latar belakang keahlian, mulai dari pengguna baru hingga mereka yang sudah cukup berpengalaman menggunakan data spasial dengan tujuan untuk memberikan gambaran tentang bagaimana interaksi dan keterhubungan antar-tools pemantauan dan perencanaan berbasis data seperti Global Forest Watch (GFW), Forest Watcher (FW), dan NbS Tool. 

Ragam Dinamika Kegiatan

Salah satu hal yang paling terasa sejak awal pelatihan adalah keberagaman peserta. Di Sulawesi dan Bali-Nusra, mayoritas peserta merupakan pengguna baru yang pertama kali berinteraksi dengan tools berbasis data spasial. Mereka datang dengan rasa ingin tahu yang tinggi, namun juga dengan keraguan apakah tools ini dapat mereka operasikan atau tidak. Tak sedikit yang terlihat canggung saat harus menavigasi peta, lapisan data spasial, atau mendengar istilah teknis yang tidak terlalu akrab di keseharian mereka. Di awal sesi, sebagian peserta masih terlihat berhati-hati saat menavigasi peta, lapisan data spasial, maupun memahami istilah teknis yang ada. Kondisi ini membuat proses “pemanasan” berlangsung sedikit lebih lama, hingga akhirnya keterlibatan peserta meningkat ketika materi mulai dikaitkan dengan studi kasus yang dekat dengan pekerjaan mereka sehari-hari.

Berbeda dengan para peserta di Kalimantan yang sebagian sudah pernah menggunakan GFW atau Forest Watcher. Mereka datang dengan ekspektasi yang berbeda, yakni ingin menggali fitur lebih dalam, mendiskusikan keterbatasan data, atau membandingkan tools dengan platform lain yang pernah mereka gunakan. Diskusi pun langsung mengarah pada aspek yang lebih kritis, seperti konsistensi data dan relevansi sumber rujukan. Bahkan, peserta turut memberikan alternatif referensi data yang dinilai lebih sesuai dengan konteks lapangan, yang menjadi umpan balik berharga bagi pengembangan tools ke depannya.

Perbedaan tipologi pengguna ini membentuk dinamika kelas yang unik dan beragam. Pada awal sesi, peserta baru cenderung lebih pasif, mengamati, mendengarkan, dan mencoba mengikuti alur. Namun seiring berjalannya waktu, terutama saat studi kasus diperkenalkan, mereka mulai lebih berani bertanya dan terlibat aktif dalam sesi diskusinya. 

Sebaliknya, peserta berpengalaman sering kali langsung terlibat sejak awal, mengaitkan materi dengan pengalaman lapangan mereka, dan memancing diskusi yang lebih kontekstual. Tak hanya itu, beberapa kali muncul diskusi yang seru antarpeserta dalam menceritakan pengalaman mereka di area pekerjaan mereka masing-masing. Diskusi tidak lagi satu arah dari fasilitator ke peserta, melainkan berkembang menjadi ruang berbagi praktik, tantangan, dan bahkan hambatan yang pernah dialami. Di titik inilah pelatihan berubah menjadi proses belajar bersama. Melaksanakan pelatihan di tiga wilayah berbeda membuka pemahaman kami bahwa konteks lokal sangat memengaruhi cara peserta menerima dan memaknai tools. 

Meskipun setiap lokasi membawa tantangan dan kebutuhan yang berbeda, namun ternyata ada beberapa kesamaan. Salah satunya adalah keterbatasan akses internet yang menjadi hambatan utama. Tools berbasis daring memang terasa cukup membantu, tetapi juga memunculkan pertanyaan mengenai pemanfaatannya di area dengan konektivitas rendah atau di daerah pelosok.

Selain itu, peserta juga menyoroti aspek bahasa sebagai hambatan yang cukup signifikan. Saat ini, sebagian besar antarmuka tools masih tersedia dalam bahasa Inggris, yang bagi beberapa peserta terutama pengguna lokal di daerah membuat proses belajar dan penggunaan menjadi lebih menantang. Peserta menilai bahwa ketersediaan fitur multibahasa, khususnya Bahasa Indonesia, akan sangat membantu dalam mempercepat pemahaman, mengurangi kesalahan interpretasi, dan meningkatkan kepercayaan diri pengguna saat mengoperasikan tools secara mandiri. 

Meski konteks dan dinamika di setiap lokasi berbeda, satu pola terlihat konsisten. Saat materi disambungkan langsung dengan kebutuhan kerja peserta–seperti penyusunan dokumen perhutanan sosial, analisis awal lokasi intervensi, atau verifikasi temuan lapangan–antusiasme peserta meningkat signifikan. Tools yang sebelumnya terasa abstrak mulai dipahami sebagai alat bantu nyata dalam pengambilan keputusan. “Kemampuan GIS kami masih sangat terbatas. Namun, NbS Tool, GFW, dan Forest Watcher sangat membantu pekerjaan kami di lapangan. Kami dapat mengukur luas wilayah, menganalisis tutupan lahan, melihat kerentanan iklim, hingga memeriksa izin tambang atau konsesi sawit di daerah kami. Semua itu bisa dilakukan tanpa perlu membuat peta yang rumit,” terang Tri, salah satu peserta yang bekerja di Yayasan Koppesda, Sumba Timur.

cross-product-training
Kredit foto: Annisa Nisitha Nindyarini/WRI Indonesia
Pembelajaran dari Rangkaian Pelatihan 

Masukan dari peserta menjadi salah satu hasil paling berharga dari rangkaian pelatihan ini. Banyak peserta menilai bahwa tools yang diperkenalkan memiliki potensi besar untuk mendukung pekerjaan mereka, terutama dalam tahap perencanaan awal dan penyusunan dokumen serta sebagai alat pemantauan.
NbS Tool, misalnya, dinilai sangat membantu dalam menyiapkan laporan pra-kelayakan dan dokumen registrasi perhutanan sosial. GFW dianggap berguna untuk memberikan gambaran awal kondisi tutupan hutan dan risiko, sementara FW dipandang relevan untuk mendukung verifikasi dan patroli lapangan.
Namun, apresiasi tersebut datang bersamaan dengan beberapa kritik membangun. Sejumlah peserta menyoroti keterbatasan cakupan dan akurasi data, khususnya data sosial yang dianggap belum cukup mutakhir atau kurang merepresentasikan kondisi lokal. Ada pula kekhawatiran bahwa hasil analisis berbasis satelit tidak dapat digunakan secara mentah tanpa verifikasi lapangan.

Dari sisi teknis, peserta mengusulkan berbagai pengembangan: kebutuhan fitur multibahasa, akses offline untuk wilayah dengan keterbatasan internet, mekanisme untuk pengguna dapat memperbarui data berdasarkan kondisi riil di lapangan, hingga sinkronisasi yang lebih baik antar-tools. Tak kalah penting, banyak peserta menekankan perlunya dukungan setelah pelatihan seperti helpdesk, mentoring daring, atau forum diskusi agar proses belajar tidak berhenti ketika pelatihan selesai. Masukan-masukan ini mempertegas bahwa pengguna tidak hanya ingin tools yang canggih, tetapi juga relevan, mudah diakses, dan pendampingan secara berkelanjutan.

cross-product-training
Kredit foto: Annisa Nisitha Nindyarini/WRI Indonesia

Pelatihan lintas produk yang kami lakukan memberikan beberapa pelajaran penting. Pertama, kebutuhan pengguna terhadap data dan tools terkait alam semakin meningkat, sehingga harus diimbangi dengan kemudahan penggunaan dan akurasi data yang relevan.

Kedua, pendekatan pelatihan lintas produk membantu peserta melihat gambaran yang lebih utuh bagaimana satu tool melengkapi tool lainnya dalam satu alur kerja. Meski demikian, pendekatan ini juga menuntut desain pelatihan yang lebih matang agar tidak terasa terlalu padat atau membingungkan, terutama bagi pengguna baru.

Ketiga, pelatihan bukanlah tujuan akhir. Dampak sesungguhnya baru terasa ketika peserta kembali ke wilayah masing-masing dan mencoba menerapkan tools dalam pekerjaan nyata mereka. Di sinilah penyempurnaan fitur, pemutakhiran data, dan dukungan berkelanjutan dengan pengguna menjadi krusial.

Pada akhirnya, rangkaian cross-product training ini bukan hanya tentang memperkenalkan tools, tetapi tentang membangun pemahaman bersama antara pengembang dan pengguna tentang bagaimana data dapat digunakan secara lebih bermakna dan tepat sasaran.

Featured WRI Experts:
Eko Supryanto Kusumo Jati -

Engagement & Research Analyst