‘Laut adalah Hidup Kami’: Refleksi Masyarakat Adat Menjaga Pesisir Raja Ampat
Memperingati Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia, 9 Agustus 2025.
***
Konstantinus Saleo tak percaya begitu saja saat pertama kali mendapat kabar bapaknya meregang nyawa akibat ditikam pada 1 Maret 2010. Hari itu juga, untuk memastikan kabar itu, Konstan memutuskan pulang ke kampungnya, Kampung Yensawai di Pulau Batanta, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat.
Butuh waktu dua jam perjalanan menggunakan kapal dari ibukota kabupaten, Distrik Kota Waisai—tempat dirinya menempuh Sekolah Menengah Atas (SMA). Sepanjang perjalanan, Konstan masih ragu atas informasi itu.
“Saya tidak percaya, karena saya tahu saya punya bapa orangnya [berbadan] besar, kuat,” katanya. “Setiba di kampung, ternyata benar, bapa sudah meninggal.”
Bapaknya, Leonard Saleo, ditikam dengan tombak hingga robek tangannya, saat sedang 'menangkap basah’ praktik penebangan liar pohon-pohon di sekitar Pulau Batanta. Pelakunya adalah bagian dari jaringan sindikat yang membawa hasil kayu-kayu ke Sorong, yang akhirnya tertangkap dan mendekam di penjara Nusakambangan, Jawa Tengah.
“Pelakunya adalah keluarga kami sendiri,” kata Konstan.
Leo hanya seorang nelayan biasa bermarga Saleo, dalam komunitas masyarakat adat Biak Kafdarun, yang juga merupakan bagian dari keluarga besar etnis Biak di wilayah pesisir Raja Ampat. Sejak 2002, Leo mulai aktif di kegiatan konservasi karena masifnya praktik penangkapan hasil laut ilegal menggunakan bom dan penebangan pohon mangrove liar di Raja Ampat—jauh sebelum menjadi episentrum pariwisata seperti hari ini.
Menurut cerita anaknya, Leo kerap memilih jalur konfrontasi saat mengahadapi para perusak ekosistem laut. Mulai dari berbicara dengan nada keras hingga adu jotos. "Langsung eksekusi di tempat. Saya punya bapa ambil jalur ekstrem untuk jaga alam,” tambahnya.
Namun, jalur itu pula yang menjadi salah satu faktor Leo akhirnya kehilangan nyawa dan meninggalkan keluarga selamanya.
Raja Ampat, Dulu dan Kini
Setelah lulus mengenyam pendidikan tinggi di Surabaya, Konstan memutuskan kembali ke kampung halamannya pada 2016. Ia abaikan banyaknya tawaran pekerjaan di kota-kota besar. Saat itu, dirinya berpikir harus pulang dan membangun kampung halaman. Ia juga mengaku masih teringat mendiang bapaknya.
Bersama kakaknya, Hendrik, Konstan mulai membangun usaha penginapan (homestay) dari nol. Pembangunannya dicicil kamar per kamar, dari waktu ke waktu, tanpa modal yang besar sejak awal. Lokasinya di Pulau Dayan, salah satu pulau kecil di Selat Sagawin, yang masih berada di pesisir Pulau Batanta.
Konstan meyakini nama pulau ini berasal dari nama leluhur atau moyang keluarganya. Area Pulau Dayan ini jugalah yang dahulu menjadi wilayah konservasi yang dijaga oleh Leo. Hal-hal tersebut yang menjadi alasan kuat dirinya menamai usahanya dengan “Dayan Dive Homestay”.
“Bapa inspirasi saya. Dari sejak kecil, saya lihat sendiri bapa saya aktivitas. Bapa dulu nelayan, karena aktivitas sehari-hari mencari teripang dan macam hasil laut, dan dia cinta dengan apa yang dia kerjakan. Dia cinta dengan laut,” kata Konstan.
Konstan ingin mengikuti jejak bapaknya untuk melindungi dan merawat ekosistem laut, tetapi lewat cara yang berbeda. Tidak seperti Leo yang konfrontatif, ia berusaha memadukan pariwisata dengan konservasi laut lewat usaha penginapannya. Turis tak hanya disediakan fasilitas menginap, tetapi juga paket perjalanan edukasi untuk konservasi mangrove dan terumbu karang. Tak jarang pula ia melibatkan masyarakat Kampung Yensawai untuk ikut dalam kegiatan konservasinya.
“[Terumbu] karang dan mangrove, itu kehidupan kami dari situ, dari zaman dahulu kala. Dari masa nenek moyang sampai hari ini. Kami harus jaga itu,” kata Konstan.
Marga Saleo dan sejumlah marga lainnya di Kampung Yensawai memang cukup familiar dengan praktik perlindungan ekosistem laut, khususnya lewat tradisi sasi. Bagi sejumlah masyarakat pesisir di Raja Ampat, sasi adalah praktik pengelolaan sumber daya alam—baik darat maupun laut—dengan melarang melakukan pengambilan atau pemanenan dalam jangka waktu tertentu.
Secara khusus tentang sasi laut, ia akan mengacu pada aturan—baik formal maupun informal—yang mengatur penangkapan ikan, alat tangkap, biota laut, serta waktu dan lokasi pemanenan. Peran lembaga adat dan agama menjadi sangat penting dalam menentukan kesepakatan aturan sasi.
Di Kampung Yensawai sendiri, kelompok mama-mama dengan nama “Binsoren” dari marga Saleo baru saja mengadakan praktik penutupan sasi pada Maret 2025 lalu. Tujuannya untuk melindungi perkembangbiakkan lobster, kima, dan teripang di sejumlah titik di pesisir Pulau Batanta. Sejumlah biota tersebut baru boleh diburu dan ditangkap saat pembukaan sasi di masa mendatang. Tradisi ini diharapkan bisa menjadi langkah mitigasi melindungi ekosistem agar tetap lestari.
Pesisir Raja Ampat memang memiliki ekosistem yang kaya, dari hutan mangrove, padang lamun, hingga terumbu karang. Bayangkan, 75 persen dari seluruh spesies terumbu karang di dunia, yang menjadi rumah bagi lebih dari 1.500 spesies ikan, ada di wilayah ini. Dengan peran krusial masing-masing, ketiganya saling terkoneksi untuk menjaga ekosistem lingkungan hidup laut dan pesisir agar tetap sehat dan lestari.
Sayangnya, dalam sebuah studi, tak sedikit masyarakat lokal Raja Ampat menyebut bahwa ketiga ekosistem tersebut mengalami penurunan atau kerusakan. Sumbernya dari penambangan bahan bangunan, penggunaan bom penangkap ikan, penangkapan ikan secara ilegal, dan penebangan kayu mangrove untuk konstruksi.
Bagi sejumlah peneliti pariwisata, era perdagangan di Raja Ampat—khususnya periode awal 2000-an—mengubah relasi antara manusia dan laut yang awalnya setara menjadi asimetris. Ada perubahan cara pandang yang akhirnya menempatkan manusia sebagai superior dan laut sebagai inferior, demi perputaran ekonomi.
Mitigasi Melindungi Ekologi Pesisir
Bagi Konstan, salah satu cara untuk memperbaiki relasi manusia dengan laut di Raja Ampat adalah memastikan aktivitas ekonomi selaras dengan kelestarian alam. Di mata para pegiat pariwisata Raja Ampat, ekosistem laut dan pesisir yang sehat adalah tulang punggung bagi ekonomi pariwisata tetap berputar. Jika ekosistem rusak, tak akan ada lagi pariwisata di Raja Ampat dan banyak masyarakat lokal akan kehilangan sumber penghidupan.
“Sebelum adanya pariwisata, orang tua kami sudah hidup dari laut dan hidup dari hutan. Dan adanya pariwisata, memperkuat lagi. Apalagi pariwisata dengan perspektif lokal, yang harus menjaga lingkungan hidup,” kata Konstan.
Di banyak tempat di Indonesia, masyarakat adat menjadi garda terdepan dalam upaya melindungi lingkungan hidup. Berabad-abad mereka hidup berdampingan dengan alam: mengambil dan memberi secukupnya agar lingkungan hidup tetap terjaga. Itu artinya, negara perlu melindungi masyarakat adat. Walau Rancangan Undang-Undang (RUU) Masyarakat Adat mandek sejak diusulkan pada 2009, sejumlah inisiatif pemerintah daerah untuk mengakui wilayah adat perlu diapresiasi. Salah satu program WRI Indonesia juga berkolaborasi dengan banyak pihak untuk memastikan masyarakat adat mendapat pengakuan atas wilayah adatnya.
Konstan belajar dari keyakinan para leluhurnya bahwa ekosistem di Raja Ampat bak relasi keluarga: laut adalah mama, hutan dan darat adalah bapak, serta wilayah pesisir adalah anaknya. Semuanya saling menjaga satu sama lain. Masyarakat yang hidup di wilayah pesisir percaya bahwa semua ekosistem tersebut saling bergantung dan akan berakhir buruk jika kelestariannya terabaikan.
“Salah satu saja hilang, hancur, pasti tidak akan seimbang. Suatu saat akan terjadi hal-hal yang tidak pernah kita minta atau yang pernah kita pikirkan sebelumnya,” tambahnya. “Akhirnya sekarang terjadi global warming, climate change, menandakan dunia tidak stabil. Banyak [ekosistem] yang rusak.”
Ia yakin bahwa apa yang dilakukan bapaknya, Leo, belasan tahun silam bertaruh nyawa, tak lain dan tak bukan, adalah upaya untuk menjaga kelestarian laut dan pesisir Raja Ampat demi generasi setelahnya. Laut dan pesisir yang sehat adalah titipan antar generasi. Dalam keyakinan masyarakat adat, membiarkan kerusakan alam adalah dosa besar.
Sesekali tatapan Konstan terlihat kosong, dengan sedikit air mata mengalir, sepanjang setengah jam obrolan kami membahas sosok yang oleh sebagian orang dijuluki “Sang Pahlawan Konservasi”.
“Bapa saya bilang, jika kami tidak jaga alam hari ini, alam akan mati, kami akan mati, anak-anakku juga akan mati.”[]
***
Semua bahan cerita dalam naskah ini diambil dari kunjungan ke Pulau Dayan dan wawancara dengan Konstan secara terpisah pada 10 dan 16 Juni 2025, kecuali sumber lain yang terlampir dalam hiperteks. Publikasi cerita ini merupakan bagian dari penyebaran pengetahuan untuk publik mengenai peran masyarakat adat dalam menjaga kelestarian ekosistem laut dan pesisir.