Asia Tenggara merupakan salah satu kawasan dengan sumber daya alam terkaya di dunia. Kawasan ini merupakan rumah bagi 15% hutan tropis dunia, 35% terumbu karang, dan 25 juta hektare lahan gambut. Sayangnya, dengan 660 juta penduduk yang jumlahnya terus bertumbuh, urbanisasi yang pesat, dan perkembangan industri yang tinggi, kondisi ekosistem alami di kawasan ini justru semakin terancam. Permasalahan utamanya antara lain penggundulan hutan, polusi, hilangnya keanekaragaman hayati, dan dampak perubahan iklim, seperti kenaikan permukaan laut dan cuaca ekstrem.

Luas tutupan hutan alam Asia Tenggara tahun 2020 mencapai 266,3 juta hektare, dengan 15% bagiannya merupakan fragmen hutan kecil berukuran di bawah 30 ribu hektare.  Menurut Rodriguez, V. A., dkk. (2022), fragmen hutan kecil ini tetap berperan penting dalam upaya konservasi habitat keanekaragaman hayati. Wilayah tersebut merupakan tempat  pergerakan dan tempat tinggal bagi banyak spesies hutan. Bahkan, terdapat temuan bahwa populasi orang utan masih dapat dijumpai di hutan terdegradasi, termasuk fragmen hutan berukuran kecil. Hal ini mengindikasikan hutan, meskipun sudah menjadi fragmen-fragmen kecil, masih memiliki peran yang amat penting bagi keberlangsungan fungsi ekologi.

Sayangnya, fragmen hutan kecil merupakan lanskap yang rentan terhadap ancaman deforestasi. Terlebih lagi menurut sebuah studi,  selain Amerika Tengah, Afrika Barat, dan Madagaskar, daratan Asia Tenggara juga merupakan salah satu wilayah dengan laju fragmentasi hutan yang tinggi. Selain dipicu oleh peristiwa cuaca ekstrem, aktivitas penebangan liar, serta perluasan lahan pertanian di kawasan lindung menjadi kontributor utama terhadap hilangnya konektivitas hutan. Oleh karena itu, keterlibatan masyarakat lokal melalui praktik konservasi berkelanjutan menjadi strategi kunci dalam melindungi dan mengelola fragmen hutan kecil secara lebih efektif.

Potensi Investasi Hijau dari Alam yang Lestari

Apabila dikelola dengan baik, tutupan hutan alam Asia Tenggara dapat mendatangkan investasi hijau melalui Solusi Berbasis Alam (Nature-based Solutions/NbS). Pendekatan ini mencakup tindakan untuk melindungi, mengelola secara berkelanjutan, dan memulihkan ekosistem alami atau yang telah dimodifikasi guna menghadapi tantangan sosial secara efektif dan adaptif, sekaligus memberikan manfaat bagi kesejahteraan manusia dan keanekaragaman hayati (IUCN, 2016).

NbS mendukung pembangunan berkelanjutan dengan menjaga kesejahteraan manusia, nilai-nilai budaya, serta meningkatkan ketahanan ekosistem dari degradasi. Pendekatan ini memastikan ekosistem dapat pulih melalui intervensi tepat dan terus memberikan manfaat jangka panjang (penyediaan jasa ekosistem). Bukti lebih lanjut menunjukan bahwa NbS dapat mengurangi keparahan perubahan iklim sebesar 26%. Berbagai inisiatif NbS yang berfokus pada perlindungan hutan di Asia Tenggara juga berpeluang dalam menghasilkan titik impas (break-even point/BEP) secara finansial dalam jangka waktu 30 tahun yang setara dengan 27,5 miliar USD per tahun.

Selain itu, NbS berperan dalam menekan biaya ekonomi akibat perubahan iklim, yang pada 2030 di negara berkembang diperkirakan mencapai 402–805 miliar USD per tahun, dan akan meningkat menjadi 1,2–2,4 triliun USD pada 2050. Penerapan NbS dapat menghemat biaya ini lebih dari 104 miliar USD pada 2030 dan 393 miliar USD pada 2050. Dengan demikian, NbS tidak hanya memberikan manfaat untuk mengurangi akibat krisis iklim, tetapi juga berdampak pada keanekaragaman hayati dan masyarakat, sehingga memberikan tiga manfaat sekaligus (triple-benefit) bagi manusia, alam, dan iklim.

Perlunya Meningkatkan Kapasitas Masyarakat Lokal

Sayangnya, potensi yang besar ini belum diimbangi dengan sumber daya yang memadai. Pendanaan proyek NbS saat ini masih didominasi oleh korporasi yang tertarik pada perdagangan karbon, sedangkan organisasi nonpemerintah yang bekerja langsung di lapangan (frontline organizations/FOs) jarang mendapat dukungan. Pendekatan NbS juga dipahami secara beragam oleh berbagai pihak, sehingga menimbulkan kebingungan dan kurangnya koordinasi. Tantangan lainnya meliputi kapasitas kelembagaan yang terbatas, lamanya proses pemulihan ekosistem, serta lemahnya sistem monitoring, reporting, and verification (MRV). Kompleksitas metodologi, pembiayaan riset awal, minimnya ahli geospasial dan ekologi, serta keterbatasan akses terhadap data, pasar, dan pembeli menjadi hambatan utama bagi FOs dalam mengembangkan inisiatif NbS.

Publikasi C. G. Mitincu, dkk. (2023) menekankan pentingnya keterlibatan pemangku kepentingan melalui Social Network Analysis (SNA) untuk mengintegrasikan NbS dalam perencanaan lingkungan. Negara dengan aktor beragam, seperti pemerintah pusat dan lokal, bisnis, masyarakat, serta akademisi, menunjukkan potensi inovasi dan peningkatan implementasi NbS. Keterlibatan aktif organisasi nonpemerintah dan investor lokal dapat memperkuat penerimaan NbS di tingkat pemerintah. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas dan kolaborasi antara FOs dan korporasi menjadi kunci dalam memperkuat implementasi NbS ke depan. Oleh karena itu, meningkatkan kapasitas dan kerja sama FOs dengan korporasi sebagai investor adalah kunci untuk memperkuat realisasi inisiatif NbS ke depan.

Jadi, apa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kerja sama tersebut?

SCeNe Coalition, Kolaborasi Multipihak untuk Memaksimalkan Potensi NbS di Asia Tenggara

Dalam upaya mempercepat dan meningkatkan investasi pada proyek NbS berkualitas tinggi yang menghasilkan triple-benefit, WRI Indonesia bersama delapan organisasi konservasi nirlaba lainnya di Asia Tenggara berkolaborasi untuk membentuk Southeast Asia Climate and Nature-based Solutions (SCeNe) Coalition. Dengan latar belakang keahlian dan pengalaman yang berbeda dari para anggotanya, koalisi ini bertujuan untuk menampilkan proyek NbS berkualitas, mengarahkan pendanaan karbon dan pendanaan iklim lainnya, mempercepat pelaksanaan NbS berintegritas tinggi, serta memastikan manfaatnya bagi alam, iklim, dan masyarakat.

nbs-cycle-image.png
Tiga alur kerja utama SCeNe Coalition. 
Kredit: SCeNe Coalition.

Dampak triple-benefit seperti pengurangan karbon, perlindungan, dan pemanfaatan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan diharapkan dapat diukur dan diverifikasi. SCeNe Coalition juga berupaya memberdayakan komunitas lokal dan masyarakat adat dengan memperkuat hak dan ketahanan mereka terhadap perubahan iklim. Untuk itu, koalisi mengembangkan tiga alur kerja utama: NbS Tool, NbS Incubator, dan NbS Portfolio.

NbS Tool dikembangkan untuk mendukung FOs dapat menyediakan data dasar yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan, evaluasi, dan dokumentasi inisiatif NbS. Tool ini juga dapat berperan dalam analisis dan penyajian lokasi kepada investor dengan menentukan area inisiatif NbS yang spesifik.

NbS Incubator akan membantu FOs dalam mempersiapkan, merancang, dan mengimplementasikan praktik terbaik inisiatif NbS. Bersama NbS Portfolio, NbS Incubator akan menyediakan dukungan teknis yang meliputi data ilmiah, manajemen proyek yang baik, teknologi, akses ke pendanaan, serta pengembangan bisnis FOs selama berbagai tahap pengembangan inisiatif proyek. Nantinya, NbS Portfolio akan memamerkan inisiatif-inisiatif NbS yang berkualitas tinggi dengan triple-benefit menghubungkannya kepada pendanaan iklim dan permintaan pasar.

SCeNe Coalition masih akan terus melakukan pembaruan dalam implementasi inisiatif NbS, termasuk dalam hal data dan informasi, teknologi, pendampingan teknis, serta penambahan pendanaan awal. Untuk memenuhi standar karbon yang ada, NbS Tool akan diperkaya dengan layer spasial dalam mengukur dampak dari intervensi yang dilakukan terhadap alam, iklim, dan masyarakat lokal, meningkatkan akurasi pemodelan spasial, serta peringatan deforestasi mendekati waktu sebenarnya. Pembaruan juga akan mencakup peningkatan layer data untuk beberapa negara di Asia Tenggara, penambahan fitur, serta pengembangan infrastruktur sistem untuk memperluas otomatisasi data dan informasi yang digunakan oleh NbS Incubator.

Selanjutnya, NbS Incubator akan mempersiapkan dan mengembangkan model uji coba pelaksanaan inkubator di Asia Tenggara dengan pendanaan awal. Setelah model ini beroperasi, NbS Incubator akan menambahkan jumlah FOs dan proyek NbS baru. Langkah ini bertujuan untuk memungkinkan FOs berpartisipasi dan mendapatkan manfaat dari pasar karbon dan inisiatif NbS. Inisiatif ini diharapkan meningkatkan kepercayaan investor dan pembeli kredit karbon terhadap proyek NbS yang diinkubasi di Asia Tenggara, sehingga menarik investasi sektor swasta untuk inisiatif NbS yang memberikan manfaat triple-benefit dalam mitigasi perubahan iklim di kawasan tersebut.
 

Featured WRI Experts:
Mila Khaerunnisa Rizqiani -

Nature-based Solutions (NbS) Financing Research Analyst